Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan ilmu dan adab seorang penuntut ilmu. Kisah Jundub dan Hudzaifah radhiyallahu 'anhuma menunjukkan bahwa seorang yang memiliki ilmu dari Rasulullah ﷺ tidak boleh berdebat dengan cara yang buruk, dan seorang yang belum tahu harus segera bertanya kepada ahlinya. Hadits ini juga mengisyaratkan tentang ujian dan fitnah besar yang akan terjadi di akhir zaman, serta pentingnya berpegang pada sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, Bab "Fitnah yang Mengguncang Seperti Gelombang Laut", no. 2893. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari dengan redaksi yang serupa (no. 7095) dari jalan Jundub bin Abdillah Al-Bajali.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas peristiwa ini, tetapi ada ayat yang berkaitan dengan adab bertanya dan merujuk kepada ahlinya, yaitu firman Allah Ta'ala:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu (ahli dzikir) jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl [16]: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak mengetahui suatu perkara, hendaknya ia bertanya kepada ahlinya, sebagaimana Jundub akhirnya bertanya kepada Hudzaifah setelah mengetahui bahwa ia memiliki ilmu dari Rasulullah ﷺ.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran dari hadits ini:
1. Adab Bertanya dan Menjawab
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang adab bertanya. Jundub radhiyallahu 'anhu pada awalnya bersikeras dengan pendapatnya, tetapi ketika Hudzaifah radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa ia memiliki hadits dari Rasulullah ﷺ, Jundub segera mengalah dan bertanya. Ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu harus tunduk kepada dalil dan tidak merasa malu untuk bertanya.
2. Keutamaan Menyampaikan Ilmu
Hudzaifah radhiyallahu 'anhu tidak langsung berdebat dengan Jundub, tetapi ia menyampaikan bahwa ia memiliki hadits dari Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa seorang alim hendaknya menyampaikan ilmunya dengan cara yang baik dan tidak memancing perdebatan yang tidak bermanfaat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa seorang alim harus bersikap tenang dan tidak terburu-buru dalam menjawab, serta menggunakan cara yang paling baik dalam menyampaikan kebenaran.
3. Tentang Fitnah dan Ujian Akhir Zaman
Hadits ini merupakan pengantar bagi hadits-hadits berikutnya tentang fitnah yang akan terjadi. Jundub berkata, "Sungguh darah akan ditumpahkan di tempat ini hari ini," dan ternyata benar terjadi pada peristiwa Perang Jamal dan Perang Shiffin. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa fitnah besar yang terjadi di kalangan sahabat adalah ujian bagi umat Islam, dan sikap yang benar adalah menahan diri dari ikut campur dalam perselisihan mereka serta tidak mencela salah satu pihak, karena mereka semua adalah mujtahid yang telah berusaha semaksimal mungkin.
4. Sikap Terhadap Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat berbeda pendapat dalam masalah politik dan peperangan, namun perbedaan tersebut tidak menghilangkan keutamaan mereka. Sikap Ahlus Sunnah adalah mencintai semua sahabat, tidak mencela salah satu dari mereka, dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta'ala.
Story Telling
Ada kisah yang menunjukkan keteladanan Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dalam menjaga ilmu dan tidak terlibat dalam fitnah. Beliau dikenal sebagai pemegang rahasia Rasulullah ﷺ tentang orang-orang munafik. Ketika terjadi fitnah besar di kalangan umat Islam, banyak orang bertanya kepadanya tentang sikap yang harus diambil. Beliau menjawab dengan bijak, "Fitnah itu adalah ketika seseorang tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Adapun jika engkau mengetahui kebenaran, maka tidak ada fitnah bagimu."
Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci keselamatan dari fitnah. Sebagaimana Hudzaifah menyelamatkan Jundub dari kesalahpahaman dengan menyampaikan hadits Nabi ﷺ, demikian pula kita harus berpegang teguh pada ilmu yang benar agar tidak tersesat dalam menghadapi ujian zaman.
Kesimpulan Praktis
- Segera rujuk kepada ahlinya ketika tidak mengetahui suatu perkara, jangan memaksakan pendapat tanpa ilmu.
- Tunduk kepada dalil meskipun bertentangan dengan pendapat kita, sebagaimana Jundub langsung menerima hadits Hudzaifah.
- Sampaikan ilmu dengan cara yang baik, tanpa memancing perdebatan yang tidak bermanfaat.
- Jauhi perdebatan yang sia-sia, terutama dalam masalah yang telah jelas dalilnya.
- Sikapi perbedaan di kalangan sahabat dengan adab, tidak mencela mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.