Penjelasan Hadits Muslim No. 2860 tentang Manusia dibangkitkan telanjang tanpa alas kaki dan khitan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat ketika mereka dibangkitkan dari kubur menuju tempat perhitungan (Mahsyar). Mereka akan berjalan kaki dalam keadaan tidak beralas kaki (telanjang kaki), tidak berpakaian (telanjang), dan tidak disunat (ghurl). Ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah dan kepastian hari akhir, yang menuntut kita untuk mempersiapkan diri dengan amal shalih, karena pada hari itu tidak ada lagi yang bisa menolong kecuali amal kita sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." (QS. Al-Anbiya' [21]: 104)

Ayat ini menguatkan bahwa Allah pasti akan membangkitkan manusia kembali, dan hadits ini menjelaskan keadaan mereka saat dibangkitkan.

Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau mendengar Nabi ﷺ berkhutbah dan bersabda:

"إِنَّكُمْ مُلَاقُو اللَّهِ مُشَاةً حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا"

"Sesungguhnya kalian akan menemui Allah dalam keadaan berjalan kaki, tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak disunat."

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar tentang keadaan manusia di hari kiamat. Beliau menukil bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan tidak disunat, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Makna "Mulaaqu Allah" (ملاقو الله): Artinya mereka akan bertemu dengan Allah, yaitu ketika mereka dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk dihisab. Ini bukan berarti mereka melihat Allah saat itu, karena melihat Allah hanya bagi orang-orang beriman di surga kelak.
  2. Makna "Musyah" (مشاة): Yaitu berjalan dengan kaki mereka sendiri menuju tempat berkumpul. Tidak ada kendaraan yang bisa membawa mereka. Ini menunjukkan betapa agung dan dahsyatnya hari itu.
  3. Makna "Hufah" (حفاة): Yaitu tidak memakai alas kaki (sandal atau sepatu). Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, ini adalah keadaan yang menunjukkan kehinaan dan ketundukan total makhluk di hadapan Khaliq-Nya.
  4. Makna "Urat" (عراة): Yaitu telanjang tanpa sehelai pakaian pun. Ini adalah keadaan yang sangat memalukan. Namun, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam kondisi tersebut, tidak ada rasa malu yang bersifat duniawi yang bisa menghalangi mereka, karena dahsyatnya peristiwa hari kiamat telah melalaikan mereka dari hal tersebut.
  5. Makna "Ghurl" (غرلا): Yaitu tidak disunat (belum dikhitan). Ini menunjukkan bahwa keadaan mereka dikembalikan seperti asal penciptaan pertama, sebagai bukti kekuasaan Allah untuk mengulangi ciptaan.

Pandangan Ulama tentang Urutan Kejadian:

Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa setelah manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang, mereka akan menunggu dalam waktu yang sangat lama di Padang Mahsyar. Kemudian, atas izin Allah, pakaian akan diberikan pertama kali kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagai penghormatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari. Ini menunjukkan bahwa keadaan telanjang itu hanya pada awal kebangkitan, kemudian Allah menutup aurat hamba-hamba-Nya yang beriman.

Hikmah dari Hadits Ini:

Hadits ini mengajarkan kita tentang:

  • Kepastian hari kebangkitan: Semua manusia akan dibangkitkan tanpa terkecuali.
  • Kehinaan makhluk di hadapan Allah: Tidak ada satu pun yang bisa sombong pada hari itu.
  • Urgensi persiapan: Karena kita akan dihisab dalam keadaan seperti itu, maka yang paling berharga adalah amal shalih dan iman yang kuat, bukan harta atau pakaian duniawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang keadaan manusia pada hari kiamat, "Wahai Rasulullah, apakah laki-laki dan perempuan akan saling melihat pada hari kiamat?" Beliau menjawab, "Wahai Aisyah, urusan itu lebih dahsyat daripada sekadar saling melihat." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa dahsyatnya hari kiamat membuat manusia tidak sempat memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk rasa malu kepada sesama manusia. Yang ada hanyalah rasa takut dan harap kepada Allah Ta'ala. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan mempersiapkan diri menghadapi hari yang agung tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah dengan hari kebangkitan: Ini adalah bagian dari rukun iman yang wajib diimani.
  2. Rendahkan hati: Jangan pernah sombong dengan harta, pakaian, atau kedudukan, karena semua itu akan hilang dan kita akan dihisab dalam keadaan telanjang dan hina.
  3. Perbanyak amal shalih: Karena hanya amal yang akan menemani kita di hari itu.
  4. Jaga rasa malu kepada Allah: Jika kita malu kepada sesama manusia ketika telanjang, maka lebih utama kita malu kepada Allah yang selalu melihat kita saat berbuat dosa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?