Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2949 tentang Kiamat hanya terjadi pada orang-orang jahat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah dunia dipenuhi oleh manusia-manusia yang paling buruk akhlak dan agamanya. Kaum mukmin yang tersisa akan diwafatkan lebih dahulu dengan angin lembut, sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang mengucapkan nama Allah. Inilah tanda bahwa dunia sudah tidak layak lagi untuk ditinggali kebaikan, dan Kiamat pun datang kepada seburuk-buruk manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-A'raf [7]: 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Terjemahan: "Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Hadits terkait:

Hadits riwayat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, dalam Shahih Muslim no. 2949 (Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah):

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ

"Tidak akan terjadi Kiamat kecuali atas orang-orang yang jahat."

Hadits pendukung dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, juga dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah akan mengirim angin lembut yang mencabut nyawa setiap mukmin, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang jahat, dan kepada merekalah Kiamat terjadi.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa menjelang Kiamat, kebaikan akan diangkat, orang-orang shalih diwafatkan, dan yang tersisa adalah manusia paling buruk. Kiamat datang kepada mereka sebagai bentuk keadilan Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah salah satu tanda besar Kiamat, yaitu diangkatnya orang-orang beriman sebelum terjadinya hari akhir.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa ini adalah pelajaran agar kita selalu menjaga iman dan ketakwaan, karena bisa jadi kita hidup di zaman ketika kebaikan semakin sedikit.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat senior Nabi ﷺ dan ahli tafsir Al-Qur'an. Sanadnya melalui Syu'bah bin al-Hajjaj, seorang perawi yang sangat teliti, lalu sampai kepada Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

Makna hadits ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim: bahwa sebelum Kiamat terjadi, Allah akan mewafatkan seluruh orang beriman dengan cara yang lembut, yaitu melalui angin yang baik. Setelah tidak ada lagi orang yang beriman, yang tersisa hanyalah manusia-manusia jahat. Kepada merekalah Kiamat terjadi. Ini menunjukkan bahwa Kiamat bukanlah hukuman bagi orang beriman, melainkan bagi orang-orang yang telah menolak kebenaran dan berbuat kerusakan.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika membahas ayat-ayat tentang tanda-tanda Kiamat menjelaskan bahwa salah satu tanda besar adalah diangkatnya ilmu dan orang-orang shalih, sehingga yang tersisa hanyalah kebodohan dan kejahatan. Ini sejalan dengan hadits ini.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hadits ini bukan berarti Kiamat hanya terjadi pada orang jahat secara mutlak, tetapi menunjukkan bahwa pada saat Kiamat terjadi, tidak ada lagi orang beriman di muka bumi. Orang-orang beriman telah diwafatkan sebelumnya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Allah tidak akan membiarkan dunia ini berjalan tanpa ada orang yang menyembah-Nya. Ketika sudah tidak ada lagi orang yang mengucapkan "Allah", maka dunia tidak lagi memiliki nilai di sisi-Nya, dan Kiamat pun terjadi.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali menekankan aspek hikmah, bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang beriman, karena mereka tidak akan mengalami dahsyatnya Kiamat. Sedangkan Ibnu Hajar lebih menekankan aspek tanda Kiamat. Keduanya tidak bertentangan, dan yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: Kiamat terjadi setelah orang beriman diwafatkan, dan ini adalah bentuk keadilan sekaligus kasih sayang Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah akan mengirim angin yang lebih lembut dari sutra, yang akan mencabut nyawa setiap mukmin dan muslim. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang jahat, dan kepada merekalah Kiamat terjadi."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menceritakan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tanda-tanda Kiamat, dan salah satu jawabannya adalah bahwa Kiamat tidak akan terjadi sampai tidak ada lagi orang yang mengucapkan "Allah, Allah" di muka bumi. Ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan orang-orang beriman di dunia ini, karena merekalah yang menjadi sebab keberkahan dan penundaan azab.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa keberadaan orang-orang shalih di tengah masyarakat adalah rahmat. Ketika mereka diangkat, maka tidak ada lagi yang menahan azab. Maka hendaknya kita berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang beriman dan bertakwa, agar kita tidak termasuk dalam golongan yang tersisa saat Kiamat terjadi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga iman dan takwa — Karena Kiamat hanya terjadi pada orang-orang jahat, maka kita harus berusaha menjadi orang beriman yang diwafatkan sebelum Kiamat.
  2. Perbanyak amal shalih — Amal shalih adalah bekal kita, dan juga menjadi sebab keberkahan bagi masyarakat.
  3. Jangan tertipu dengan kehidupan dunia — Dunia ini akan berakhir, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang jauh dari Allah.
  4. Ajak kebaikan dengan lembut — Karena kita tidak tahu kapan kita diwafatkan, maka sebarkan kebaikan selama masih diberi kesempatan.
  5. Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan beriman — Sebagaimana doa Nabi Yusuf dalam Al-Qur'an: "Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi