Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kedatangan Hari Kiamat bisa sangat dekat, bahkan dalam waktu yang tidak terduga. Rasulullah ﷺ memberi isyarat bahwa seorang anak kecil bernama Muhammad (dari kalangan Ansar) mungkin tidak akan mencapai usia tua sebelum kiamat terjadi. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah kiamat besar itu sendiri, melainkan kiamat kecil bagi generasi sahabat, yaitu kematian mereka secara berurutan. Ini menjadi peringatan agar kita tidak lengah dan selalu siap menghadapi kematian dan hari akhir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
- Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah, Bab Qurb al-Asyrath, no. 2953. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Kapan hari kiamat tiba?” Sementara di dekat beliau ada seorang anak Ansar bernama Muhammad. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنْ يَعِشْ هَذَا الْغُلاَمُ فَعَسَى أَنْ لاَ يُدْرِكَهُ الْهَرَمُ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Jika anak muda ini hidup, niscaya dia tidak akan mencapai usia tua hingga kiamat tegak (terjadi).”
Ayat Al-Qur’an yang relevan:
Allah Ta’ala berfirman:
> يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ... (QS. Al-A’raf [7]: 187)
“Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada di sisi Tuhanku; tidak ada yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.’” (Ayat ini menegaskan bahwa waktu kiamat adalah rahasia Allah, namun tanda-tandanya sudah dekat.)
Keterangan ulama:
- Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (18: 27-28) menjelaskan bahwa yang dimaksud “as-sa’ah” di sini adalah kiamat kecil, yaitu kematian generasi itu. Beliau berkata: “Maksudnya, kematian anak tersebut dan semua yang hidup di zaman itu. Karena kiamat bagi setiap orang adalah kematiannya.”
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (13: 76-77, dalam pembahasan hadits serupa dari Bukhari) mengatakan bahwa hadits ini termasuk isyarat bahwa umur umat ini pendek, dan bahwa kiamat besar akan segera terjadi setelah generasi pertama itu berlalu.
- Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2: 534) menafsirkan bahwa “as-sa’ah” di sini bisa juga berarti kiamat besar, namun anak itu akan mati sebelum tua, sehingga ia termasuk orang yang hidup di akhir zaman dekat dengan hari kiamat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4: 232) menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa kiamat bisa datang kapan saja, dan bahwa kematian seseorang adalah kiamatnya sendiri.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Anas adalah seorang sahabat yang hidup panjang dan menjadi perawi banyak hadits tentang akhir zaman. Ketika seorang laki-laki bertanya tentang waktu kiamat, Nabi ﷺ tidak menjawab secara angka, melainkan memberi isyarat dengan seorang anak muda yang hadir saat itu. Anak itu bernama Muhammad, seorang sahabat dari kalangan Ansar.
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa anak itu. Sebagian mengatakan ia adalah Muhammad bin Tsabit bin Qais, atau Muhammad bin Maslamah? Namun yang lebih masyhur ia adalah Muhammad bin Tsabit atau seorang anak yang tidak disebutkan namanya secara pasti. Yang jelas, hadits ini menjadi tanda bahwa kiamat sudah dekat, karena generasi pertama islam akan segera pergi.
Makna “as-sa’ah” (kiamat):
Dalam syarhnya, Imam An-Nawawi rahimahullah menukil pendapat ulama-ulama salaf bahwa yang dimaksud adalah kematian generasi itu. Beliau menulis: “قَوْلُهُ: حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ، قَالَ الْعُلَمَاءُ: هَذَا مِنْ عِلَامَاتِ النُّبُوَّةِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ السَّاعَةَ الَّتِي هِيَ مَوْتُ الْقَرْنِ الَّذِي هُمْ فِيهِ، أَيْ مَوْتُهُمْ وَانْقِرَاضُهُمْ” – artinya: “Ini termasuk tanda kenabian; maknanya bahwa kiamat itu adalah kematian generasi yang mereka berada di dalamnya, yaitu kematian mereka dan berakhirnya generasi mereka.”
Maka maksudnya: anak kecil ini beserta semua orang yang hidup pada masa itu tidak akan mencapai usia tua sebelum Bani Israil atau umat-umat sebelumnya selesai, atau sebelum datangnya kiamat besar bagi mereka (kematian). Ini sesuai dengan sabda beliau ﷺ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» (aku diutus dan kiamat seperti dua jari ini). Artinya, jarak antara diutusnya Nabi dengan kiamat sangat pendek.
Tafsir lain:
Sebagian ulama, seperti Ibn Rajab, membolehkan penafsiran bahwa yang dimaksud adalah kiamat besar, namun anak itu akan hidup hingga melihat tanda-tanda besar seperti munculnya Dajjal atau Ya’juj Ma’juj. Namun Ibn Hajar dan mayoritas berpendapat lebih kuat kepada penafsiran pertama, karena kenyataan sejarah menunjukkan bahwa generasi itu (para sahabat) tidak sampai berusia sangat panjang, kecuali beberapa seperti Anas, namun mereka tetap wafat dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah peristiwa itu.
Hikmah:
Hadits ini menanamkan rasa khauf (takut) kepada Allah, karena manusia tidak tahu kapan ajalnya. Anak yang masih kecil bisa mati sebelum dewasa, dan yang tua pun bisa mati kapan saja. Oleh karena itu, kita harus selalu bertaubat dan tidak menunda amal shalih.
Story Telling (Opsional)
Kisah yang terkait dengan hadits ini adalah tentang Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang hidup hingga usia sangat lanjut (lebih dari 100 tahun). Beliau sering mengatakan bahwa generasi yang mendengar langsung hadits ini telah tiada, dan ia sendiri nyaris tidak percaya masih hidup hingga melihat zaman fitnah. Namun yang menarik, anak yang ditunjuk oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini (Muhammad bin Tsabit atau Muhammad bin Maslamah) wafat di masa pemerintahan Khalifah Utsman atau Ali radhiyallahu ‘anhuma, masih dalam usia relatif muda. Ini membuktikan bahwa kiamat kecil (kematian mereka) memang segera datang.
Diriwayatkan bahwa setelah mendengar hadits ini, orang-orang menjadi semakin takut dan bersegera dalam ketaatan. Anas berkata: “Kami tidak mengetahui Rasulullah ﷺ memberikan kabar tentang sesuatu yang dekat kecuali setelah peristiwa itu terjadi.”
Kesimpulan Praktis
- Jangan menunda taubat dan amal shalih, karena kematian bisa datang kapan saja, bahkan di usia muda.
- Waspadai waktu yang berlalu, karena setiap detik bisa menjadi akhir umur kita.
- Jadikan pertanyaan tentang kiamat sebagai motivasi untuk beribadah, bukan perdebatan waktu yang sia-sia.
- Renungkan bahwa umat ini sudah sangat tua, sebagaimana isyarat hadits bahwa sejak generasi pertama hingga kini hanyalah bagaikan jarak antara dua jari. Maka tinggalkan kesibukan dunia yang melalaikan akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.