Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda besar hari kiamat, ada dua tanda yang saling beriringan dan menjadi awal mula terjadinya perubahan besar di alam semesta, yaitu terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Dabbah (binatang melata). Keduanya terjadi berurutan dalam waktu yang berdekatan. Setelah dua peristiwa ini terjadi, pintu taubat akan tertutup, dan keimanan seseorang yang belum beriman tidak lagi bermanfaat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits yang Anda sampaikan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, Bab Khubur Ad-Dajjal..., no. 2941, dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
"Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya." (QS. Al-An'am [6]: 158)
Ayat ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa setelah munculnya tanda-tanda besar (seperti terbitnya matahari dari barat), pintu taubat tertutup. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "sebagian tanda-tanda Tuhanmu" dalam ayat ini adalah terbitnya matahari dari barat, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 18, hlm. 28) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan urutan dua tanda besar tersebut. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa keduanya adalah tanda-tanda besar yang pertama kali muncul, dan setelahnya pintu taubat tertutup.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "Awwal Al-Ayat" (Tanda Pertama)
Yang dimaksud dengan "tanda pertama" di sini adalah tanda-tanda besar yang menunjukkan dekatnya hari kiamat secara pasti, bukan tanda-tanda kecil yang telah banyak muncul. Imam Al-Qurthubi (walaupun tidak termasuk dalam daftar rujukan, penjelasannya senada dengan ulama lain) dan para ulama lainnya membagi tanda-tanda kiamat menjadi dua: tanda kecil dan tanda besar. Tanda-tanda kecil seperti diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, wafatnya beliau, penaklukan Baitul Maqdis, dan lainnya. Adapun tanda-tanda besar adalah yang disebutkan dalam hadits ini dan hadits-hadits lain, seperti Dajjal, turunnya Isa 'alaihis salam, Ya'juj dan Ma'juj, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah.
2. Urutan Kedua Tanda Tersebut
Hadits ini menyebutkan bahwa jika salah satu dari dua tanda itu terjadi lebih dulu, maka tanda yang lain akan mengikutinya dalam waktu yang berdekatan. Ini menunjukkan bahwa keduanya adalah dua tanda yang berurutan dan berdekatan waktunya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Al-Arba'in dan Syarah Lum'ah Al-I'tiqad menjelaskan bahwa urutan pasti antara keduanya tidak diketahui secara pasti, namun yang jelas keduanya terjadi berurutan dan berdekatan.
3. Hikmah Kedekatan Waktu Keduanya
Kedekatan waktu antara terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Dabbah menunjukkan bahwa setelah terjadinya salah satunya, maka dunia akan segera berubah total. Ini adalah peringatan bagi manusia agar tidak menunda taubat. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya (QS. Al-An'am: 158) menjelaskan bahwa setelah tanda-tanda besar ini muncul, maka segala bentuk usaha untuk beriman atau bertaubat tidak lagi diterima, karena hal itu sudah menjadi keimanan yang terpaksa (melihat dengan mata kepala sendiri), bukan keimanan yang lahir dari keyakinan dan pilihan.
4. Keluarnya Dabbah
Para ulama berbeda pendapat tentang bentuk dan sifat Dabbah ini. Namun, yang jelas ia adalah makhluk nyata yang Allah ciptakan dan keluarkan dari bumi. Ia akan berbicara kepada manusia. Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dalam An-Nihayah menjelaskan bahwa Dabbah akan keluar dan memberi tanda (membekas) di wajah manusia, sehingga orang mukmin dan kafir dapat dibedakan. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Naml [27]: 82.
5. Terbitnya Matahari dari Barat
Ini adalah peristiwa yang melanggar hukum alam yang telah Allah tetapkan. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak. Setelah peristiwa ini, pintu taubat tertutup. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (Kitab Riqaq, Bab Tanda-Tanda Kenabian) menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang terbitnya matahari dari barat mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan banyak jalur), dan ini adalah keyakinan yang wajib diimani oleh setiap muslim.
Story Telling
Dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu, beliau adalah seorang sahabat yang sangat rajin menuntut ilmu dan menghafal hadits. Beliau dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dalam hadits ini, beliau berkata, "Saya menghafal dari Rasulullah ﷺ sebuah hadits yang tidak akan saya lupakan setelahnya."
Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menjaga ilmu. Mereka sangat antusias mendengar sabda Nabi ﷺ dan berusaha keras untuk menghafalnya. Abdullah bin 'Amr bahkan dikenal karena kebiasaannya menulis hadits, dan Rasulullah ﷺ mengizinkannya untuk menulis, sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud. Ini adalah bukti bahwa menjaga ilmu adalah bagian dari menjaga agama.
Hikmah dari kisah ini: Kita sebagai umat Islam hendaknya bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu tentang tanda-tanda hari kiamat, agar kita semakin dekat kepada Allah dan semakin siap menghadapi hari akhir.
Kesimpulan Praktis
- Wajib mengimani bahwa terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Dabbah adalah tanda-tanda besar hari kiamat yang pasti terjadi.
- Segera bertaubat dan tidak menunda-nunda amal kebaikan, karena pintu taubat akan tertutup setelah tanda-tanda besar ini muncul.
- Menjauhi sikap meremehkan tanda-tanda kiamat dan tidak tenggelam dalam urusan dunia semata.
- Meneladani semangat sahabat dalam menghafal dan menjaga ilmu agama.
- Mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal shalih, karena kita tidak tahu kapan kematian atau kiamat akan datang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.