Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang sifat Allah dan gambaran hari kiamat yang sangat agung. Neraka Jahanam akan terus meminta tambahan penghuni, hingga Allah ﷻ meletakkan "qadam" (kaki/telapak)-Nya ke dalam neraka, maka neraka pun berkata, "Cukup, cukup." Ini adalah berita dari Nabi ﷺ tentang kekuasaan Allah yang maha besar dan bahwa neraka akan penuh dengan penghuninya sesuai kehendak Allah. Kita wajib mengimani hadits ini sebagaimana adanya, tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah)-nya, dan menetapkan bagi Allah apa yang Dia tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ قَتَادَةَ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ ﷺ قَالَ " لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ حَتَّى يَضَعَ فِيهَا رَبُّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ "</p>
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Surga dan Deskripsi Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab Neraka Dimasuki oleh Para Penindas dan Surga Dimasuki oleh Orang-orang Lemah (no. 2848). Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4848) dari jalur lain.
Dalil dari Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman tentang neraka yang meminta tambahan:
QS. Qaf [50]: 30
<p>يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ</p>
"Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dan ia menjawab, 'Apakah masih ada tambahan?'"
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini termasuk dalam pembahasan sifat-sifat Allah yang menjadi perhatian besar para ulama Ahlus Sunnah. Imam Ahmad bin Hanbal, ketika ditanya tentang hadits-hadits sifat seperti ini, beliau berkata: "Kami mengimaninya dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa makna (yang menyimpang)." Demikian pula Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang istiwa Allah, beliau menjawab: "Istiwa itu diketahui maknanya, cara (kaifiyah)-nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dalam beberapa poin penting:
1. Makna "Neraka Terus Berkata: Apakah Ada Tambahan?"
Ini adalah berita dari Nabi ﷺ bahwa neraka memiliki keadaan yang Allah ciptakan padanya, yaitu ia terus-menerus "meminta" tambahan penghuni. Ini bukan berarti neraka memiliki kehendak sendiri yang terpisah dari kehendak Allah, tetapi ini adalah sifat yang Allah ciptakan pada neraka sebagai tanda betapa luasnya ciptaan Allah dan betapa banyaknya penghuni yang akan dimasukkan ke dalamnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya jumlah manusia yang akan masuk neraka karena kekufuran dan kemaksiatan mereka, namun tetap saja neraka belum penuh hingga Allah memasukkan ke dalamnya apa yang Dia kehendaki.
2. Makna "Hingga Allah Meletakkan Qadam-Nya"
Ini adalah salah satu hadits sifat (khabariyyah) yang wajib kita imani tanpa menanyakan bagaimana bentuknya. Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad, Imam Malik, dan ulama setelahnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, menetapkan bahwa Allah memiliki sifat "qadam" (kaki/telapak) yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan kaki makhluk. Allah ﷻ berfirman:
QS. Asy-Syura [42]: 11
<p>لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "qadam" di sini. Sebagian ulama (seperti al-Khattabi) menafsirkannya sebagai "sekelompok orang yang Allah ciptakan untuk neraka" (yaitu makna majazi), namun pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama salaf dan para imam hadits adalah menetapkan sifat ini sebagaimana adanya tanpa ta'til (menolak), tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa takyif (bertanya bagaimana). Ibnu Hajar sendiri cenderung menetapkan lafazhnya dan menyerahkan maknanya kepada Allah.
3. Makna "Neraka Berkata: Cukup, Cukup, Demi Kehormatan-Mu"
Ketika Allah meletakkan qadam-Nya, neraka menjadi penuh dan berkata "qath qath" (cukup cukup). Ini menunjukkan bahwa neraka diciptakan untuk menampung jumlah tertentu yang telah Allah tetapkan. Setelah Allah memasukkan penghuni yang telah ditakdirkan, neraka pun penuh dan tidak dapat menampung lagi. Ini sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan: "Apakah neraka akan terus menerima penghuni tanpa batas?" Maka hadits ini menjelaskan bahwa neraka memiliki batas kapasitas yang Allah ketahui.
4. Makna "Sebagiannya Saling Mendekat Satu Sama Lain"
Frasa "yuzwa ba'dhuha ila ba'dhin" berarti bagian-bagian neraka saling mendekat dan menyatu, sehingga menjadi lebih sempit dan padat. Ini menunjukkan bahwa setelah penuh, neraka menyempit dan seluruh isinya menjadi rapat. Ini adalah gambaran yang menakutkan bagi penghuninya.
5. Pelajaran Aqidah yang Sangat Penting
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil penetapan sifat "qadam" bagi Allah, dan kita wajib mengimaninya. Namun kita tidak boleh bertanya, "Bagaimana bentuk qadam Allah?" karena itu di luar jangkauan akal kita. Kita juga tidak boleh menyerupakannya dengan qadam makhluk, karena Allah berfirman "Laysa kamitslihi syai'" (tidak ada yang serupa dengan Dia). Ini adalah manhaj salaf yang dijelaskan oleh Imam Ahmad, Imam Malik, dan para ulama Ahlus Sunnah lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentang firman Allah:
QS. Thaha [20]: 5
<p>الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ</p>
"Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsy."
Orang itu bertanya, "Bagaimana cara Dia bersemayam?" Maka Imam Malik menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata: "Istiwa (bersemayam) itu telah diketahui maknanya, cara (kaifiyah)-nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Kemudian beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya.
Kisah ini menunjukkan betapa hati-hatinya para ulama salaf dalam menyikapi ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah. Mereka tidak menolak, tidak menyerupakan, dan tidak bertanya "bagaimana", karena itu di luar batas kemampuan akal manusia. Yang mereka lakukan hanyalah mengimani dan membenarkan, seraya bertaslim (berserah diri) kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Imani hadits ini sebagaimana adanya — tetapkan bagi Allah sifat qadam yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.
- Jangan menyerupakan Allah dengan makhluk — Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
- Jangan menolak atau menakwilkan hadits sifat secara sembarangan — karena itu adalah manhaj orang-orang yang menyimpang. Yang benar adalah mengimani lafazhnya dan menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah.
- Ambil pelajaran tentang dahsyatnya neraka — hadits ini menunjukkan bahwa neraka sangat luas dan terus meminta tambahan, maka kita harus berlindung kepada Allah dari neraka dan berusaha menjauhi segala sebab yang memasukkan kita ke dalamnya.
- Perbanyak doa meminta keselamatan dari neraka — sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan doa: "Ya Allah, selamatkanlah kami dari neraka."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.