Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu tanda besar sebelum Kiamat: akan terjadi peperangan melawan suatu kaum yang ciri fisiknya disebutkan Nabi ﷺ, yaitu wajah mereka lebar seperti perisai yang dipalu (dipukul hingga rata dan keras), dan mereka memakai sandal dari rambut. Para ulama memahaminya sebagai kabar gaib yang pasti terjadi, sekaligus isyarat tentang sifat keras dan kuatnya kaum tersebut. Tugas kita bukan menebak-nebak siapa mereka dengan pasti, tetapi mengambil pelajaran: bersiap dengan iman, ilmu, dan amal, serta tidak ghuluw dalam menyikapi tanda-tanda Kiamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, dari jalur Sufyan bin 'Uyainah (salah satu ulama dalam daftar) dari az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri, tabi'in dalam daftar) dari Sa'id bin al-Musayyib (tabi'in dalam daftar) dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ
Terjemahan: "Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu kaum yang wajah mereka seperti perisai yang dipalu, dan Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu kaum yang sandal mereka dari rambut."
Ayat yang relevan tentang tanda Kiamat dan kewajiban bersiap:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
QS. Al-Isra' [17]: 59
"Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda (kebesaran Kami) itu melainkan untuk menakut-nakuti (manusia)."
Juga firman Allah:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
QS. Al-Qamar [54]: 1
"Telah dekat (datangnya) Kiamat dan telah terbelah bulan."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits-hadits fitan (tanda Kiamat) secara panjang, dan menegaskan bahwa semua kabar Nabi ﷺ tentang tanda Kiamat adalah benar dan pasti terjadi, meski waktunya tidak diketahui. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits-hadits serupa dan menekankan pentingnya memahami tanda-tanda ini sebagai peringatan, bukan bahan spekulasi.
Penjelasan Rinci
Makna "wajah seperti perisai yang dipalu" (الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ):
Al-Majan adalah bentuk jamak dari mijan, yaitu perisai. Al-Muthraqah berarti yang dipalu atau ditempa, sehingga permukaannya lebar, rata, dan keras. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah gambaran wajah yang lebar dan bulat, dengan tulang pipi yang menonjol, kulit yang tebal, sehingga menyerupai perisai yang ditempa. Sebagian ulama menjelaskan ini sebagai ciri bangsa yang bermata kecil, berwajah lebar, dan berkulit tebal — ciri yang dalam beberapa riwayat lain dijelaskan sebagai bangsa Turki atau bangsa-bangsa dari arah timur.
Makna "sandal dari rambut" (نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ):
Yaitu sandal yang terbuat dari rambut atau bulu, bukan kulit. Ini menunjukkan kebiasaan berpakaian suatu kaum yang berbeda dari kebiasaan Arab saat itu. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah ciri khas bangsa-bangsa tertentu yang tinggal di wilayah dingin atau pegunungan, yang membuat sandal dari bulu hewan.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim): Hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang pasti terjadi. Beliau menegaskan bahwa penyebutan ciri fisik ini adalah untuk memudahkan pengenalan, bukan untuk membatasi. Yang penting adalah umat Islam diperintahkan bersiap dan tidak lengah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari): Menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang memerangi bangsa tertentu adalah kabar gaib yang harus diimani. Beliau juga mengingatkan agar tidak tergesa-gesa menetapkan identitas kaum tersebut secara pasti, karena bisa jadi mereka muncul di waktu yang Allah kehendaki.
- Ibn Katsir (dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim): Menyebutkan riwayat-riwayat serupa dan menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari tanda Kiamat yang akan terjadi menjelang akhir zaman. Beliau menekankan bahwa umat Islam harus berpegang pada tauhid dan sunnah, bukan sibuk menebak-nebak.
- Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah: Keduanya menekankan bahwa tanda-tanda Kiamat adalah peringatan agar manusia bertaubat dan bersiap. Ibn Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan mengingatkan bahwa kesibukan berlebihan dalam membahas tanda Kiamat tanpa memperbaiki diri adalah keliru.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda pendapat tentang identitas kaum ini — apakah mereka bangsa Turki, bangsa Mongol, atau bangsa lain dari arah timur. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa ciri-ciri ini menggambarkan bangsa-bangsa dari arah timur yang memiliki ciri fisik tersebut, dan peperangan ini akan terjadi sebelum Kiamat. Yang terpenting adalah mengimani kabar ini dan tidak memastikan identitasnya tanpa dalil yang jelas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata bahwa beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga untuk mengingat hadits Nabi ﷺ. Ketika beliau menyampaikan hadits-hadits tentang tanda Kiamat, beliau tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi mengingatkan agar umat Islam selalu siap.
Sa'id bin al-Musayyib, salah satu tabi'in yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sebagai salah satu ulama paling zuhud dan paling kuat dalam mengikuti sunnah. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah menyesal kecuali pada sesuatu yang tidak aku lakukan dari sunnah Nabi ﷺ." Ini menunjukkan bahwa para perawi hadits ini adalah orang-orang yang ilmunya dalam dan amalnya kuat.
Sufyan bin 'Uyainah, yang meriwayatkan dari az-Zuhri, adalah ulama besar Mekkah yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau pernah berkata: "Hadits adalah sebaik-baik ilmu, karena ia adalah kalam Nabi ﷺ." Ketelitian beliau dalam meriwayatkan hadits ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih dan tidak diragukan.
Hikmahnya: Para ulama yang meriwayatkan hadits ini adalah orang-orang yang menggabungkan ilmu dan amal. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga mengamalkan dan menyampaikan dengan penuh tanggung jawab.
Kesimpulan Praktis
- Imani kabar ini sebagai tanda Kiamat yang pasti terjadi. Jangan ragu atau menganggapnya dongeng. Nabi ﷺ telah mengabarkan, dan para ulama seperti Imam Muslim, an-Nawawi, dan Ibnu Hajar telah menjelaskannya.
- Jangan sibuk menebak-nebak identitas kaum tersebut. Fokuslah pada persiapan diri: iman, ilmu, dan amal. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim mengingatkan bahwa kesibukan berlebihan dalam spekulasi tanpa amal adalah keliru.
- Perkuat tauhid dan sunnah. Hadits-hadits fitan mengajarkan agar kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah, serta menjauhi ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi tanda Kiamat.
- Bersiaplah dengan amal saleh. Kiamat bisa datang kapan saja. Yang penting bukan mengetahui waktunya, tetapi mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
- Jaga adab dalam membahas tanda Kiamat. Sampaikan dengan lembut, tidak menakut-nakuti, dan tidak menghakimi. Tujuan hadits ini adalah peringatan, bukan bahan perdebatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.