Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan proses penciptaan alam semesta selama enam hari, dimulai dari hari Sabtu hingga Kamis, dan puncaknya penciptaan Nabi Adam pada hari Jumat setelah Ashar. Hadits ini perlu dipahami dengan hati-hati karena terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kesesuaiannya dengan ayat Al-Qur'an yang menyebutkan penciptaan dalam enam hari. Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim sendiri meriwayatkannya, namun ulama lain seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Hajar al-Asqalani memberikan penjelasan khusus agar tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 54
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
"Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy."
QS. Qaf [50]: 38
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Permulaan Penciptaan dan Penciptaan Adam a.s., nomor 2789. Perawi dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits yang perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Beliau menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami hari-hari penciptaan ini, apakah sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an atau ada penjelasan khusus.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyebutkan rincian penciptaan selama enam hari yang dimulai dari hari Sabtu hingga Kamis, dan puncaknya penciptaan Adam pada hari Jumat. Namun, jika kita perhatikan ayat Al-Qur'an, Allah menyebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi terjadi dalam enam masa (QS. Al-A'raf: 54). Pertanyaannya, apakah enam hari yang dimaksud dalam hadits ini sama dengan enam masa dalam Al-Qur'an?
Pendapat Ulama:
- Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits ini, namun keduanya tidak memberikan komentar yang menolak atau menerima secara mutlak. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya juga meriwayatkan hadits serupa dan beliau tidak menganggapnya bertentangan dengan Al-Qur'an.
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Hajar al-Asqalani memberikan penjelasan bahwa hadits ini perlu dipahami dengan konteks bahwa hari-hari yang disebutkan adalah hari-hari dalam seminggu yang kita kenal, namun penciptaan itu sendiri terjadi dalam enam masa yang tidak harus sama persis dengan perhitungan hari kita. Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam akhbar ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu perawi) dan tidak boleh dijadikan dasar untuk menafsirkan Al-Qur'an secara tekstual.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang gharib (asing) dan perlu ditafsirkan. Beliau menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa enam hari dalam hadits ini adalah enam hari yang berbeda dengan enam masa dalam Al-Qur'an, karena dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa langit dan bumi diciptakan dalam enam masa, sedangkan dalam hadits ini disebutkan penciptaan bumi dan isinya secara rinci.
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menyatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad, namun perlu dipahami bahwa rincian hari-hari ini adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah dan bukan untuk dijadikan dasar perhitungan waktu penciptaan secara pasti.
Kesimpulan Ulama:
Mayoritas ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan oleh Ibn Hajar dan An-Nawawi, berpendapat bahwa hadits ini tidak boleh dijadikan dasar untuk menetapkan bahwa penciptaan alam semesta terjadi dalam enam hari yang kita kenal (Senin, Selasa, dll). Sebaliknya, hadits ini adalah informasi tambahan yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu secara bertahap dan teratur. Adapun enam masa dalam Al-Qur'an adalah enam periode yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ memegang tanganku lalu bersabda sebagaimana dalam hadits di atas." Kisah ini menunjukkan betapa dekatnya para sahabat dengan Nabi ﷺ, sehingga mereka mendapatkan ilmu langsung dari beliau. Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits karena beliau selalu bersama Nabi ﷺ dan memiliki hafalan yang kuat.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita sebagai umat Islam harus bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu tentang penciptaan alam semesta yang menunjukkan kebesaran Allah. Namun, kita juga harus berhati-hati dalam memahami hadits-hadits yang berkaitan dengan hal-hal ghaib, karena tidak semua hadits bisa ditafsirkan secara tekstual tanpa merujuk kepada Al-Qur'an dan penjelasan ulama.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam semesta secara bertahap dan teratur, bukan sekaligus.
- Kita tidak boleh menjadikan hadits ini sebagai dasar untuk menghitung hari penciptaan secara pasti, karena hal itu termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah.
- Dalam memahami hadits, kita harus merujuk kepada penjelasan ulama yang kompeten, seperti Imam An-Nawawi, Ibn Hajar, dan ulama Ahlus Sunnah lainnya.
- Hadits ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan pentingnya bersyukur atas nikmat penciptaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.