Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan tanda-tanda besar sebelum Kiamat: kehancuran kekuasaan Persia (Kisra) dan Romawi (Kaisar), serta datangnya masa berat ketika seseorang melewati kuburan orang lain dan berangan-angan ingin menggantikannya karena beratnya musibah dan fitnah yang menimpanya. Ini semua adalah kabar kenabian yang sudah terbukti dan menjadi peringatan agar kita berpegang teguh pada agama, bersabar, dan tidak berangan-angan mati karena keluh kesah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, dari sahabat Jabir bin Samurah رضي الله عنه. Imam Muslim menyebutkan bahwa sisa hadits ini sama persis dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Adapun hadits dari Abu Hurairah yang dimaksud, di dalamnya Nabi ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِذَا هَلَكَ كِسْرَى فَلَا كِسْرَى بَعْدَهُ، وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
Terjemahan: "Jika Kisra binasa, tidak ada Kisra setelahnya; jika Kaisar binasa, tidak ada Kaisar setelahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh harta-harta keduanya akan dibelanjakan di jalan Allah." (HR. Muslim)
Dan bagian yang menjadi judul bab ini, yaitu sabda Nabi ﷺ:
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ»
Terjemahan: "Tidak akan terjadi Kiamat hingga seseorang melewati kuburan orang lain lalu berkata: 'Duhai, seandainya aku berada di tempatnya (yakni sudah mati dan dikubur).'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan beratnya fitnah dan ujian:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
QS. Al-Baqarah [2]: 155
Terjemahan: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kenabian (dalil nubuwwah), karena apa yang dikabarkan Nabi ﷺ tentang runtuhnya Kisra dan Kaisar benar-benar terjadi. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa kehancuran Kisra dan Kaisar adalah isyarat berakhirnya dua kekuatan besar yang menentang Islam. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang fitnah menjelaskan bahwa beratnya zaman akhir membuat seseorang berangan-angan mati, namun syariat melarang berangan-angan mati karena keluhan.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna "Kisra" dan "Kaisar".
Kisra adalah gelar raja Persia, sedangkan Kaisar adalah gelar raja Romawi. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kekuasaan Persia dan Romawi akan hancur, dan tidak akan ada lagi Kisra maupun Kaisar setelahnya. Ini adalah kabar gaib yang terbukti: Persia ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada masa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, dan Romawi terus melemah hingga akhirnya runtuh. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah mencatat peristiwa-peristiwa ini sebagai bukti kebenaran kenabian.
Kedua: Makna "melewati kuburan dan berangan-angan mati".
Ini adalah gambaran beratnya fitnah di akhir zaman. Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa seseorang berangan-angan mati bukan karena benci kehidupan, tetapi karena begitu beratnya ujian, kekacauan, dan penindasan yang menimpa agama dan kehormatannya, sehingga ia merasa mati lebih ringan. Ibnu Hajar menambahkan bahwa ini terjadi ketika fitnah merajalela, kebenaran tertindas, dan seseorang tidak lagi mampu membela agamanya.
Ketiga: Hukum berangan-angan mati.
Para ulama dalam daftar kita sepakat bahwa berangan-angan mati karena keluh kesah dan musibah dunia adalah terlarang. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan hadits lain:
«لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي»
Terjemahan: "Janganlah salah seorang dari kalian berangan-angan mati karena musibah yang menimpanya. Jika memang harus, hendaklah ia berkata: 'Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama membolehkan berangan-angan mati ketika fitnah agama merajalela, berdasarkan kisah sebagian salaf. Namun Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menguatkan bahwa yang lebih utama adalah bersabar dan memohon kepada Allah agar diberi kehidupan yang baik atau kematian yang baik, bukan berangan-angan mati secara mutlak. Ini yang paling kuat menurut dalil.
Keempat: Pelajaran aqidah.
Hadits ini menegaskan bahwa Kiamat pasti terjadi dan tanda-tandanya telah disebutkan Nabi ﷺ. Ibn Taymiyyah dalam al-Aqidah al-Wasithiyyah menegaskan wajibnya beriman kepada tanda-tanda Kiamat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam an-Nuniyyah menyebutkan bahwa kabar-kabar Nabi ﷺ tentang masa depan adalah bukti kenabian yang tidak terbantahkan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ menyebutkan tentang kehancuran Kisra dan Kaisar, sebagian orang munafik meragukannya karena Persia dan Romawi saat itu adalah dua kekuatan terbesar di dunia. Namun Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه membenarkan kabar itu tanpa ragu. Tidak lama kemudian, terbukti benar: Persia hancur di masa Umar bin al-Khaththab, dan harta Kisra dibawa ke Madinah. Ibnu Katsir menceritakan bahwa ketika mahkota Kisra dan permadani kerajaannya dibawa ke Madinah, Umar رضي الله عنه menangis dan berkata: "Sungguh, suatu kaum yang mendapatkan ini telah meninggalkan amanah." Hikmahnya: kabar Nabi ﷺ pasti benar, dan kita wajib membenarkannya meski belum melihatnya.
Kesimpulan Praktis
- Beriman kepada tanda-tanda Kiamat sebagai bagian dari aqidah, karena disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
- Bersabar menghadapi fitnah dan tidak berangan-angan mati karena keluh kesah; ucapkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Memperbanyak amal saleh dan menjaga agama ketika zaman semakin berat.
- Membenarkan kabar Nabi ﷺ sebagai bukti keimanan dan keyakinan bahwa janji Allah pasti terjadi.
- Tidak takut kepada kekuatan dunia, karena kekuasaan Kisra dan Kaisar pun hancur, sedangkan agama Allah tetap tegak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.