Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan sangat sederhana, tidak ada makanan di rumah beliau kecuali sedikit jelai (gandum/barley) di rak milik Aisyah رضي الله عنها. Ini menunjukkan kezuhudan beliau yang luar biasa, dan juga mengandung pelajaran tentang keberkahan rezeki yang sedikit serta pentingnya tidak bersikap berlebihan dalam mengukur/menghitung nikmat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd war-Raqa'iq, no. 2973, dari Aisyah رضي الله عنها:
> تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَمَا فِي رَفِّي مِنْ شَىْءٍ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ شَطْرُ شَعِيرٍ فِي رَفٍّ لِي فَأَكَلْتُ مِنْهُ حَتَّى طَالَ عَلَىَّ فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ
Terjemahan: "Rasulullah ﷺ wafat sedangkan di rak milikku tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan oleh makhluk yang memiliki hati (yakni makhluk hidup) kecuali sedikit jelai di rak milikku. Aku memakannya dalam waktu yang lama, hingga ketika aku menakarnya (menimbangnya), maka jelai itu pun habis."
Ayat terkait — QS. Al-Ahzab [33]: 28:
> يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا
Terjemahan: "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah, aku akan memberikan kepadamu mut'ah (bekal) dan aku lepaskan kamu dengan cara yang baik.'"
Ayat ini menjadi dasar bahwa Nabi ﷺ dan keluarganya memilih kesederhanaan dan akhirat, bukan kemewahan dunia.
Hadits pendukung — Shahih Muslim, dari Aisyah رضي الله عنها juga, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut dengan roti gandum hingga beliau wafat. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه).
Kaitan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil kezuhudan Nabi ﷺ dan keluarganya, serta anjuran untuk tidak menumpuk harta.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa sedikitnya makanan Nabi ﷺ di akhir hayatnya.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif dan kitab-kitab zuhudnya menekankan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ adalah teladan bagi umat.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Aisyah رضي الله عنها mengabarkan bahwa saat Rasulullah ﷺ wafat, di rumah beliau tidak ada makanan yang layak dikonsumsi makhluk hidup kecuali sedikit jelai (شَعِير) yang disimpan di rak. Ini bukan berarti beliau kelaparan terus-menerus tanpa makanan sama sekali, tetapi menunjukkan bahwa beliau tidak menyimpan persediaan makanan yang banyak, tidak menumpuk harta, dan hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa.
Pelajaran tentang keberkahan:
Aisyah رضي الله عنها memakan jelai itu dalam waktu yang lama — ini menunjukkan keberkahan (barakah) pada makanan yang sedikit. Namun ketika beliau mulai mengukurnya (menimbangnya), jelai itu pun habis. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini mengandung pelajaran: jangan terlalu sibuk menghitung-hitung nikmat dengan angka, karena bisa menghilangkan keberkahan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa menakar/menghitung secara berlebihan bisa mengurangi rasa syukur dan tawakal.
Kezuhudan Nabi ﷺ:
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya tentang zuhud menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan tertinggi dalam zuhud. Beliau bisa saja meminta kekayaan, tetapi beliau memilih sederhana karena dunia bukan tujuan beliau. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena beliau sengaja memilih akhirat di atas dunia.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama memahami "شَطْرُ شَعِير" sebagai "segenggam jelai" atau "sedikit jelai". Ada juga yang memahami bahwa ini menunjukkan makanan pokok paling sederhana pada masa itu. Namun intinya sama: Nabi ﷺ wafat dalam keadaan tidak memiliki persediaan makanan yang banyak.
Yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa hadits ini menunjukkan kezuhudan Nabi ﷺ secara nyata, dan menjadi pelajaran bagi umat agar tidak berlebihan dalam mengejar dunia.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ yang paling beliau cintai — hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Beliau pernah mengisahkan bahwa kadang hanya ada sedikit makanan di rumah, dan beliau sendiri harus mengatur agar cukup untuk beberapa waktu. Suatu ketika, beliau menyimpan sedikit jelai di rak. Beliau memakannya sedikit demi sedikit dalam waktu yang lama, dan makanan itu terasa cukup. Namun ketika beliau mulai menghitung dan menakarnya, jelai itu pun habis.
Hikmah: Ini mengajarkan bahwa keberkahan sering kali ada pada sesuatu yang tidak kita hitung-hitung secara berlebihan. Rasa syukur dan tawakal kepada Allah membawa keberkahan, sedangkan terlalu sibuk menghitung dan mengukur bisa menghilangkan barakah. (Kisah ini disebutkan dalam Shahih Muslim dan dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim).
Kesimpulan Praktis
- Teladani kezuhudan Nabi ﷺ — hidup sederhana, tidak menumpuk harta, dan tidak berlebihan dalam mengejar dunia.
- Syukuri rezeki yang sedikit — keberkahan ada pada rasa syukur, bukan pada banyaknya harta.
- Jangan terlalu sibuk menghitung nikmat — fokuslah pada syukur dan tawakal, bukan pada angka.
- Ajarkan kesederhanaan kepada keluarga — sebagaimana Nabi ﷺ dan Aisyah رضي الله عنها hidup sederhana.
- Ingat akhirat — dunia adalah tempat singgah, bukan tujuan akhir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.