Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2786 tentang Kekuasaan Allah menggenggam seluruh alam pada hari kiamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah ﷻ pada Hari Kiamat, di mana seluruh makhluk—langit, bumi, gunung, pohon, air, dan seluruh ciptaan—berada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa berita tentang kebesaran Allah yang disampaikan oleh Ahli Kitab (ulama Yahudi) dibenarkan oleh Nabi ﷺ, bahkan beliau tersenyum dan membacakan ayat Al-Qur'an yang menguatkannya. Ini adalah dalil tentang keagungan Allah yang wajib kita imani tanpa menanyakan "bagaimana" caranya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."

Hadits yang diriwayatkan:

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang ulama Yahudi (habr) datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, 'Wahai Muhammad, atau wahai Abal Qasim, sesungguhnya Allah menahan langit-langit pada Hari Kiamat di atas satu jari, dan bumi-bumi di atas satu jari, dan gunung-gunung serta pepohonan di atas satu jari, dan air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari. Kemudian Dia menggoyangkan mereka seraya berfirman, 'Akulah Raja, Akulah Raja.' Maka Rasulullah ﷺ tertawa karena heran terhadap apa yang dikatakan ulama Yahudi itu, sebagai pembenaran terhadapnya. Kemudian beliau membaca: 'Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya...'" (HR. Muslim no. 2786)

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 17, hlm. 128-130) dengan menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat Allah yang wajib kita imani sebagaimana adanya, tanpa ta'wil (mengubah makna), tanpa tahrif (menyimpangkan), tanpa takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa ta'thil (menolak makna).

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

1. Makna "Jari" dalam Hadits Ini

Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang firman Allah "Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsy" (QS. Thaha [20]: 5), beliau menjawab: "Istiwa' itu diketahui maknanya, cara (bagaimana)nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini adalah prinsip yang sama yang diterapkan para ulama terhadap hadits tentang "jari" ini.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Kami mengimani hadits-hadits ini dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa memaknai dengan makna lain. Kami tidak menolak satu pun darinya, dan kami yakin bahwa Rasulullah ﷺ telah menyampaikan kebenaran."

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa menetapkan sifat "jari" bagi Allah adalah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ, namun kita tidak mengetahui hakikatnya karena Allah berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia" (QS. Asy-Syura [42]: 11).

2. Makna "Menggoyangkan" dan "Akulah Raja"

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya At-Takhwif min an-Nar menjelaskan bahwa penggambaran ini menunjukkan betapa dahsyatnya Hari Kiamat. Seluruh makhluk yang sangat besar seperti langit dan bumi, digenggam oleh Allah dan digoyangkan seperti seseorang menggoyangkan benda kecil di tangannya. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak dan kehinaan seluruh makhluk di hadapan-Nya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan ayat ini: "Ini adalah pengagungan terhadap Allah dan peringatan tentang kebesaran-Nya. Seluruh bumi dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan bahwa seluruh makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya."

3. Pembenaran Nabi ﷺ terhadap Berita Ahli Kitab

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membenarkan berita ulama Yahudi ini karena berita tersebut sesuai dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa berita-berita dari Ahli Kitab yang sesuai dengan syariat kita boleh dibenarkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka" (HR. Bukhari), namun jika berita mereka sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits shahih, maka kita membenarkannya.

4. Larangan Menanyakan "Bagaimana"

Imam Abu Ja'far ath-Thahawi (meski tidak dalam daftar, namun prinsip ini dipegang oleh ulama dalam daftar) — namun yang jelas, Imam al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah menegaskan: "Janganlah engkau mengatakan 'bagaimana' (tentang sifat Allah), karena hal itu adalah bid'ah."

Syeikh Shalih al-Fauzan dalam Syarah Aqidah al-Wasithiyah menjelaskan bahwa menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits adalah wajib, dan menolaknya atau menanyakan "bagaimana" adalah kesesatan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas pernah ditanya oleh seseorang tentang firman Allah "Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsy". Beliau menjawab dengan jawaban yang sangat dalam: "Istiwa' (bersemayam) itu diketahui maknanya, cara (bagaimana)nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Kemudian beliau memerintahkan orang itu untuk keluar dari majelisnya.

Kisah ini menunjukkan adab para ulama salaf dalam menghadapi ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah. Mereka tidak memalingkan maknanya, tidak menolaknya, dan tidak pula menanyakan bagaimana hakikatnya. Mereka cukup mengimani dan membenarkan, karena akal manusia terbatas untuk menjangkau hakikat sifat-sifat Allah.

Hikmah dari kisah ini: kita harus menjaga lisan dan hati kita dari membahas hal-hal yang tidak kita ketahui tentang Allah. Cukup mengimani apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, karena itu adalah bentuk penghambaan yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, termasuk sifat "jari" dalam hadits ini, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.
  2. Tidak boleh mengubah makna (ta'wil), menolak (ta'thil), atau menyerupakan dengan makhluk (tamtsil). Allah berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia" (QS. Asy-Syura [42]: 11).
  3. Merenungkan kebesaran Allah melalui ayat dan hadits ini agar hati kita semakin khusyuk dan takut kepada Allah, serta tidak sombong di muka bumi.
  4. Membenarkan berita yang sesuai dengan Al-Qur'an dan sunnah, meskipun datang dari non-Muslim, selama tidak bertentangan dengan syariat.
  5. Menjaga adab dalam bertanya tentang agama, yaitu bertanya kepada ulama yang benar-benar berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.