Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa setan sudah putus asa untuk membuat orang-orang yang shalat di jazirah Arab kembali menyembah berhala atau selain Allah. Namun, ia tidak pernah putus asa untuk merusak mereka melalui permusuhan, kebencian, dan perpecahan di antara sesama Muslim. Karena itu, menjaga persatuan, menahan lisan, dan menjauhi provokasi adalah benteng utama dari tipu daya setan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Godaan Setan dan Pengutusannya untuk Menciptakan Fitnah di Antara Manusia dan Bahwa Setiap Manusia Memiliki Teman Setan (no. 2812), dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
Terjemahan: "Sesungguhnya setan telah putus asa bahwa orang-orang yang shalat di jazirah Arab akan menyembahnya, tetapi ia (masih berharap) dalam menebar permusuhan di antara mereka."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tipu daya setan untuk memecah belah:
QS. Al-Isra' [17]: 53
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
Terjemahan: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.'"
QS. Al-Ma'idah [5]: 91
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ
Terjemahan: "Sesungguhnya setan itu hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari perbuatan itu)."
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "setan telah putus asa" adalah putus asa dari kemungkinan orang-orang yang mendirikan shalat di jazirah Arab kembali kepada penyembahan berhala secara terang-terangan. Sebab, Allah telah memuliakan tanah Arab dengan tauhid dan menghancurkan berhala-berhala. Namun setan tetap berusaha melalui jalan lain: at-tahrisy, yaitu menghasut, mengadu domba, dan menyalakan permusuhan antar sesama Muslim.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa setan beralih strategi: ketika tidak mampu menjatuhkan seseorang ke dalam syirik besar, ia puas dengan dosa-dosa yang lebih kecil namun tetap merusak, terutama permusuhan antar saudara seiman. Karena permusuhan itu memutus ukhuwah, mematikan amal, dan melemahkan umat.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan memiliki tangga-tangga tipu daya. Jika gagal pada tingkat syirik, ia turun ke tingkat bid'ah, lalu ke tingkat dosa besar, lalu ke tingkat dosa kecil, dan jika semua gagal, ia tidak tinggal diam — ia akan menyalakan api permusuhan antar hamba Allah yang shalih. Karena dengan permusuhan itu, hati menjadi keras, ilmu tidak bermanfaat, dan amal terhenti.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Al-Isra' [17]: 53 menegaskan bahwa setan senantiasa berusaha menyalakan perselisihan dengan cara membisikkan kata-kata buruk, prasangka, dan provokasi. Karena itu Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berkata yang terbaik, sebagai benteng melawan bisikan setan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras: jangan remehkan permusuhan antar sesama Muslim, karena itulah sasaran utama setan ketika ia gagal menjerumuskan ke syirik. Beliau juga menekankan pentingnya menahan lisan dan tidak menjadi alat setan dalam memecah belah.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami "al-mushallun" (orang-orang yang shalat) sebagai isyarat bahwa orang yang menjaga shalatnya akan dijaga dari syirik besar, tetapi tetap diuji dengan permusuhan. Sebagian lain memahaminya sebagai penduduk jazirah Arab secara umum. Namun maknanya tetap sama: setan beralih ke strategi permusuhan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya — siapa pun yang menjaga shalat, setan akan berusaha merusaknya melalui jalur permusuhan, bukan melalui syirik terang-terangan.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu mendengar langsung sabda Nabi ﷺ ini. Beliau adalah sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ membina umat agar bersatu.
Al-Hasan al-Bashri pernah menasihatkan murid-muridnya dengan makna hadits ini: "Setan tidak peduli dengan harta yang engkau kumpulkan, tetapi ia sangat senang jika engkau memutus tali persaudaraan dengan saudaramu." Nasihat ini beliau sampaikan karena beliau melihat banyak orang rajin shalat, tetapi lisannya tajam terhadap saudaranya sendiri.
Fudail bin 'Iyadh berkata: "Aku tidak iri kepada orang yang banyak shalat dan puasa, tetapi aku iri kepada orang yang lisannya bersih dari mencela saudaranya." Ini adalah buah dari memahami hadits ini — bahwa setan menyerang dari pintu lisan dan hati, bukan dari pintu shalat.
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat — karena shalat adalah benteng yang membuat setan putus asa dari menjerumuskan kita ke syirik besar.
- Waspadai at-tahrisy — jangan mudah terprovokasi, jangan ikut menyebarkan permusuhan, dan jangan menjadi alat setan dalam memecah belah.
- Tahan lisan — sebelum berbicara tentang saudara, tanyakan: apakah ini membangun atau memecah?
- Perbanyak istighfar dan doa — karena setan tidak bisa dikalahkan kecuali dengan pertolongan Allah.
- Jaga ukhuwah — permusuhan antar Muslim adalah kemenangan setan, sedangkan persatuan adalah kekalahan baginya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.