Penjelasan Hadits Muslim No. 2915 tentang Tanda kiamat: kelompok durhaka membunuh Ammar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ tentang syahidnya sahabat mulia, Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu. Beliau ﷺ memberitahukan bahwa Ammar akan dibunuh oleh "firqah baghiyah" (kelompok yang durhaka/melampaui batas). Hadits ini menjadi salah satu tanda kenabian yang terbukti dalam peristiwa Perang Shiffin, di mana Ammar terbunuh di pihak Ali bin Abi Thalib, dan yang membunuhnya adalah pasukan Mu'awiyah. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini tidak boleh disalahpahami untuk mencela Mu'awiyah atau pasukannya secara berlebihan, karena mereka adalah sahabat yang memiliki keutamaan dan telah berijtihad, namun ijtihad mereka keliru dalam peristiwa tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda cantumkan sudah benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, Bab "La Taqumu As-Sa'ah..." No. 2915, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an terkait larangan memerangi sesama muslim:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۗ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujurat [49]: 9)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna "firqah baghiyah" dalam hadits ini dan bagaimana para ulama memahaminya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini secara panjang lebar ketika menjelaskan riwayat-riwayat yang semakna dari Shahih Al-Bukhari.
  • Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya (No. 2812) dari Abu Sa'id Al-Khudri dengan lafazh berbeda namun makna sama.

Penjelasan Rinci

Latar Belakang Hadits

Hadits ini terjadi pada peristiwa Perang Khandaq (Ahzab) di tahun 5 Hijriyah. Saat itu kaum muslimin menggali parit mengelilingi Madinah atas usulan Salman Al-Farisi. Rasulullah ﷺ membagi para sahabat untuk menggali, dan Ammar bin Yasir termasuk yang bekerja keras. Ketika itu, Rasulullah ﷺ melihat Ammar yang kelelahan, lalu mengusap kepalanya dan mengucapkan kabar ghaib tersebut.

Makna "Firqah Baghiyah"

Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "al-firqah al-baghiyah" artinya kelompok yang durhaka dan melampaui batas, yaitu kelompok yang memerangi Imam yang sah tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa yang dimaksud adalah pasukan Mu'awiyah yang memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma.

Namun perlu dipahami dengan sangat hati-hati. Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "baghiyah" di sini bermakna mereka yang keluar dari ketaatan kepada imam yang sah, bukan berarti mereka kafir atau fasik secara mutlak. Beliau menegaskan bahwa para sahabat yang terlibat dalam Perang Shiffin, baik di pihak Ali maupun Mu'awiyah, adalah orang-orang yang memiliki keutamaan besar. Mereka semua berijtihad, namun ijtihad sebagian mereka keliru.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa Perang Shiffin adalah fitnah besar yang Allah tutup dengan kebaikan. Beliau menegaskan bahwa kita tidak boleh mencela salah satu pihak secara berlebihan, karena mereka semua adalah sahabat yang telah dijanjikan surga oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang benar di antara mereka mendapat pahala ijtihad, dan yang keliru mendapat satu pahala karena ijtihadnya, namun dosanya diampuni Allah karena keutamaan mereka sebagai sahabat.

Pelajaran dari Hadits

  1. Bukti kenabian Muhammad ﷺ — Beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi, dan terbukti terjadi puluhan tahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar utusan Allah yang diberi wahyu.
  2. Keutamaan Ammar bin Yasir — Beliau termasuk sahabat yang mendapat kabar gembira syahid. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda: "Ammar bersama kebenaran, ke mana pun ia berputar." (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
  3. Adab terhadap para sahabat — Kita tidak boleh mencela sahabat yang terlibat dalam fitnah besar ini. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang Perang Shiffin, beliau menjawab dengan tenang: "Itu adalah darah yang Allah bersihkan darinya pedang-pedang kami, maka janganlah kami kotori lisan-lisan kami dengannya."
  4. Bahaya perpecahan umat — Hadits ini mengingatkan kita bahwa perselisihan di kalangan umat bisa berujung pada pertumpahan darah. Kita harus berusaha menjaga persatuan dan menjauhi segala bentuk perpecahan.

Peringatan dari Kesalahpahaman

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dijadikan alat untuk mencela Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu. Beliau menjelaskan bahwa Mu'awiyah adalah sahabat Nabi ﷺ dan penulis wahyu. Peristiwa Shiffin adalah ijtihad yang keliru, namun Allah telah mengampuni para sahabat secara umum dan memerintahkan kita untuk tidak memperpanjang pembicaraan tentang perselisihan mereka.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Perang Shiffin berkecamuk, Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu berperang di barisan Ali bin Abi Thalib. Beliau yang saat itu sudah berusia lanjut tetap maju dengan penuh semangat. Ketika beliau terbunuh, berita itu sampai kepada Mu'awiyah. Maka berkatalah salah seorang di dekatnya: "Ammar telah terbunuh." Mu'awiyah menjawab dengan tenang: "Ammar dibunuh oleh orang-orang yang membawanya ke medan perang." — Maksudnya, Ali-lah yang membawa Ammar ke medan perang, sehingga secara lahiriah Ali yang menyebabkan kematiannya.

Mendengar perkataan ini, Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma berdiri dan berkata: "Berhentilah engkau dari perkataan ini! Sungguh aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Yang membunuh Ammar adalah kelompok yang durhaka.'"

Maka Mu'awiyah pun terdiam dan tidak melanjutkan perdebatan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa para sahabat mengetahui hadits ini, namun mereka tetap bersikap bijaksana dan tidak saling menghancurkan. Mereka semua adalah orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ dan berusaha menegakkan kebenaran menurut pemahaman mereka masing-masing.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa Nabi ﷺ adalah benar-benar utusan Allah — Kabar ghaib beliau tentang Ammar terbukti nyata, ini menguatkan iman kita.
  2. Jangan mencela para sahabat — Mereka semua memiliki keutamaan dan telah berijtihad. Kita diperintahkan untuk menahan lisan dari membicarakan perselisihan mereka.
  3. Ambil pelajaran tentang bahaya perpecahan — Fitnah yang menimpa umat Islam di masa lalu harus menjadi pelajaran bagi kita untuk menjaga persatuan dan ukhuwah.
  4. Jadikan hadits ini sebagai penguat cinta kepada para sahabat — Mereka adalah generasi terbaik yang telah berkorban untuk agama ini.
  5. Jika ditanya tentang Perang Shiffin — Jawablah sebagaimana jawaban Imam Ahmad: "Itu adalah darah yang Allah bersihkan darinya pedang-pedang kami, maka janganlah kami kotori lisan-lisan kami dengannya."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?