Penjelasan Hadits Muslim No. 2847 tentang Surga dan neraka berselisih tentang siapa yang memasukinya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang dialog antara Surga dan Neraka yang saling berbangga dan berselisih. Surga merasa bangga akan diisi oleh orang-orang yang lemah dan tertindas di dunia, sementara Neraka merasa bangga akan diisi oleh orang-orang yang sombong dan para penindas. Allah ﷻ kemudian berfirman kepada keduanya bahwa masing-masing akan dipenuhi dengan ketetapan-Nya. Ini menunjukkan keadilan dan hikmah Allah dalam menentukan penghuni keduanya, serta menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang lemah dan tertindas yang tetap beriman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Surga dan Deskripsi Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka Dimasuki oleh Para Penindas dan Surga Dimasuki oleh Orang-orang Lemah, no. 2847. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks lengkap hadits dari riwayat Abu Hurairah yang dimaksud dalam hadits Abu Sa'id di atas adalah sebagai berikut:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "احْتَجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ النَّارُ: أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْجَبَّارِينَ، وَقَالَتِ الْجَنَّةُ: مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ، قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ: إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَقَالَ لِلنَّارِ: إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَلِكِلَيْكُمَا عَلَيَّ مِلْؤُهَا"

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Surga dan Neraka berselisih. Neraka berkata: 'Aku dipilih untuk orang-orang yang sombong dan para tiran.' Surga berkata: 'Mengapa tidak ada yang masuk kepadaku kecuali orang-orang lemah dan hina di mata manusia?' Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman kepada Surga: 'Sesungguhnya engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati denganmu siapa yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.' Dan berfirman kepada Neraka: 'Sesungguhnya engkau adalah azab-Ku, Aku mengazab denganmu siapa yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku. Dan bagi kalian berdua, Aku akan memenuhi kalian.'" (HR. Muslim, no. 2846)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Makna "احْتَجَّتِ" (berselisih/berdebat) — Ini adalah bentuk dialog yang Allah ciptakan pada keduanya sebagai mukjizat dan tanda kekuasaan-Nya. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah perselisihan yang hakiki yang Allah ciptakan pada keduanya, bukan sekadar kiasan. Namun kita tidak perlu memperdebatkan caranya, karena itu termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani sebagaimana datangnya.

Kedua: Sifat orang yang masuk Neraka — Neraka berkata bahwa ia dipilih untuk orang-orang yang mutakabbirin (sombong) dan jabbarin (para tiran/penindas). Ini adalah sifat yang paling dibenci Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar untuk masuk surga, karena orang yang sombong enggan menerima kebenaran dan merendahkan manusia.

Ketiga: Sifat orang yang masuk Surga — Surga berkata bahwa yang masuk kepadanya hanyalah orang-orang lemah dan hina di mata manusia. Yang dimaksud adalah orang-orang yang tawadhu' (rendah hati), tidak membanggakan diri, dan tidak merasa besar di hadapan manusia. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang-orang beriman yang lemah secara sosial dan ekonomi sering kali lebih ikhlas dan lebih dekat kepada Allah karena hati mereka tidak disibukkan oleh kemegahan dunia.

Keempat: Jawaban Allah kepada keduanya — Allah berfirman kepada Surga bahwa ia adalah rahmat Allah, dan kepada Neraka bahwa ia adalah azab Allah. Ini menunjukkan bahwa keduanya adalah makhluk yang tunduk kepada kehendak Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penetapan penghuni keduanya adalah murni kehendak Allah yang didasari hikmah dan keadilan-Nya, bukan karena Surga atau Neraka memiliki keinginan sendiri.

Kelima: Sabda Allah "وَلِكِلَيْكُمَا عَلَيَّ مِلْؤُهَا" — Artinya: "Dan bagi kalian berdua, Aku akan memenuhi kalian." Ini menunjukkan bahwa Allah akan memenuhi keduanya. Para ulama menjelaskan bahwa Neraka akan dipenuhi dari kalangan jin dan manusia yang ingkar, dan Surga akan dipenuhi dari kalangan orang-orang beriman. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Hud [11]: 119 bahwa Allah akan memenuhi Neraka dengan jin dan manusia seluruhnya, dan Surga dengan orang-orang yang bertakwa.

Keenam: Pelajaran tentang keadilan Allah — Hadits ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah zalim kepada siapapun. Neraka tidak diisi kecuali dengan orang-orang yang pantas menerimanya karena kesombongan dan kezaliman mereka. Surga tidak diisi kecuali dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa, meskipun mereka lemah dan hina di mata manusia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi radhiyallahu 'anhu, adalah contoh nyata dari orang yang "lemah" di mata manusia namun mulia di sisi Allah. Beliau adalah seorang budak yang dimerdekakan, berasal dari negeri Romawi yang dianggap asing di kalangan Quraisy. Namun karena keimanannya, beliau rela meninggalkan seluruh hartanya di Mekkah demi berhijrah kepada Rasulullah ﷺ.

Ketika beliau tiba di Madinah dalam keadaan kelelahan, Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan sabda: "Engkau telah beruntung, wahai Abu Yahya, engkau telah beruntung!" Beliau kemudian membacakan firman Allah tentang orang-orang yang berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka (QS. At-Taubah [9]: 20). Shuhaib adalah contoh bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan keturunan, harta, atau kedudukan dunia, tetapi dengan keimanan dan ketakwaan.

Kisah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dianggap "lemah" di mata manusia justru menjadi penghuni surga yang utama, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi sifat sombong dan angkuh, karena itu adalah jalan menuju Neraka. Sombong kepada manusia adalah cermin dari sombong kepada Allah.
  2. Jadilah pribadi yang tawadhu' (rendah hati), karena orang-orang yang rendah hati di dunia akan diangkat derajatnya oleh Allah di akhirat.
  3. Jangan meremehkan orang-orang yang lemah dan miskin, karena mereka bisa jadi lebih mulia di sisi Allah daripada kita.
  4. Yakinlah bahwa Allah Maha Adil, tidak ada satu pun yang masuk Surga atau Neraka kecuali dengan keadilan dan hikmah-Nya.
  5. Perbanyaklah amal yang bisa mendekatkan kita kepada rahmat Allah, seperti kejujuran, kasih sayang, dan menolong sesama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?