Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat, seluruh manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan Allah dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan tidak bersunat — sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan. Ketika 'Aisyah رضي الله عنها bertanya tentang pandangan antara laki-laki dan perempuan, Nabi ﷺ menegaskan bahwa keadaan hari itu begitu dahsyat dan mengerikan sehingga tidak ada seorang pun yang sempat memikirkan hal itu. Hadits ini mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri dengan amal saleh, karena hari itu adalah hari yang sangat berat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Hajj [22]: 5
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّنَ ٱلْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
Terjemahan ringkas: "Wahai manusia, jika kamu meragukan hari kebangkitan, maka sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging... kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu mencapai usia dewasa..."
Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang mampu menciptakan manusia dari ketiadaan pasti mampu membangkitkannya kembali.
QS. 'Abasa [80]: 33-37
فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ٣٤ وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ ٣٥ وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ ٣٦ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ٣٧
Terjemahan ringkas: "Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jannah wa Shifat Na'imiha wa Ahliha, Bab Fana' ad-Dunya wa al-Hasyr, nomor 2859. Sanadnya: Zuhair bin Harb → Yahya bin Sa'id → Hatim bin Abi Shaghirah → Ibnu Abi Mulaikah → Al-Qasim bin Muhammad → 'Aisyah رضي الله عنها.
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
"Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan tidak bersunat."
Penjelasan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kata "غُرْلًا" (ghurlan) adalah bentuk jamak dari "أَغْرَل" (aghral), yaitu orang yang tidak bersunat (belum dikhitan). Beliau menyatakan bahwa manusia dibangkitkan dalam keadaan asli penciptaannya seperti bayi yang baru dilahirkan, tanpa pakaian dan tanpa khitan, sebagai bentuk kesempurnaan kekuasaan Allah dalam mengembalikan manusia seperti awal penciptaannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah dibangkitkan dalam keadaan demikian adalah agar tidak ada tanda kebesaran duniawi yang tersisa, dan agar setiap hamba menyadari kerendahan dirinya di hadapan Allah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa keadaan manusia pada hari itu sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Qamar [54]: 7:
خُشَّعًا أَبْصَٰرُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ
"Pandangan mereka tertunduk, mereka keluar dari kubur seperti belalang yang beterbangan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
Pertama: Hakikat Kebangkitan
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan:
- حُفَاةً (hufatan): tanpa alas kaki, telapak kaki mereka langsung menyentuh tanah mahsyar
- عُرَاةً ('uratan): tanpa pakaian yang menutupi tubuh
- غُرْلًا (ghurlan): tidak dalam keadaan bersunat, sebagaimana keadaan ketika dilahirkan
Kedua: Kekhawatiran 'Aisyah رضي الله عنها
Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa pertanyaan 'Aisyah رضي الله عنها menunjukkan kepekaan dan rasa malunya sebagai seorang wanita. Beliau membayangkan bagaimana keadaan tersebut jika laki-laki dan perempuan berkumpul di satu tempat. Ini menunjukkan pemahaman 'Aisyah yang mendalam tentang fitrah manusia dan rasa malu yang merupakan bagian dari iman.
Ketiga: Jawaban Nabi ﷺ
Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat:
الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ
"Perkaranya lebih dahsyat daripada sekadar mereka saling memandang."
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa maksudnya adalah kengerian dan kedahsyatan Hari Kiamat begitu besar sehingga setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka tidak sempat memikirkan hal-hal yang bersifat syahwat atau pandangan mata, karena setiap jiwa menghadapi hisab dan pertanggungjawaban.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa pada hari itu, manusia terbagi dalam berbagai keadaan sesuai amal mereka. Ada yang wajahnya berseri-seri dan ada yang muram, ada yang sibuk dengan hisabnya dan ada yang telah mendapatkan khabar gembira.
Keempat: Perbedaan Pendapat tentang Pakaian di Hari Kiamat
Para ulama membahas apakah manusia benar-benar telanjang sepenuhnya ataukah ada penutup. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami bahwa ini adalah keadaan awal ketika dibangkitkan, kemudian Allah memberikan pakaian kepada orang-orang beriman. Hal ini berdasarkan hadits lain tentang orang beriman yang akan mendapatkan pakaian di akhirat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa keadaan telanjang ini adalah keadaan ketika di mahsyar sebelum hisab, dan orang-orang beriman akan mendapatkan perlindungan dan kemuliaan dari Allah.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini harus dipahami secara zahir sesuai redaksinya, dan tidak perlu ditakwil, karena Allah Maha Kuasa untuk membangkitkan manusia dalam keadaan apapun yang Dia kehendaki.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kecerdasannya — ketika mendengar sabda Nabi ﷺ tentang keadaan manusia di Hari Kiamat, hatinya langsung tergerak oleh rasa malu dan kekhawatiran sebagai seorang wanita. Beliau bertanya dengan penuh adab kepada Rasulullah ﷺ, memohon penjelasan tentang bagaimana keadaan kaum wanita nanti.
Nabi ﷺ tidak menegur pertanyaan beliau, melainkan menjawab dengan lembut dan jelas. Ini menunjukkan bahwa bertanya untuk memahami agama adalah hal yang baik, dan bahwa Nabi ﷺ memperlakukan pertanyaan istrinya dengan penuh penghormatan.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan mempersiapkan bekal untuk hari akhirat, karena dia tahu bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada Hari Kebangkitan. Setiap manusia pasti akan dibangkitkan dan dihisab. Tidak ada yang bisa menghindar dari hari itu.
- Persiapkan bekal amal saleh. Karena keadaan di Hari Kiamat sangat dahsyat, kita harus memperbanyak amal saleh, istighfar, dan taubat sebelum ajal datang.
- Jagalah rasa malu dan kehormatan. Islam mengajarkan rasa malu sebagai bagian dari iman. Hadits ini mengingatkan bahwa rasa malu yang benar akan mendorong kita menjauhi maksiat.
- Jangan tertipu dengan dunia. Dunia ini sementara; yang kekal adalah akhirat. Gunakan waktu di dunia untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama.
- Perbanyak doa dan istighfar. Mintalah kepada Allah agar diringankan hisab dan diberi naungan di Hari Kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.