Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan seorang mukmin yang memiliki tiga sifat: bertakwa kepada Allah, merasa cukup (kaya hati) dengan apa yang dimiliki, dan menyembunyikan diri dari kemasyhuran serta gemerlap dunia. Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu memilih hidup sederhana di tengah untanya, menjauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, karena ia memahami bahwa kemuliaan di sisi Allah bukanlah dengan jabatan atau popularitas, melainkan dengan ketakwaan yang tersembunyi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, no. 2965, dari sahabat Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu.
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "الْغَنِيّ" (kaya) dalam hadits ini adalah kaya hati (al-ghina al-qalb), yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan dan tidak tamak kepada apa yang ada di tangan manusia. Ini sejalan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hadits ini. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hadits ini menggabungkan tiga pilar kebaikan:
- At-Taqwa (التقوى) - Yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik yang tampak maupun tersembunyi. Ini adalah pangkal segala kebaikan.
- Al-Ghina (الغنى) - Bukan sekadar kaya harta, tetapi kaya hati yang membuat seseorang tidak butuh kepada makhluk. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menegaskan bahwa kekayaan hati inilah yang menjadikan seseorang merasa cukup dan tidak hina di hadapan manusia karena urusan dunia.
- Al-Khufyah (الخفاء) - Yaitu menyembunyikan diri dari kemasyhuran. Ini bukan berarti tidak boleh dikenal sama sekali, tetapi yang dimaksud adalah tidak mencari-cari popularitas, tidak gila jabatan, dan tidak senang dipuji. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa orang yang "khafi" adalah orang yang tidak dikenal di tengah manusia, tetapi dikenal di langit. Ia sibuk dengan urusan akhiratnya dan tidak sibuk mencari ketenaran.
Kisah dalam hadits ini sangat menarik. Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, seorang panglima perang yang ditakuti musuh, dan salah satu dari enam anggota musyawarah pemilihan khalifah yang ditunjuk Umar bin Khattab. Namun ketika terjadi perselisihan dan perebutan kekuasaan setelah wafatnya Utsman bin Affan, beliau justru memilih mengasingkan diri bersama unta dan kambingnya di pinggiran Madinah. Putranya, Umar, merasa heran mengapa ayahnya yang begitu mulia tidak ikut dalam kancah politik. Maka Sa'd menjawab dengan hadits ini.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sikap Sa'd ini adalah bentuk pengamalan langsung dari sabda Nabi ﷺ. Sa'd memahami bahwa fitnah perebutan kekuasaan pada masanya sangat berbahaya, dan ia memilih selamat dalam agama daripada terlibat dalam perselisihan yang bisa menodai ketakwaannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan anjuran untuk berperan dalam kemaslahatan umat. Yang dilarang adalah mencari kemasyhuran dan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Adapun jika seseorang diberi amanah dan ia mampu menjaganya dengan baik, maka itu adalah kebaikan. Namun jika ia khawatir agamanya akan rusak karena jabatan, maka menjauh adalah lebih utama.
Story Telling
Ada kisah indah tentang Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang mencerminkan makna hadits ini. Ketika beliau diuji dengan fitnah penciptaan Al-Qur'an pada masa Khalifah Al-Ma'mun, beliau tetap teguh mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah. Namun setelah fitnah itu berlalu dan beliau menjadi sangat terkenal, banyak orang berbondong-bondong datang menuntut ilmu kepadanya.
Suatu hari, sebagian muridnya melihat Imam Ahmad duduk sendirian di suatu tempat yang sepi. Beliau berkata kepada mereka: "Aku lebih suka berada di tempat yang tidak dikenal orang. Sungguh, aku lebih senang jika Allah menyembunyikan diriku dari manusia, sebagaimana Dia menyembunyikan kebaikan-kebaikanku." (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Manaqib Al-Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).
Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu dan ketakwaan seseorang, semakin ia merasa tidak butuh kepada pujian manusia. Ia cukup dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui amalnya.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Perbanyak amal tersembunyi - seperti sedekah rahasia, shalat malam, dan puasa sunnah yang tidak perlu dipublikasikan. Ini lebih dekat kepada keikhlasan.
- Jaga hati dari cinta pujian - jangan jadikan popularitas sebagai tujuan. Jika Allah memberi ketenaran, maka jadikan itu sebagai amanah untuk berdakwah, bukan untuk berbangga diri.
- Rasa cukup dengan pemberian Allah - jangan tamak kepada dunia dan jangan iri dengan kenikmatan orang lain. Kekayaan hati adalah kunci kebahagiaan.
- Utamakan keselamatan agama di atas jabatan - jika suatu posisi atau jabatan dikhawatirkan akan merusak agama, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih utama.
- Bertakwalah dalam keadaan sendiri maupun ramai - karena Allah Maha Melihat segala amal kita, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.