Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 28 tentang Iman dan tauhid sebagai kunci masuk surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kalimat tauhid dan rukun iman yang diucapkan dengan keyakinan penuh. Siapa pun yang mengucapkan syahadat, beriman kepada Allah, Rasul-Nya, Nabi Isa ‘alaihissalam sesuai hakikatnya, serta meyakini kebenaran surga dan neraka, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari pintu mana pun yang ia kehendaki. Ini adalah kabar gembira bagi ahli tauhid yang istiqamah di atas iman yang benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab: "Bab Siapa yang Menemui Allah dengan Iman dan Tidak Ragu di Dalamnya Masuk Surga dan Terhindar dari Api Neraka", nomor 28.

Teks hadits yang mulia:

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، - يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ - عَنِ ابْنِ جَابِرٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُمَيْرُ بْنُ هَانِئٍ، قَالَ حَدَّثَنِي جُنَادَةُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ ‏"‏ ‏.‏

Maknanya: Barang siapa yang mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan putra dari hamba-Nya (Maryam), dan bahwa Isa adalah kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar, dan bahwa neraka itu benar," maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu mana pun dari delapan pintu surga yang ia kehendaki.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan kandungan hadits ini, di antaranya firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ . ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."

Juga firman Allah tentang Nabi Isa:

QS. An-Nisa' [4]: 171

يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۖ وَلَا تَقُولُوا۟ ثَلَـٰثَةٌ ۚ ٱنتَهُوا۟ خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ سُبْحَـٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ ۘ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga." Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak, milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dalam Shahih Muslim. Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan yang besar bagi orang yang mengucapkan kalimat-kalimat ini dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim sendiri, serta ulama-ulama besar lainnya seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi, menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan beberapa pokok akidah yang sangat penting:

  1. Tauhid Uluhiyah: Pengakuan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini adalah inti dari dakwah para nabi. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab-kitabnya selalu menekankan bahwa kalimat "Laa ilaaha illallah" mengharuskan seseorang untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
  2. Kenabian Muhammad ﷺ: Mengakui bahwa beliau adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ini berarti kita wajib mentaati beliau, membenarkan segala beritanya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat menekankan pentingnya mengikuti sunnah dan menjauhi bid'ah sebagai konsekuensi dari syahadat ini.
  3. Akidah yang Benar tentang Nabi Isa ‘alaihissalam: Hadits ini secara khusus menyebutkan keyakinan yang benar tentang Nabi Isa, yaitu:
  • Dia adalah hamba Allah, bukan tuhan atau anak Tuhan.
  • Dia adalah putra Maryam, seorang wanita suci yang merupakan hamba Allah.
  • Dia adalah kalimat Allah, yang diciptakan dengan firman "Kun" (Jadilah).
  • Dia adalah ruh dari Allah, yaitu ruh yang diciptakan oleh Allah dan ditiupkan kepada Maryam. Penjelasan ini sesuai dengan tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya terhadap QS. An-Nisa' [4]: 171. Beliau menjelaskan bahwa "kalimat-Nya" dan "ruh dari-Nya" bukanlah berarti bagian dari zat Allah, melainkan makhluk yang diciptakan dengan perintah-Nya.
  1. Iman kepada Hari Akhir: Meyakini bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada dan merupakan tempat kembali yang kekal. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Hadi al-Arwah dan Thariq al-Hijratain menjelaskan panjang lebar tentang hakikat surga dan neraka serta pengaruh keyakinan ini dalam amal seorang hamba.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus disertai keyakinan yang mantap di hati. Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam syarhnya terhadap hadits-hadits pilihan sering mengingatkan bahwa syarat "Laa ilaaha illallah" adalah ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, dan menerima konsekuensinya.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat mulia, Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, perawi hadits ini, beliau adalah seorang sahabat yang ikut dalam Perang Badar dan termasuk dalam kelompok yang berbaiat di malam Aqabah. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat teguh dalam akidah dan tidak takut dalam menyampaikan kebenaran.

Suatu ketika, di masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, Ubadah bin ash-Shamit menyampaikan hadits-hadits Rasulullah ﷺ tentang keutamaan tauhid dan larangan berbuat syirik. Beliau tidak gentar meskipun berada di tengah penguasa. Ini menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang paling paham tentang makna syahadat dan paling berani dalam mengamalkannya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa iman yang benar harus diucapkan, diyakini, dan diamalkan dalam kehidupan, termasuk dalam beramar ma'ruf nahi munkar.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh penghayatan dan keyakinan, bukan sekadar di lisan.
  2. Pelajarilah makna syahadat dan konsekuensinya, yaitu meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
  3. Luruskan akidah tentang Nabi Isa ‘alaihissalam sesuai dengan Al-Qur'an dan sunnah, bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah, bukan tuhan atau anak Tuhan.
  4. Teguhkan iman kepada hari akhir, yaitu surga dan neraka, karena keyakinan ini akan mendorong kita untuk giat beramal saleh dan menjauhi maksiat.
  5. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk terus memperbaiki iman dan amal, karena janji Allah dan Rasul-Nya adalah benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.