Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, di mana keringat manusia akan meluap sedemikian rupa hingga mencapai tujuh puluh hasta (sekitar 35-40 meter) di permukaan bumi, dan keringat itu akan naik hingga mencapai mulut atau telinga mereka. Ini menunjukkan betapa beratnya keadaan manusia saat itu, bahkan orang-orang mukmin pun akan merasakan kesusahan sesuai dengan kadar amal mereka, namun akhirnya mereka akan mendapat pertolongan Allah. Hadits ini mengingatkan kita untuk mempersiapkan bekal iman dan amal saleh.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Hajj [22]: 1-2
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya guncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, setiap wanita yang menyusui lupa akan anak yang disusuinya, dan setiap wanita hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat keras."
Hadits yang dimaksud:
Shahih Muslim, Kitab Surga dan Deskripsi Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab Tentang Deskripsi Hari Kiamat, no. 2863, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Teks dan terjemahan telah disebutkan.
Rujukan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (17/211-212) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa dahsyatnya kondisi hari kiamat. Beliau menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang maksud "tujuh puluh hasta": ada yang mengatakan hasta biasa, ada yang mengatakan hasta malaikat atau khusus. Namun yang jelas, itu adalah ukuran yang sangat besar.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (11/345) ketika mengomentari hadits semakna dari Shahih al-Bukhari, menjelaskan bahwa "tujuh puluh" dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menunjukkan bilangan banyak, bukan sekedar angka pasti, namun bisa juga bermakna hakiki. Beliau menukil pendapat al-Qurthubi bahwa keringat setiap orang berbeda sesuai kadar amalnya.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (5/403) saat menafsirkan QS. Al-Ma’arij [70]: 8-9, mengaitkan dengan hadits ini bahwa hari kiamat penuh dengan tekanan luar biasa sehingga manusia berkeringat deras.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya keringat pada hari kiamat benar-benar akan merata di bumi sejauh tujuh puluh hasta, dan sungguh keringat itu akan mencapai mulut manusia atau telinga mereka." Perawi Thaur bin Yazid ragu apakah Nabi ﷺ menyebut "mulut" atau "telinga", namun intinya bahwa keringat akan menenggelamkan manusia hingga ke bagian wajah mereka.
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin dari hadits ini:
- Keringat sebagai tanda kepayahan. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan bahwa pada hari kiamat, manusia akan mandi dalam keringat mereka sendiri karena beratnya perhitungan dan rasa takut. Ini menggambarkan beban psikis dan fisik yang luar biasa. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam At-Takhwif min an-Nar menyebutkan bahwa keringat itu akan mengalir deras hingga ke tempat matahari didekatkan sejarak satu mil.
- Tujuh puluh hasta. Ulama seperti Imam al-Nawawi dan Ibnu Hajar sepakat bahwa angka ini menunjukkan ketinggian atau kedalaman yang sangat besar. Ada yang mengartikannya secara hakiki (sekitar 35-40 meter berdasarkan hasta biasa) dan ada yang mengartikannya sebagai kiasan untuk banyaknya keringat. Namun al-‘Allamah as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat tentang beratnya hari kiamat mengatakan bahwa kondisi itu nyata dan tidak bisa dibayangkan oleh akal manusia.
- Perbedaan tingkat kesusahan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain dari Shahih Muslim (no. 2864), bahwa setiap orang akan ditenggelamkan keringat sesuai amalnya: ada yang sampai mata kaki, lutut, pinggang, atau bahkan hingga ke mulut. Ini menunjukkan keadilan Allah. Orang mukmin yang banyak dosa akan lebih berat kesusahannya di hari itu, namun pada akhirnya mereka akan diselamatkan. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sifatnya berbeda-beda berdasarkan bobot keimanan dan amal.
- Hikmah hadits. Rasulullah ﷺ menyebutkan hal ini agar kita merasakan takut dan mempersiapkan diri. Keringat yang mencapai mulut membuat manusia hampir tidak bisa bernapas atau berbicara, melambangkan himpitan pertanggungjawaban. Dalam hadits lain (HR. al-Bukhari no. 6536) disebutkan bahwa matahari akan didekatkan hingga sejarak satu mil, sehingga manusia berkeringat sesuai amalnya.
Jadi, hadits ini adalah peringatan keras sekaligus motivasi untuk memperbanyak amal saleh dan taubat, serta berpegang teguh pada sunnah agar kesusahan di hari itu diringankan.
Story Telling
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, ia meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Keringat akan menyebar pada hari kiamat di atas bumi sejauh tujuh puluh hasta, dan akan mencapai mulut mereka atau telinga mereka." (HR. Muslim). Suatu hari, seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Umar radhiyalahu ‘anhuma tentang kondisi hari kiamat, maka ia membaca ayat: "Pada hari ketika manusia seperti laron yang bertebaran" (QS. Al-Qari’ah [101]:4) lalu ia menangis. Ia takut bila termasuk orang yang kesusahan di hari itu. Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat khusyuk mengingat kengerian hari kiamat, dan hadits ini menjadi pengingat bagi kita agar tidak lalai.
Hikmah: Betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesusahan hari kiamat dan memperbanyak amal yang bisa meringankan timbangan.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat kengerian hari kiamat agar kita termotivasi beribadah dengan sungguh-sungguh.
- Hendaknya kita memperbanyak amal saleh dan bertaubat, karena kesusahan di hari itu bisa diringankan dengan keimanan dan ketaatan.
- Perbanyaklah doa agar Allah menyelamatkan kita dari keringat dan kepayahan hari kiamat, misalnya: "Allahumma ajirnii min an-naar" dan doa-doa ma’tsur lainnya.
- Jangan meremehkan dosa kecil, karena dosa bisa menambah beban di akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.