Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang sangat agung. Ia mengabarkan bahwa Allah Maha Kaya dan tidak butuh kepada sekutu atau mitra dalam ibadah. Jika seseorang melakukan suatu amal ibadah dengan niat yang tidak murni karena Allah, tetapi juga karena ingin dipuji manusia (riya'), maka Allah akan menolak amal tersebut dan tidak menerimanya. Amal itu akan menjadi sia-sia dan pelakunya akan mendapatkan kerugian di akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks hadits yang Anda berikan adalah shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, Bab Man Asyraka fi 'Amalihi Ghairallah (Siapa yang Menyekutukan dalam Amalannya dengan Selain Allah), nomor hadits 2985.
Penjelasan Ulama:
Hadits ini adalah salah satu dalil paling tegas tentang bahaya riya' (pamer) dalam ibadah. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal yang dicampuri dengan niat karena selain Allah (seperti riya' atau sum'ah) adalah amal yang bathil dan tidak diterima. Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan amal yang dinodai dengan syirik kecil ini. (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/214).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa makna "Aku meninggalkannya dan sekutunya" adalah Allah tidak menerima amal tersebut dan tidak memberikan pahala kepadanya. Amal itu tidak akan naik kepada Allah. (Ibnu Taimiyyah, Majmu' al-Fatawa, 1/89).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat yang memerintahkan ikhlas dan melarang riya' (seperti QS. Al-Bayyinah [98]: 5) memiliki makna yang sama dengan hadits ini. Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. (As-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 931).
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah hadits Qudsi, yaitu firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan makna dari Allah. Ada beberapa poin penting dalam hadits ini:
- "Aku adalah Yang tidak memerlukan mitra (sekutu)": Ini menunjukkan sifat Allah yang Maha Kaya (Al-Ghani). Allah tidak butuh kepada siapapun dan apapun. Sebaliknya, seluruh makhluk butuh kepada-Nya. Oleh karena itu, ibadah yang dilakukan kepada-Nya haruslah murni hanya untuk-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun.
- "Jika seseorang melakukan sesuatu di mana ia menyekutukan orang lain dengan-Ku": Maksudnya adalah seseorang melakukan amal ibadah (seperti shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur'an) tetapi niatnya tidak murni karena Allah. Ia ingin agar manusia melihat, memuji, atau menghormatinya. Inilah yang disebut riya' (pamer) atau syirik kecil (asy-syirk al-ashghar).
- "Maka Aku akan meninggalkannya bersama orang yang ia sekutukan dengan Allah": Ini adalah ancaman yang sangat keras. Allah tidak akan menerima amal tersebut. Pahala amalnya tidak akan diberikan kepadanya. Amalnya menjadi sia-sia seperti debu yang berterbangan. Di akhirat nanti, ia akan disuruh meminta pahala kepada orang yang ia cari perhatiannya di dunia, padahal mereka tidak bisa memberikan apa-apa.
Pendapat Ulama tentang Tingkatan Riya':
Para ulama, seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, membagi riya' menjadi beberapa tingkatan:
- Riya' murni: Seseorang beribadah hanya karena ingin dipuji manusia. Ini adalah amal yang paling jelas tertolak.
- Riya' yang bercampur: Awalnya niat karena Allah, tetapi kemudian muncul keinginan untuk dipuji. Jika keinginan itu dilawan dan tidak diikuti, maka amalnya tidak batal. Namun jika ia merasa senang dengan pujian itu dan terus melanjutkan amalnya karena pujian itu, maka amalnya bisa menjadi rusak.
- Riya' yang samar: Ini adalah yang paling halus dan sulit dideteksi, seperti seseorang yang memperlama shalatnya karena ada orang yang melihatnya, atau memperindah suara bacaannya.
Kesimpulan dari Penjelasan:
Hadits ini adalah peringatan keras agar kita senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Sebaik apapun amal seseorang, jika ada sedikit saja niat untuk selain Allah, maka amal itu akan ditolak. Oleh karena itu, para salafus shalih sangat takut dengan riya'. Mereka berusaha menyembunyikan amal-amal mereka agar tidak diketahui orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan dari Fudail bin 'Iyadh (w. 187 H), seorang ulama besar tabi'ut tabi'in yang terkenal zuhud dan wara'. Beliau berkata tentang makna firman Allah "supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya" (QS. Al-Mulk [67]: 2). Beliau berkata, "Maksudnya adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar." Para sahabatnya bertanya, "Wahai Abu Ali, apa itu amal yang paling ikhlas dan paling benar?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya amal itu jika ikhlas tetapi tidak benar (sesuai sunnah), maka tidak diterima. Dan jika benar tetapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Hingga amal itu menjadi ikhlas dan benar. Ikhlas adalah karena Allah semata, dan benar adalah sesuai dengan sunnah." (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam Syu'ab al-Iman).
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya dua syarat diterimanya amal: ikhlas (niat hanya karena Allah) dan mutaba'ah (sesuai tuntunan Nabi ﷺ). Hadits di atas menekankan syarat yang pertama, yaitu ikhlas. Tanpa keikhlasan, amal yang benar sekalipun akan tertolak.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan Setiap Amal Hanya Karena Allah: Sebelum melakukan amal kebaikan apapun, perbarui niat dan ingatkan diri bahwa kita hanya mengharap ridha Allah.
- Jauhi Riya' dalam Segala Bentuk: Berhati-hatilah dengan keinginan untuk dipuji, dihormati, atau dilihat oleh manusia. Sembunyikan amal shalih sebisa mungkin, kecuali jika ada maslahat yang lebih besar seperti mengajarkan orang lain.
- Banyak Berdoa Mohon Keikhlasan: Mintalah kepada Allah agar diberi hati yang ikhlas. Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah: "Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astaghfiruka lima la a'lam." (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui). (HR. Ahmad, shahih).
- Pelajari Ilmu tentang Niat: Semakin dalam ilmu kita tentang ikhlas dan riya', semakin mudah kita menjaganya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.