Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang pertemuan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dengan Ibnu Shayyad, seorang laki-laki yang di zaman Nabi ﷺ diduga kuat sebagai Dajjal. Ketika Ibnu Umar mencoba menguji atau memancingnya dengan perkataan, Ibnu Shayyad marah besar hingga tubuhnya membengkak dan memenuhi jalan. Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu 'anha kemudian menegur Ibnu Umar, mengingatkan bahwa Dajjal (atau sifatnya) itu muncul dari kemarahan yang sangat dahsyat. Pelajaran utamanya adalah kita tidak boleh mencoba-coba atau memprovokasi hal-hal yang berkaitan dengan fitnah Dajjal, karena hal itu di luar batas kemampuan dan tidak bermanfaat, bahkan bisa berbahaya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, Bab Dzikri Ibni Shayyad, no. 2932. Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra' [17]: 36)
Ayat ini menunjukkan larangan untuk mendalami atau mencoba-coba hal-hal yang tidak jelas dan tidak bermanfaat, seperti menguji Ibnu Shayyad yang merupakan perkara ghaib dan fitnah.
Kaitan dengan penjelasan ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, di antaranya Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengingkari kemungkaran dan berbicara kepada orang yang diduga Dajjal, namun dengan tetap menjaga adab dan tidak memprovokasi hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah lebih besar. Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas kisah Ibnu Shayyad ini secara panjang lebar, dan menyimpulkan bahwa para sahabat berbeda sikap dalam menghadapinya, namun yang terbaik adalah menjauhi dan tidak memperdulikannya, karena urusan Dajjal adalah urusan ghaib yang hanya Allah yang tahu hakikatnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting:
- Kisah Ibnu Shayyad: Ibnu Shayyad adalah seorang pemuda Yahudi dari Madinah yang mengaku sebagai Nabi dan juga dituding sebagai Dajjal oleh sebagian sahabat. Nabi ﷺ sendiri pernah menguji dan berbicara dengannya, namun beliau tidak menegaskan apakah dia Dajjal atau bukan. Para sahabat berbeda sikap; sebagian seperti Ibnu Umar mencoba mengujinya, sebagian lain seperti Hafshah radhiyallahu 'anha memilih untuk tidak mempedulikannya.
- Larangan Memprovokasi Fitnah: Teguran Hafshah kepada Ibnu Umar menunjukkan bahwa memprovokasi atau mencoba-coba hal yang berkaitan dengan Dajjal adalah perbuatan yang tidak bermanfaat dan bisa membahayakan. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna perkataan Hafshah adalah, "Bukankah engkau tahu bahwa Dajjal itu tidak akan keluar kecuali disebabkan oleh kemarahan yang sangat besar?" Ini adalah isyarat bahwa memancing kemarahan Ibnu Shayyad bisa menjadi pemicu munculnya fitnah Dajjal, dan ini adalah perkara yang sangat ditakuti.
- Menjaga Diri dari Hal yang Tidak Bermanfaat: Sikap yang benar terhadap perkara-perkara ghaib seperti Dajjal adalah beriman secara global bahwa Dajjal akan keluar di akhir zaman, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari fitnahnya, terutama dalam shalat (ta'awwudz). Kita tidak perlu menyelidiki secara detail atau mencoba mencari tahu siapa Dajjal itu sekarang, karena hal itu tidak akan menambah keimanan kita dan bisa menjerumuskan ke dalam kebingungan.
- Adab Terhadap Ulama dan Keluarga Nabi: Hadits ini juga menunjukkan bahwa para sahabat saling menasihati dalam kebaikan. Hafshah radhiyallahu 'anha, sebagai bibi Ibnu Umar (saudara perempuan Aisyah, istri Nabi ﷺ), menegurnya dengan lembut dan penuh kasih sayang ("Semoga Allah merahmatimu"). Ini adalah contoh adab dalam memberikan nasihat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menyebutkan bahwa kisah Ibnu Shayyad ini adalah salah satu bukti bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara ghaib secara mutlak, dan bahwa para sahabat pun tidak diperintahkan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal seperti ini. Yang diperintahkan hanyalah beriman dan berlindung dari fitnah Dajjal.
Story Telling
Ada kisah yang sangat masyhur tentang bagaimana Nabi ﷺ sendiri pernah menguji Ibnu Shayyad. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
"Kami pernah bepergian bersama Nabi ﷺ, lalu kami melewati seorang anak laki-laki (Ibnu Shayyad). Maka Nabi ﷺ memanggilnya, dan anak itu pun mendatanginya. Nabi ﷺ bersabda kepadanya: 'Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?' Anak itu menjawab: 'Tidak, tetapi aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang yang buta huruf.' Kemudian anak itu bertanya: 'Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.' Lalu Nabi ﷺ bertanya: 'Apa yang engkau lihat?' Anak itu menjawab: 'Aku didatangi oleh seorang yang jujur dan seorang pendusta.' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Urusanmu telah menjadi kacau (tidak jelas) bagimu.'" (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menegaskan status Ibnu Shayyad, dan bahkan menganggap urusannya kacau dan tidak jelas. Ini adalah pelajaran bahwa kita tidak perlu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak jelas dan tidak bermanfaat.
Kesimpulan Praktis
- Beriman secara global bahwa Dajjal akan keluar di akhir zaman, dan kita diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya setiap selesai tasyahhud akhir dalam shalat.
- Tidak menyibukkan diri dengan mencari tahu identitas Dajjal atau mencoba-coba hal-hal yang berkaitan dengannya, karena itu adalah perkara ghaib yang tidak bermanfaat untuk diketahui.
- Menjaga lisan dan perbuatan dari memprovokasi fitnah atau kemungkaran yang lebih besar. Jika kita melihat kemungkaran, kita ingkari sesuai kemampuan, namun dengan hikmah dan tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar.
- Meneladani adab para sahabat dalam saling menasihati dengan lembut dan penuh kasih sayang, serta menerima nasihat dengan lapang dada.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.