Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan Adam عليه السلام dalam bentuk/rupa yang mulia dengan tinggi enam puluh hasta, dan penduduk surga nanti akan masuk surga dengan rupa serta tinggi seperti Adam. Hadits ini juga mengajarkan asal-usul ucapan salam dan keutamaan salam, serta menunjukkan bahwa ukuran tubuh manusia terus berkurang setelah Adam hingga sekarang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Surga dan Deskripsi Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab Orang-orang yang Masuk Surga, Hati Mereka Seperti Hati Burung (no. 2841), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Hammam bin Munabbih dari Ma'mar dari Abdur Razzaq.
Teks hadits yang disebutkan:
خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، فَلَمَّا خَلَقَهُ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ، فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ، فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ. قَالَ: فَذَهَبَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، فَقَالُوا: السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، قَالَ: فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. قَالَ: فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، فَلَمْ يَزَلِ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدَهُ حَتَّى الْآنَ
Terjemahan ringkas: "Allah عز وجل menciptakan Adam dalam bentuknya (rupa-Nya), tingginya enam puluh hasta. Ketika Dia menciptakannya, Dia berfirman: 'Pergilah dan ucapkan salam kepada sekelompok malaikat yang sedang duduk itu, dan dengarkanlah jawaban mereka, karena itu adalah salammu dan salam keturunanmu.' Adam pun pergi dan berkata: 'Assalamu'alaikum.' Mereka menjawab: 'Assalamu'alaika wa rahmatullah.' Mereka menambahkan 'wa rahmatullah.' Maka setiap orang yang masuk surga akan berbentuk seperti Adam, tingginya enam puluh hasta, dan manusia terus berkurang (tingginya) setelahnya hingga sekarang."
Ayat yang berkaitan dengan penciptaan Adam dan kemuliaan bentuk manusia:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
QS. At-Tin [95]: 4
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
QS. Al-Baqarah [2]: 31
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Makna "عَلَى صُورَتِهِ" (dalam bentuk-Nya)
Para ulama berbeda dalam memahami frasa ini. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sebagian ulama memahaminya secara zahir, namun mayoritas ulama menakwilkan (menjelaskan maknanya), di antaranya:
- Sebagian mengatakan maknanya: "Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Dia kehendaki dan ciptakan, bukan menyerupai makhluk lain."
- Sebagian lain memahami: "dalam bentuk yang Allah pilih dan tentukan," sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa yang paling kuat adalah memahami "shurah" di sini sebagai bentuk/rupa yang Allah khususkan bagi Adam dengan kemuliaan, bukan menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini sejalan dengan kaidah Ahlus Sunnah: menetapkan sifat tanpa tahrif (mengubah), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri, meniupkan ruh dari-Nya, dan memuliakannya. Bentuk Adam adalah bentuk yang paling sempurna dan mulia di antara makhluk.
Kedua: Tinggi Adam enam puluh hasta
Enam puluh hasta (dzira') kira-kira setara dengan 30–40 meter menurut sebagian ulama. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah ukuran asli penciptaan Adam, dan manusia setelahnya terus berkurang tingginya secara bertahap hingga sekarang. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa berkurangnya tinggi badan manusia adalah bagian dari takdir Allah dan menunjukkan perubahan keadaan manusia dari kesempurnaan menuju kekurangan, sebagai pelajaran akan kelemahan manusia.
Ketiga: Asal-usul salam
Hadits ini menunjukkan bahwa ucapan "السلام عليكم" adalah ajaran yang Allah perintahkan langsung kepada Adam untuk disampaikan kepada para malaikat. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan salam dan bahwa salam adalah penghormatan pertama yang diajarkan Allah kepada manusia. Para malaikat menjawab dengan tambahan "ورحمة الله", sehingga disunnahkan bagi kita untuk menjawab salam dengan yang lebih baik atau minimal sama, sebagaimana firman Allah:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
QS. An-Nisa [4]: 86
"Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)."
Keempat: Penduduk surga berbentuk seperti Adam
Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab menjelaskan bahwa penduduk surga akan dikembalikan kepada bentuk asli Adam, yaitu tinggi enam puluh hasta, tanpa cacat, dan dalam keadaan muda selamanya. Ini menunjukkan kesempurnaan nikmat surga. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa penduduk surga akan sempurna fisik dan rupanya, tidak ada kekurangan sedikit pun.
Kelima: Berkurangnya tinggi manusia
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa berkurangnya tinggi manusia setelah Adam adalah fakta yang terus berlangsung hingga sekarang. Ini bukan berarti manusia "berevolusi" dari kera, tetapi justru menunjukkan penurunan dari kesempurnaan. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menegaskan keabsahan hadits ini dan menolak tafsir evolusionis yang menyimpangkan maknanya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — menyampaikan hadits ini kepada Hammam bin Munabbih, seorang tabi'in yang kemudian menuliskan kumpulan hadits dari Abu Hurairah yang dikenal sebagai Shahifah Hammam bin Munabbih. Ini adalah salah satu catatan hadits tertua yang masih terjaga.
Hammam bin Munabbih adalah putra Wahb bin Munabbih, seorang ulama tabi'in yang dikenal luas ilmunya. Hammam sendiri adalah tabi'in yang tsiqah (terpercaya) dan hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Kisah ini menunjukkan bagaimana para tabi'in berusaha keras menjaga dan menuliskan hadits-hadits Nabi ﷺ agar tidak hilang, sehingga sampai kepada kita dengan sanad yang shahih.
Hikmah: Kesungguhan para salaf dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ adalah sebab sampainya ilmu kepada kita. Maka hendaknya kita bersyukur dan berusaha mengamalkan serta menyebarkannya dengan benar.
Kesimpulan Praktis
- Mengucapkan salam adalah sunnah yang diajarkan langsung oleh Allah kepada Adam, maka biasakanlah mengucapkan "Assalamu'alaikum" dan menjawab dengan "Wa'alaikumussalam warahmatullah."
- Meyakini kemuliaan penciptaan manusia — bahwa Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang sempurna dan mulia, bukan hasil evolusi dari makhluk rendah.
- Beriman kepada hari akhir dan surga — bahwa penduduk surga akan dikembalikan kepada bentuk asli Adam, tinggi enam puluh hasta, muda selamanya, tanpa cacat.
- Tidak membahas sifat Allah dengan cara yang menyerupakan-Nya dengan makhluk — cukup menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa takyif, tamtsil, tahrif, dan ta'thil.
- Mengambil pelajaran dari berkurangnya tinggi manusia — bahwa dunia ini terus menuju kekurangan, dan kesempurnaan hakiki hanya di surga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.