Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan salah satu kenikmatan agung di surga: adanya pasar yang dikunjungi penghuni surga setiap hari Jumat. Di pasar itu, mereka tidak berjual beli seperti di dunia, tetapi mereka mendapatkan tambahan keindahan, kecantikan, dan wewangian yang membuat mereka dan keluarga mereka semakin bertambah elok. Ini adalah kabar gembira tentang kesempurnaan kenikmatan surga yang tiada tara, yang terus bertambah bagi penghuninya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Surga dan Deskripsi Kenikmatannya, Bab "Di Pasar Surga dan Apa yang Mereka Dapatkan di Dalamnya dari Kenikmatan dan Keindahan" (no. 2833), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Berikut dalil-dalil yang relevan:
1. Dalil Al-Qur'an tentang bertambahnya kenikmatan surga:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
"Dan bagi mereka segala yang mereka inginkan di dalamnya (surga), dan di sisi Kami ada tambahan (kenikmatan)."
(QS. Qaf [50]: 35)
2. Hadits terkait tentang tambahan kenikmatan surga:
Dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
"Ketika penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan untuk kalian?' Mereka menjawab: 'Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?' Maka Allah menyingkap hijab (tabir), maka tidaklah mereka diberikan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat (wajah) Rabb mereka 'Azza wa Jalla."
(HR. Muslim, no. 181)
3. Kaitan dengan penjelasan ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarah Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya pasar di surga yang dikunjungi penghuninya, dan mereka tidak berjual beli di sana. Yang dimaksud "pasar" hanyalah sebutan untuk tempat berkumpulnya mereka. Beliau juga menegaskan bahwa tambahan keindahan ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada penghuni surga sebagai bentuk kesempurnaan kenikmatan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) ketika membahas hadits-hadits tentang surga menjelaskan bahwa gambaran-gambaran seperti ini adalah hal ghaib yang wajib kita imani sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya (kaifiyah), karena kita tidak mampu menjangkaunya dengan akal.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (dalam Tafsir-nya) menjelaskan bahwa kenikmatan surga tidak pernah berkurang dan tidak pernah berhenti, bahkan terus bertambah. Ini adalah konsekuensi dari firman Allah "wa ladayna mazid" (dan di sisi Kami ada tambahan).
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Makna "Pasar" di Surga
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "pasar" di sini bukanlah pasar yang ada di dunia dengan aktivitas jual beli. Akan tetapi, ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tempat berkumpulnya para penghuni surga untuk saling bertemu dan menikmati keindahan. Ini menunjukkan bahwa Allah memberi kenikmatan berupa interaksi sosial yang indah di surga, bukan kesendirian yang membosankan.
2. Hari Jumat di Surga
Para ulama menjelaskan bahwa hari Jumat adalah hari yang mulia di dunia, dan kenikmatannya berlanjut hingga di akhirat. Penghuni surga berkumpul di pasar tersebut setiap hari Jumat sebagai bentuk penghormatan terhadap hari yang agung ini. Ini menunjukkan bahwa hari-hari di surga tidaklah sama, dan ada hari-hari tertentu yang memiliki keutamaan.
3. Angin Utara (Rihus Syimal)
Dalam hadits ini disebutkan angin utara yang bertiup membawa wewangian. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa gambaran ini menunjukkan kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan oleh seluruh indera penghuni surga. Angin yang bertiup ini menambah keindahan wajah dan pakaian mereka, sehingga mereka kembali kepada keluarga dengan keadaan yang lebih elok dari sebelumnya.
4. Saling Melihat Keindahan Keluarga
Bagian yang sangat indah dari hadits ini adalah dialog antara penghuni surga dengan keluarganya. Mereka saling berkata bahwa masing-masing telah bertambah indah. Ini menunjukkan bahwa di surga tidak ada rasa cemburu atau iri, tetapi justru saling mengagumi dan mencintai. Ini adalah kenikmatan hati yang sempurna, sebagaimana kenikmatan fisik yang mereka rasakan.
5. Pelajaran Aqidah: Mengimani Hal Ghaib
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam menjelaskan masalah-masalah aqidah menegaskan bahwa kita wajib mengimani berita-berita tentang surga sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, baik kita bisa membayangkannya atau tidak. Karena akal manusia terbatas, sedangkan kenikmatan surga berada di luar batas kemampuan akal untuk menjangkaunya. Allah berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
"Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka."
(QS. As-Sajdah [32]: 17)
6. Perbedaan dengan Pasar Dunia
Di dunia, pasar adalah tempat orang mencari rezeki dan bisa jadi tempat kelalaian. Namun di surga, "pasar" tersebut justru menjadi tempat bertambahnya kenikmatan dan keindahan. Ini menunjukkan bahwa Allah mengganti segala kekurangan di dunia dengan kesempurnaan di akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
"Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Mereka adalah ahlul Qur'an, keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya."
(HR. Ibnu Majah, no. 215; dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Kisah ini mengingatkan kita bahwa orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'an di dunia akan mendapatkan kedudukan istimewa di surga. Jika penghuni surga saja mendapatkan tambahan keindahan setiap Jumat di pasar surga, maka bagaimana lagi dengan mereka yang di dunia selalu berinteraksi dengan Kalamullah? Tentu kedudukan mereka lebih tinggi dan kenikmatan mereka lebih sempurna.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah sering mengingatkan bahwa kenikmatan surga yang paling besar adalah melihat wajah Allah Ta'ala dan mendengar firman-Nya. Maka orang yang terbiasa membaca dan merenungkan Al-Qur'an di dunia akan merasakan kenikmatan yang berlipat di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Imani berita ghaib tentang surga sebagaimana disampaikan Rasulullah ﷺ tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena ini termasuk perkara ghaib yang wajib kita percaya.
- Muliakan hari Jumat karena ia adalah hari yang agung di sisi Allah, dan kenikmatannya berlanjut hingga di akhirat bagi penghuni surga.
- Perbanyak amal shaleh yang mengantarkan kita ke surga, karena kenikmatan surga tidak diperoleh dengan sia-sia, melainkan dengan iman dan amal.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai teman hidup agar kita termasuk keluarga Allah yang istimewa di dunia dan akhirat.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena surga dan kenikmatannya adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya yang beriman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.