Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ, yaitu terbelahnya bulan. Peristiwa ini terjadi ketika orang-orang kafir Quraisy meminta bukti kenabian, lalu Allah ﷻ membelah bulan menjadi dua di hadapan mereka. Hadits ini menegaskan bahwa peristiwa tersebut nyata dan terjadi, bukan sekadar khayalan atau mimpi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Qamar.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Dalil Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُۗ
"Telah dekat (datangnya) saat itu (hari Kiamat) dan telah terbelah bulan."
(QS. Al-Qamar [54]: 1)
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Terbelahnya Bulan, nomor 2802, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
Peristiwa ini dijelaskan oleh banyak ulama tafsir dari kalangan salaf. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in dan salah satu perawi dalam sanad hadits ini) berkata ketika menafsirkan ayat di atas: "Ayat ini turun tentang peristiwa terbelahnya bulan yang diperlihatkan Allah kepada Nabi-Nya ﷺ." Beliau juga meriwayatkan bahwa para sahabat menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan ini adalah mukjizat yang nyata dan telah disepakati oleh para ulama. Beliau menukil kesepakatan para ulama bahwa peristiwa ini terjadi di masa Nabi ﷺ sebelum hijrah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan ayat ini bahwa Allah memberitahukan tentang dekatnya hari Kiamat dan salah satu tanda-tandanya yang telah terjadi, yaitu terbelahnya bulan. Ini adalah mukjizat yang agung yang Allah berikan kepada Nabi-Nya ﷺ.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Peristiwa terbelahnya bulan adalah mukjizat yang nyata.
Peristiwa ini terjadi di Mekkah ketika orang-orang musyrik menantang Nabi ﷺ untuk menunjukkan bukti kenabian. Imam Al-Qurthubi (meskipun tidak masuk dalam daftar rujukan, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama dalam daftar) - namun yang jelas, Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa peristiwa ini telah disepakati terjadi oleh para ulama Ahlus Sunnah. Beliau menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang hal ini mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan banyak sahabat).
Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik, disebutkan bahwa penduduk Mekkah meminta Nabi ﷺ menunjukkan mukjizat, maka Allah membelah bulan. Dalam riwayat dari sahabat Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas, mereka menyaksikan bulan terbelah menjadi dua bagian; satu bagian di atas gunung dan bagian lain di bawahnya.
Kedua: Makna "dua kali" dalam hadits.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "dua kali" dalam hadits Anas ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah beliau memperlihatkan mukjizat itu kepada mereka pada dua kesempatan yang berbeda. Namun pendapat yang lebih kuat - sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim - adalah bahwa maknanya adalah beliau memperlihatkan kepada mereka peristiwa terbelahnya bulan yang terjadi satu kali, namun dengan penyaksian yang sangat jelas sehingga seakan-akan terjadi dua kali. Atau bisa juga maknanya adalah beliau memperlihatkan kepada dua kelompok orang yang berbeda.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan terjadi hanya satu kali di masa Nabi ﷺ, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Adapun kata "dua kali" dalam hadits ini, para ulama menakwilkannya dengan beberapa penafsiran, di antaranya bahwa beliau memperlihatkan mukjizat tersebut kepada orang-orang Mekkah pada malam itu juga, dan sebagian mereka menyaksikannya dari dua sisi yang berbeda.
Ketiga: Hikmah peristiwa ini.
Peristiwa ini menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan kekuasaan Allah ﷻ yang tidak terbatas. Allah mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Ini juga menjadi bukti bahwa Al-Qur'an benar-benar firman Allah, karena Allah mengabarkan peristiwa ini dalam surat Al-Qamar, dan peristiwa itu benar-benar terjadi.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan termasuk mukjizat hissiyyah (yang dapat dirasakan dengan panca indera) yang Allah berikan kepada Nabi-Nya ﷺ. Ini menunjukkan bahwa Allah mendukung para rasul-Nya dengan mukjizat yang sesuai dengan zamannya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Ketika bulan terbelah di masa Nabi ﷺ, kami berada bersama beliau. Maka beliau bersabda: 'Saksikanlah (peristiwa ini).'"
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas'ud berkata: "Aku benar-benar melihat gunung berada di antara dua bagian bulan yang terbelah."
Peristiwa ini terjadi ketika orang-orang Quraisy menantang Nabi ﷺ. Mereka berkata, "Jika engkau benar seorang rasul, maka belahlah bulan untuk kami." Maka Nabi ﷺ berdoa kepada Allah, lalu Allah membelah bulan di hadapan mereka. Namun sebagian besar dari mereka tetap tidak beriman dan berkata, "Ini adalah sihir yang menimpa kita." Mereka berkata kepada para musafir yang datang, "Apakah kalian melihat bulan terbelah?" Para musafir menjawab, "Ya, kami melihatnya." Namun mereka tetap membangkang dan berkata, "Sihir ini telah menjangkau orang-orang yang jauh juga."
Imam Ibn Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa peristiwa ini menjadi ujian bagi manusia; ada yang beriman karenanya, namun kebanyakan mereka tetap kafir dan menganggapnya sebagai sihir.
Hikmah dari kisah ini: Mukjizat yang paling jelas sekalipun tidak akan bermanfaat bagi orang yang hatinya telah tertutup dari kebenaran. Keimanan adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada orang-orang yang ikhlas mencari kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Meyakini peristiwa terbelahnya bulan sebagai mukjizat nyata yang terjadi di masa Nabi ﷺ, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.
- Menjadikan peristiwa ini sebagai penguat iman bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Muhammad ﷺ adalah benar-benar utusan Allah.
- Bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kita iman kepada Nabi ﷺ dan mukjizat-mukjizatnya, tanpa harus menyaksikannya secara langsung.
- Tidak terjebak pada perdebatan yang tidak bermanfaat tentang detail peristiwa ini, namun cukup meyakininya secara global sebagaimana yang diberitakan.
- Meneladani sikap para sahabat yang langsung beriman ketika menyaksikan mukjizat, berbeda dengan orang-orang kafir yang tetap membangkang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.