Penjelasan Hadits Muslim No. 2955 tentang Jeda empat puluh antara dua tiupan sangkakala

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa antara tiupan sangkakala pertama (yang mematikan) dan tiupan kedua (yang membangkitkan) ada jeda waktu yang disebut "empat puluh" tanpa penyebutan satuannya. Yang jelas, setelah jeda itu Allah menurunkan air dari langit, lalu tubuh manusia dibangkitkan dari tulang ekor (عَجْبُ الذَّنَبِ) yang tidak hancur. Kita wajib mengimani kebangkitan ini tanpa memaksakan detail yang tidak disebutkan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Az-Zumar [39]: 68

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Terjemahan: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusan masing-masing)."

QS. Al-Hajj [22]: 7

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Terjemahan: "Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa yang di dalam kubur."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, Bab "Mā Bainan-Nafkhatain" (no. 2955), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

Hadits lain dari Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan bahwa tulang yang tidak hancur adalah عَجْبُ الذَّنَبِ (tulang ekor), dan darinya manusia disusun kembali.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa jeda antara dua tiupan sangkakala adalah "empat puluh". Ketika para sahabat bertanya apakah empat puluh hari, bulan, atau tahun, Abu Hurairah رضي الله عنه menjawab dengan kata "أَبَيْتُ" yang artinya "aku menolak (menyebutkan)" atau "aku tidak mau mengatakan". Artinya, beliau sendiri tidak mengetahui secara pasti satuannya, dan beliau tidak mau menambahkan apa yang tidak disabdakan Nabi ﷺ.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "أَبَيْتُ" menunjukkan sikap wara' (kehati-hatian) Abu Hurairah dalam menyampaikan hadits. Beliau tidak menafsirkan sesuatu yang tidak beliau ketahui secara pasti.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang satuan "empat puluh" tersebut. Sebagian mengatakan empat puluh tahun, sebagian empat puluh bulan, dan sebagian empat puluh hari. Namun yang paling selamat adalah menyerahkan maknanya kepada Allah, karena Nabi ﷺ sendiri tidak menyebutkan satuannya secara tegas.
  • Ibnu Katsir dalam an-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim menegaskan bahwa jeda ini adalah masa di mana seluruh makhluk telah mati, lalu Allah menurunkan hujan (air) yang menyebabkan tubuh manusia tumbuh kembali dari tulang ekor.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang hari akhir menjelaskan bahwa proses kebangkitan dimulai dari tulang ekor, sebagaimana hadits ini menunjukkan bahwa seluruh tubuh manusia akan hancur kecuali tulang tersebut.

Tentang عَجْبُ الذَّنَبِ (tulang ekor):

Para ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Kitab ar-Ruh dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tulang ini adalah bagian terkecil di ujung tulang belakang yang menjadi "benih" kebangkitan. Allah akan menumbuhkan kembali seluruh tubuh manusia darinya, seperti tanaman yang tumbuh dari biji.

Perbedaan pendapat:

Para ulama berbeda tentang satuan "empat puluh":

  • Sebagian (seperti yang dinukil dari Qatadah) mengatakan empat puluh tahun.
  • Sebagian lain berpendapat empat puluh bulan.
  • Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar cenderung tidak memastikan, karena Nabi ﷺ sendiri tidak menyebutkannya.

Yang paling kuat adalah pendapat yang menyerahkan detailnya kepada Allah, karena Nabi ﷺ sengaja tidak menyebutkan satuannya, dan Abu Hurairah pun menolak menafsirkannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ketika beliau menyampaikan hadits ini, para pendengar ingin mengetahui detail "empat puluh" itu. Namun beliau dengan tegas berkata "أَبَيْتُ" — aku tidak mau mengatakan. Ini menunjukkan adab seorang sahabat yang sangat menjaga keakuratan riwayat. Beliau lebih memilih diam daripada menambahkan sesuatu yang tidak beliau dengar dari Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sikap ini adalah contoh kehati-hatian (wara') yang tinggi, dan menjadi pelajaran bagi kita agar tidak menambah-nambah dalam urusan agama tanpa dalil.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada hari kebangkitan adalah bagian dari rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah akan membangkitkan manusia dari tulang ekor.
  2. Jangan memaksakan detail yang tidak disebutkan Nabi ﷺ, seperti satuan "empat puluh". Cukup kita imani bahwa jeda itu ada, dan Allah lebih mengetahui hakikatnya.
  3. Teladani sikap Abu Hurairah yang wara' dalam menyampaikan hadits — tidak menambah dan tidak mengurangi.
  4. Perbanyak amal saleh sebagai persiapan menghadapi hari kebangkitan, karena hari itu pasti terjadi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?