Penjelasan Hadits Muslim No. 2963 tentang Nasihat melihat yang lebih rendah agar bersyukur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah obat penenang hati yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau mengajarkan kita sebuah resep praktis agar terhindar dari penyakit hasad (iri hati) dan merasa tidak puas dengan nikmat Allah. Caranya sederhana: jika engkau melihat orang yang lebih kaya atau lebih tampan darimu, segera alihkan pandanganmu kepada orang yang berada di bawahmu dalam hal harta dan fisik. Dengan begitu, engkau akan menyadari betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, dan hatimu pun menjadi tenang serta bersyukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, no. 2963, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Dan janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir), sebagai bunga kehidupan dunia yang Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha [20]: 131)

Ayat ini turun sebagai petunjuk bagi Nabi ﷺ, dan secara umum menjadi pelajaran bagi seluruh umatnya agar tidak silau dengan kemewahan dunia orang lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bimbingan Nabi ﷺ yang sangat dalam untuk menjaga kesehatan hati dan keimanan seseorang.

1. Makna "al-khalq" (الْخَلْقِ) dalam hadits:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kata "al-khalq" di sini maknanya adalah bentuk fisik dan rupa (al-khalqah). Jadi, hadits ini mencakup dua hal: harta (al-mal) dan keindahan fisik atau bentuk tubuh (al-khalq). Ini adalah penafsiran yang masyhur dari para ulama.

2. Hikmah di balik perintah ini:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa penyakit hasad dan iri hati muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang yang berada di atasnya. Ini akan melahirkan perasaan kurang puas, gelisah, dan bahkan bisa mengingkari nikmat Allah. Maka Nabi ﷺ memberikan terapi yang sangat efektif: lihatlah ke bawah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa jika seseorang melihat orang yang lebih miskin atau lebih menderita darinya, maka ia akan menyadari bahwa dirinya masih jauh lebih baik. Ini akan menumbuhkan syukur dan mencegah kekufuran nikmat.

3. Penerapan para ulama:

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu obat terbesar untuk penyakit hasad. Beliau menjelaskan bahwa hasad muncul dari perasaan bahwa nikmat hanya ada pada orang lain, padahal nikmat Allah sangat luas dan tidak terhitung.

4. Apakah ini berarti kita tidak boleh bercita-cita tinggi?

Tentu tidak. Hadits ini mengajarkan kita untuk melihat ke bawah dalam urusan dunia, tetapi dalam urusan akhirat, kita diperintahkan untuk melihat ke atas. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim, dari Abu Hurairah juga). Ini menunjukkan bahwa dalam hal dunia, kita harus merasa cukup, tetapi dalam hal ibadah dan ketaatan, kita harus terus berlomba-lomba.

5. Perhatian pada kesehatan mental:

Hadits ini juga menunjukkan perhatian besar Islam terhadap kesehatan mental dan psikologis seseorang. Dengan mengikuti petunjuk ini, seorang muslim akan terhindar dari stres, depresi, dan perasaan tidak berharga yang sering muncul akibat membandingkan diri dengan orang lain yang lebih beruntung secara duniawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama Salaf sangat menjaga hatinya dari penyakit hasad. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Tidaklah seorang hamba melihat kepada orang yang berada di atasnya dalam urusan dunia, melainkan ia akan binasa." Maksudnya, perbuatan itu akan merusak hati dan membuatnya tidak bersyukur.

Ada juga kisah tentang seorang lelaki yang mengeluh kepada gurunya tentang kemiskinannya dan merasa iri kepada tetangganya yang kaya raya. Gurunya berkata kepadanya: "Apakah engkau memiliki dua mata?" Ia menjawab, "Ya." Gurunya berkata, "Apakah engkau memiliki dua tangan dan dua kaki?" Ia menjawab, "Ya." Gurunya berkata, "Maka mengapa engkau bersedih karena kehilangan harta, sementara engkau memiliki nikmat yang lebih besar darinya?" Lelaki itu pun tersadar dan bersyukur.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa nikmat Allah yang paling besar bukanlah harta, melainkan kesehatan, iman, dan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Latih hatimu untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia. Jika melihat orang yang lebih kaya atau lebih tampan, segera ingat orang-orang yang lebih miskin atau kurang beruntung darimu.
  2. Perbanyak syukur atas nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Setiap kali merasa kurang, hitunglah nikmat Allah yang ada padamu.
  3. Jangan biarkan hasad tumbuh di hatimu, karena ia akan memakan amal kebaikan seperti api memakan kayu bakar.
  4. Dalam urusan akhirat, jangan pernah merasa cukup. Teruslah berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan, karena itulah keuntungan yang sejati.
  5. Amalkan doa ini: "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa yang Engkau halalkan dari apa yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu." (HR. At-Tirmidzi, dari Ali bin Abi Thalib)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?