Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang strategi iblis dalam menyesatkan manusia. Iblis memiliki "singgasana" di atas lautan sebagai pusat komandonya, lalu ia mengirim pasukan setan ke seluruh penjuru untuk menggoda manusia. Ukuran "kehebatan" atau kedudukan setan di sisi iblis bukan berdasarkan kekuatan fisik, melainkan seberapa besar fitnah (kerusakan) yang berhasil ia timbulkan di tengah manusia. Ini adalah peringatan keras bagi kita agar tidak menjadi alat setan untuk merusak agama dan moral manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Godaan Setan dan Pengutusannya untuk Menciptakan Fitnah di Antara Manusia, no. 2813, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.
Dalil lain yang memperkuat makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-A'raf [7]: 17
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ
"Kemudian pasti akan kudatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)."
Ayat ini menunjukkan bahwa iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari segala arah, dan hadits di atas menjelaskan bagaimana ia mengorganisir pasukannya untuk menjalankan sumpah tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Makna "Singgasana di Atas Lautan": Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah berita tentang tempat tinggal dan pusat kekuasaan iblis. Lautan disebutkan karena ia adalah tempat yang luas dan tidak berpenghuni, jauh dari ketaatan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa iblis memilih tempat yang jauh dari dzikir dan ketaatan sebagai markas besarnya. Ini juga menjadi pelajaran bahwa setan akan lebih mudah menguasai hati yang kosong dari iman, sebagaimana lautan yang kosong dari bangunan dan ketaatan.
- Pengiriman Pasukan (Saraya): Kata "saraya" (jamak dari sariyyah) adalah pasukan yang dikirim untuk misi khusus. Ini menunjukkan bahwa iblis tidak bekerja sendirian, tetapi memiliki pasukan yang terorganisir. Setiap pasukan memiliki tugas spesifik untuk menggoda manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan memiliki berbagai pasukan, di antaranya:
- Pasukan yang bertugas menimbulkan syahwat dan syubhat (kerancuan pemikiran).
- Pasukan yang bertugas menimbulkan kemarahan dan hawa nafsu.
- Pasukan yang bertugas membuat manusia lalai dari dzikir dan ibadah.
- Pasukan yang bertugas menanamkan rasa takut, sedih, dan was-was.
- Ukuran Kehebatan Setan: Sabda Nabi ﷺ, "Yang paling besar di sisi iblis adalah yang paling besar fitnahnya," menunjukkan bahwa standar penilaian iblis sangat berlawanan dengan standar Allah. Di sisi Allah, manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Namun, di sisi iblis, setan yang paling "berjasa" adalah yang paling berhasil merusak keimanan dan akhlak manusia. Ini adalah peringatan yang sangat tegas agar kita tidak pernah meremehkan dosa, karena dosa yang kita lakukan bisa menjadi "prestasi" bagi setan dan membuatnya semakin sombong di hadapan iblis.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud adalah segala bentuk kesyirikan, kebid'ahan, kemaksiatan, dan kerusakan akhlak yang menjauhkan manusia dari Allah. Semakin besar dampak kerusakan yang ditimbulkan, semakin besar pula kedudukan setan tersebut di sisi iblis.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika Rasulullah ﷺ bersabda tentang iblis:
> "Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukan-pasukannya. Maka yang paling rendah kedudukannya di sisi iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari mereka dan berkata, 'Aku telah melakukan ini dan itu.' Maka iblis berkata, 'Engkau belum melakukan apa-apa.' Kemudian datang yang lain dan berkata, 'Aku tidak meninggalkan seorang pun sehingga aku memisahkan antara dia dan istrinya.' Maka iblis mendekatkannya dan berkata, 'Alangkah baiknya engkau.'" (HR. Muslim, no. 2813)
Kisah ini menunjukkan betapa besar kebahagiaan iblis ketika ia berhasil memisahkan hubungan suami istri, karena hal itu merusak keharmonisan keluarga yang merupakan fondasi masyarakat. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk menjaga keutuhan rumah tangga dari segala macam gangguan setan.
Kesimpulan Praktis
- Waspada terhadap Tipu Daya Setan: Kita harus selalu waspada bahwa setan tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan kita. Jangan merasa aman dari godaannya, sekalipun kita sudah rajin beribadah.
- Jaga Hati dan Pikiran: Isi hati dan pikiran kita dengan dzikir, ilmu yang bermanfaat, dan perenungan ayat-ayat Al-Qur'an agar tidak menjadi "lautan kosong" yang mudah dikuasai setan.
- Jauhi Segala Bentuk Fitnah: Jangan pernah meremehkan dosa, terutama yang bisa memecah belah persatuan umat, merusak rumah tangga, atau menimbulkan perpecahan di antara sesama muslim.
- Perkuat Iman dan Tawakal: Iman yang kuat dan tawakal kepada Allah adalah benteng terbaik dari serangan setan. Allah berfirman, "Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah" (QS. An-Nisa' [4]: 76).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.