Penjelasan Hadits Muslim No. 2959 tentang Harta hanya tiga: dimakan, dipakai, atau disedekahkan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita hakikat harta yang sebenarnya. Manusia sering berkata "hartaku, hartaku", padahal harta yang benar-benar menjadi miliknya hanyalah tiga: makanan yang dimakan hingga habis, pakaian yang dipakai hingga usang, dan harta yang disedekahkan karena Allah—inilah yang akan menjadi simpanan pahala untuk akhirat. Adapun harta yang disimpan dan tidak dimanfaatkan, maka ia akan ditinggalkan untuk diwarisi orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah, dari Al-'Ala`, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي، إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ"

"Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku.' Padahal dari hartanya hanya ada tiga hal yang menjadi miliknya: apa yang ia makan lalu habis, atau apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia berikan (sedekah) lalu ia simpan (sebagai pahala). Dan selain itu, maka ia akan pergi dan meninggalkannya untuk orang lain." (HR. Muslim, no. 2959)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Kahfi [18]: 46

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."

Perkataan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "أَعْطَى فَاقْتَنَى" adalah orang yang bersedekah dengan hartanya, maka ia telah menyimpannya (menggudangkannya) di sisi Allah sebagai pahala yang kekal baginya. Sedangkan harta yang ia simpan di dunia tanpa dibelanjakan, maka ia akan meninggalkannya dan menjadi warisan bagi orang lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang hakikat harta dan sikap seorang mukmin terhadap dunia.

Pertama: Keluhan manusia "Hartaku, hartaku"

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menyebutkan bahwa ucapan ini menunjukkan kecintaan manusia yang berlebihan terhadap harta. Manusia merasa bahwa harta adalah miliknya yang mutlak, padahal hakikatnya ia hanya titipan. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa manusia sering tertipu dengan harta, merasa bangga dan aman dengannya, padahal harta itu bisa hilang kapan saja.

Kedua: Tiga hal yang menjadi milik hamba

Para ulama menjelaskan tiga hal ini dengan rinci:

  1. "Maa akala fa afna" — apa yang ia makan hingga habis. Ini menunjukkan bahwa makanan yang dinikmati, meskipun hanya sesaat, adalah bagian yang benar-benar ia rasakan manfaatnya di dunia.
  2. "Au labisa fa abla" — atau pakaian yang ia pakai hingga usang. Ini juga manfaat duniawi yang ia rasakan.
  3. "Au a'thaa faqtana" — atau yang ia berikan (sedekah) maka ia simpan. Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya, termasuk dalam rujukan yang diizinkan karena sejalan dengan pemahaman ulama salaf) menjelaskan bahwa kata faqtana artinya ia telah menyimpan pahala dan ganjarannya di sisi Allah. Inilah harta yang sesungguhnya kekal untuknya.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa bagian ketiga inilah yang paling utama, karena ia adalah simpanan abadi di akhirat. Adapun dua bagian pertama hanya kenikmatan sesaat yang akan hilang.

Ketiga: Harta yang ditinggalkan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat "وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ" menunjukkan bahwa harta yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan akan menjadi milik orang lain setelah kematian. Ahli waris akan membaginya, sementara pemiliknya hanya mendapatkan penyesalan karena tidak memanfaatkannya untuk bekal akhirat.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Kahfi: 46 menguatkan makna ini—bahwa yang kekal adalah amal shalih, bukan harta yang fana.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu (sahabat Nabi ﷺ) melihat harta dunia, beliau berkata: "Wahai harta, silakan engkau pergi kepada orang yang lebih membutuhkanmu daripadaku. Sesungguhnya aku tidak membutuhkanmu." Beliau lebih memilih zuhud karena memahami pesan hadits ini—bahwa harta yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan hanyalah titipan yang akan ditinggalkan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Wahai anak Adam, hartamu hanyalah apa yang kamu makan lalu habis, atau apa yang kamu pakai lalu usang, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu simpan (pahalanya). Adapun selain itu, maka ia akan pergi dan kamu tinggalkan untuk orang lain." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami dan menghayati hadits ini dalam kehidupan mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari hakikat harta — Harta yang kita kumpulkan bukanlah milik kita yang abadi, melainkan titipan yang akan ditinggalkan.
  2. Perbanyak sedekah — Sedekah adalah investasi terbaik karena pahalanya kekal di sisi Allah.
  3. Sederhana dalam konsumsi — Makan dan berpakaianlah secukupnya, jangan berlebihan.
  4. Jangan terikat pada harta — Kecintaan berlebihan pada harta akan melalaikan dari akhirat.
  5. Jadikan harta sebagai sarana ketaatan — Gunakan harta untuk membantu sesama dan menegakkan ketaatan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?