Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa seluruh nabi telah memperingatkan umatnya tentang Dajjal, sosok pendusta besar yang matanya buta (a'war). Ciri utamanya: matanya satu/buta, sedangkan Allah tidaklah demikian. Di antara kedua matanya tertulis "kafir" yang bisa dibaca oleh setiap mukmin. Hadits ini mengajarkan kita untuk mengenali ciri-ciri Dajjal agar tidak tertipu, dan menegaskan bahwa Allah Maha Sempurna, tidak menyerupai makhluk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan).
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema fitnah besar dan peringatan para nabi, di antaranya:
QS. Al-Anbiya' [21]: 87
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: 'Bahwa tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi selalu mengingatkan umatnya dan berlindung kepada Allah dari kesulitan, sebagaimana mereka memperingatkan tentang Dajjal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Setiap Nabi Memperingatkan Tentang Dajjal
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang nabi pun yang tidak memperingatkan umatnya tentang Dajjal yang satu mata." Ini menunjukkan betapa besarnya fitnah Dajjal, sehingga semua nabi mengingatkan umatnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para nabi memperingatkan tentang Dajjal karena fitnahnya adalah fitnah terbesar yang akan terjadi di akhir zaman. Setiap nabi menyampaikan peringatan ini kepada umatnya sesuai dengan zamannya.
2. Ciri Utama: A'war (Buta Satu Mata)
Kata "a'war" berarti buta pada satu mata. Dajjal memiliki cacat pada matanya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mata Dajjal yang buta itu seperti anggur yang mengapung, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. Namun yang paling penting, Rasulullah ﷺ menegaskan: "Ketahuilah, dia adalah satu mata dan Tuhanmu tidaklah satu mata." Ini adalah penegasan tauhid yang sangat penting—Allah Maha Sempurna, tidak memiliki cacat, tidak menyerupai makhluk.
3. Tulisan "Kafir" di Dahinya
Rasulullah ﷺ bersabda: "Di dahinya tertulis huruf kaf, fa, ra (Kafir)." Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tulisan ini adalah tanda nyata yang bisa dibaca oleh setiap mukmin, baik yang bisa membaca maupun yang buta huruf. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami tulisan ini sebagai tulisan yang hakiki (benar-benar tertulis), dan sebagian lain memahaminya sebagai tanda yang Allah letakkan sehingga mukmin dapat mengenalinya. Yang jelas, mukmin akan mengetahui kekafiran Dajjal melalui tanda ini.
4. Kaitan dengan Tauhid
Hadits ini menegaskan prinsip tauhid yang sangat mendasar: Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. Dajjal memiliki cacat (buta satu mata), sedangkan Allah Maha Sempurna. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa mengenal Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya adalah benteng utama dari fitnah Dajjal. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar, tidak akan tertipu oleh Dajjal.
5. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Para ulama dalam daftar rujukan sepakat tentang ciri-ciri Dajjal yang disebutkan dalam hadits ini. Perbedaan hanya pada detail teknis, seperti apakah tulisan "kafir" itu hakiki atau maknawi. Imam an-Nawawi meriwayatkan kedua pendapat dan tidak memberatkan salah satunya, karena keduanya menunjukkan bahwa mukmin akan mengenali Dajjal. Yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa tulisan itu hakiki, karena hadits ini menggunakan redaksi yang jelas ("maktub" = tertulis).
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ berbicara kepada para sahabat tentang fitnah-fitnah besar yang akan terjadi. Beliau menyebutkan tentang Dajjal dengan penuh perhatian, karena beliau sangat mengkhawatirkan umatnya dari fitnah ini. Para sahabat bertanya dengan cemas, dan Rasulullah ﷺ menjelaskan ciri-cirinya dengan sangat rinci agar mereka dan umat setelah mereka dapat mengenalinya.
Dalam riwayat lain, Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang keburukan yang akan datang, dan beliau menjelaskan tentang Dajjal sebagai fitnah terbesar. Para sahabat memahami bahwa peringatan ini adalah bentuk kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya, sebagaimana para nabi sebelumnya juga memperingatkan umat mereka.
Hikmahnya: Para nabi adalah pemberi peringatan yang penyayang. Mereka tidak hanya menyampaikan kabar baik, tetapi juga memperingatkan tentang bahaya agar umatnya selamat. Kita hendaknya mengambil pelajaran dari peringatan ini dengan memperkuat iman dan tauhid, karena hanya dengan mengenal Allah dengan benar kita dapat terhindar dari fitnah Dajjal.
Kesimpulan Praktis
- Perkuat Tauhid: Kenali Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dajjal memiliki cacat, sedangkan Allah Maha Sempurna. Ini adalah benteng utama dari fitnah.
- Kenali Ciri-Ciri Dajjal: Pelajari hadits-hadits tentang Dajjal agar tidak tertipu. Ciri utamanya: buta satu mata, dan tertulis "kafir" di antara kedua matanya.
- Jauhi Fitnah: Berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal, sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ dalam doa-doa beliau.
- Perbanyak Iman dan Amal Saleh: Iman yang kuat dan amal saleh adalah pelindung dari segala fitnah, termasuk fitnah Dajjal.
- Sebarkan Ilmu: Sampaikanlah peringatan ini kepada keluarga dan kaum muslimin, sebagaimana para nabi menyampaikan peringatan kepada umatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.