Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini termasuk tanda-tanda kecil kiamat yang bersifat ghaib: Nabi ﷺ mengabarkan bahwa zaman tidak akan berakhir sebelum muncul seorang penguasa yang dikenal dengan nama al-Jahjah. Tugas kita bukan sibuk menebak siapa orangnya, tetapi mengambil pelajaran bahwa semua berita Nabi ﷺ pasti terjadi, dan kita diminta tetap teguh di atas iman serta tidak bergantung pada spekulasi politik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Teks yang Anda bawakan memang menyebutkan lafaz "al-Jahjah", dan Imam Muslim sendiri memberi catatan bahwa nama itu berkaitan dengan empat bersaudara: Syarik, 'Ubaidullah, 'Umair, dan 'Abdul Kabir, anak-anak 'Abdul Majid.
Adapun ayat yang relevan tentang kepastian berita Nabi ﷺ dan tanda kiamat, antara lain:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾
"Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan." (QS. An-Najm [53]: 3–4)
Juga firman Allah:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ ﴿١﴾
"Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan." (QS. Al-Qamar [54]: 1)
Makna ringkasnya: kiamat itu pasti dan tanda-tandanya sudah mulai muncul; berita Nabi ﷺ tentang tanda-tanda itu adalah wahyu, bukan ramalan manusia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan satu tanda dari tanda-tanda kiamat yang disebut asyrath as-sa'ah (tanda-tanda hari kiamat). Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hari dan malam akan terus berjalan sampai muncul seorang penguasa yang disebut al-Jahjah. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan pergantian penguasa adalah bagian dari takdir Allah yang telah ditulis, dan tidak ada satu pun peristiwa besar di dunia ini yang luput dari pengetahuan Allah.
Para ulama dalam daftar rujukan kita menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang tanda kiamat terbagi menjadi dua sikap yang benar:
Pertama, wajib membenarkan beritanya karena datang dari Nabi ﷺ yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Najm [53]: 3–4. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits fitan dan tanda kiamat harus diterima sebagai kabar ghaib, bukan dijadikan bahan spekulasi atau tebakan politik.
Kedua, tidak boleh sibuk menebak-nebak siapa tokoh yang dimaksud, kapan persisnya, dan di mana terjadinya, karena hal itu termasuk perkara ghaib yang hanya Allah yang tahu. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa menyibukkan diri dengan ta'wil (penakwilan) nama-nama dalam hadits fitan tanpa dalil hanya melahirkan kebingungan dan perpecahan.
Imam Muslim sendiri, setelah menyebut hadits ini, memberi catatan bahwa al-Jahjah berkaitan dengan empat bersaudara dari Bani 'Abdul Majid. Ini menunjukkan bahwa sebagian ulama salaf berusaha mengidentifikasi nama tersebut, namun tetap dalam koridor ilmu riwayat, bukan klaim pasti tentang kapan dan di mana peristiwanya.
Adapun hikmah utamanya:
- Kepastian janji Allah dan Rasul-Nya. Semua yang dikabarkan Nabi ﷺ pasti terjadi, meskipun kita belum melihatnya.
- Kekuasaan adalah milik Allah. Allah memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki. Ini mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan hati pada penguasa, tetapi kepada Allah.
- Fokus pada amal, bukan spekulasi. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya sering menekankan bahwa tanda kiamat disebutkan agar kita bersiap, bukan agar kita sibuk menebak.
- Tanda kiamat kecil dan besar. Hadits ini termasuk tanda yang menunjukkan bahwa dunia ini akan berakhir, sehingga kita harus memperbanyak amal saleh.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa semua tanda kiamat disebutkan untuk mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan dunia, karena dunia ini fana dan akan berganti dengan negeri akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian salaf, ketika mendengar hadits-hadits tentang tanda kiamat, mereka tidak sibuk bertanya "siapa" dan "kapan", tetapi bertanya "apa yang harus aku persiapkan". Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa orang beriman adalah orang yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri, bukan sibuk mengurusi urusan yang belum terjadi. Hikmahnya: berita tentang al-Jahjah seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh karena sibuk berdebat.
Kesimpulan Praktis
- Benarkan berita Nabi ﷺ tentang tanda kiamat, termasuk hadits al-Jahjah ini, tanpa ragu.
- Jangan sibuk menebak siapa al-Jahjah, kapan, dan di mana, karena itu perkara ghaib.
- Perbanyak amal saleh dan persiapan untuk akhirat, karena kiamat pasti datang.
- Jangan gantungkan hati pada penguasa, tetapi kepada Allah yang Maha Mengatur segala urusan.
- Jaga persatuan dan hindari perdebatan yang tidak berlandaskan ilmu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.