Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan tanda besar dari tanda-tanda kiamat: sebuah pasukan yang datang untuk menyerang Ka'bah (Baitullah) akan ditenggelamkan ke dalam bumi ketika mereka sampai di suatu tanah datar (al-Baida'). Yang terbenam pertama adalah bagian tengah pasukan, lalu seluruhnya binasa, dan hanya seorang pelarian yang tersisa untuk menceritakan kejadian itu. Hadits ini mengajarkan bahwa Allah melindungi rumah-Nya dan bahwa janji Allah pasti terjadi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, Bab "Tentara yang akan Ditenggelamkan di Bumi", dari jalan Sufyan bin 'Uyainah (termasuk ulama Tabi'ut Tabi'in dalam daftar) dari Umayyah bin Shafwan dari kakeknya Abdullah bin Shafwan dari Hafshah binti Umar radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ.
Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah, Ummu Salamah, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum, dengan lafaz yang berdekatan.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perlindungan Allah terhadap Baitullah:
QS. Al-Ma'idah [5]: 97
لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
(Potongan ayat ini tidak tepat untuk konteks; ayat yang lebih relevan adalah:)
QS. Al-Qashash [28]: 57
أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِّن لَّدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Terjemahan: "Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (Makkah) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Makna ringkas: Allah menjadikan tanah haram sebagai tempat yang aman, dan siapa pun yang berniat jahat terhadapnya akan dilindungi Allah dari kehancuran.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa akan datang suatu pasukan yang berniat menyerang Ka'bah (Baitullah) untuk menghancurkannya atau menyerang penduduknya. Ketika mereka sampai di suatu tempat bernama al-Baida' — tanah datar di antara Makkah dan Madinah — Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi.
Urutan kejadian menurut hadits:
- Pasukan itu berangkat menuju Baitullah.
- Ketika mereka berada di al-Baida', bagian tengah pasukan ditenggelamkan terlebih dahulu.
- Bagian depan memanggil bagian belakang, lalu seluruhnya ditenggelamkan.
- Tidak ada yang tersisa kecuali seorang pelarian yang menceritakan kejadian itu kepada orang lain.
Pemahaman ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kiamat yang pasti terjadi. Beliau menyebutkan bahwa al-Baida' adalah tempat yang dikenal antara Makkah dan Madinah, dan bahwa peristiwa ini terjadi ketika manusia hendak menyerang Baitullah. An-Nawawi juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam melindungi rumah-Nya dan bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa pasukan ini adalah pasukan yang berniat jahat terhadap Ka'bah, dan Allah membinasakan mereka sebelum mereka sampai. Beliau juga menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi sebelum kiamat, sebagai salah satu tanda besar.
- Ibnu Katsir dalam an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menyebutkan bahwa hadits ini termasuk fitan wa malahim (fitnah dan peperangan besar) yang dikabarkan Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa pasukan yang ditenggelamkan adalah pasukan yang hendak menghancurkan Ka'bah, dan bahwa Allah melindungi Baitullah dari kejahatan mereka.
- Ibnu Taymiyyah dalam al-'Aqidah al-Wasithiyyah dan kitab-kitabnya tentang tanda kiamat menegaskan bahwa tanda-tanda kiamat yang dikabarkan Nabi ﷺ pasti terjadi dan tidak boleh diingkari. Beliau juga menegaskan bahwa Ka'bah akan tetap dilindungi Allah hingga akhir zaman, dan tidak ada yang dapat menghancurkannya kecuali setelah tanda-tanda besar kiamat.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam an-Nuniyyah dan kitab-kitabnya tentang hari akhir menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan keagungan Baitullah dan hukuman Allah bagi orang-orang yang berniat jahat terhadapnya.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah pasukan ini adalah pasukan yang sama dengan yang disebut dalam hadits lain (seperti pasukan yang dipimpin oleh orang yang bernama al-Jahjah atau pasukan yang menyerang Madinah). Namun, jumhur ulama (mayoritas) dalam daftar — seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir — menegaskan bahwa hadits ini shahih dan pasti terjadi, dan bahwa pasukan ini adalah pasukan yang berniat menyerang Ka'bah.
Yang paling kuat menurut dalil:
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini shahih dan pasti terjadi sebagai salah satu tanda besar kiamat, dan bahwa Allah melindungi Baitullah dari kejahatan musuh-musuh-Nya. Ini adalah pendapat Imam Muslim (yang meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya), Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, dan Ibnu Taymiyyah.
Story Telling
Kisah Abdullah bin Shafwan dan Hafshah radhiyallahu 'anha:
Abdullah bin Shafwan — seorang tabi'in yang mulia — mendengar hadits ini dari Hafshah binti Umar, istri Nabi ﷺ dan putri Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ketika Abdullah bin Shafwan menyampaikan hadits ini kepada orang lain, seorang laki-laki berkata:
"Saya bersaksi mengenai Anda bahwa Anda tidak berbohong kepada Hafshah. Dan saya bersaksi bahwa Hafshah tidak berbohong tentang Rasulullah ﷺ."
Ucapan ini menunjukkan adab dan kehati-hatian para salaf dalam menerima hadits. Mereka tidak hanya menerima berita begitu saja, tetapi mereka bersaksi atas kebenaran rantai periwayatan. Ini juga menunjukkan kedudukan Hafshah radhiyallahu 'anha sebagai ummul mukminin yang mulia dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits.
Hikmah: Para salaf sangat menjaga keakuratan hadits dan tidak sembarangan dalam menerima berita. Mereka juga menghormati para perawi yang adil dan mengakui kejujuran mereka. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk berhati-hati dalam menerima berita, terutama yang berkaitan dengan agama.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini shahih dan merupakan tanda besar kiamat yang pasti terjadi.
- Allah melindungi Baitullah dari kejahatan musuh-musuh-Nya, dan siapa pun yang berniat jahat terhadap Ka'bah akan dibinasakan.
- Kewajiban kita adalah membenarkan berita Nabi ﷺ dan tidak meragukan janji Allah.
- Adab para salaf dalam menerima hadits: bersaksi atas kebenaran dan menghormati perawi yang adil.
- Tanda-tanda kiamat harus menjadi pengingat bagi kita untuk bertaubat dan mempersiapkan diri menghadap Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.