Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa agungnya keutamaan shalat berjamaah. Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ mengaku telah melakukan perbuatan yang mengharuskan dirinya dihukum (had). Namun, karena ia ikut shalat berjamaah bersama Nabi ﷺ, beliau menyatakan bahwa dosanya telah diampuni. Ini adalah dalil bahwa amal shalih, terutama shalat, dapat menghapus dosa-dosa kecil dan menjadi sebab turunnya ampunan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Hud [11]: 114.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman:
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ
"Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)." (QS. Hud [11]: 114)
2. Hadits Terkait
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Taubat, Bab "Firman-Nya: Sesungguhnya amal-amal baik menghapuskan amal-amal buruk", no. 2764, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
"Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim no. 233)
3. Kaitan dengan Ulama
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah dan bahwa shalat dapat menjadi sebab diampuninya dosa. Beliau juga menukil bahwa para ulama memahami hadits ini sebagai dalil bahwa amal shalih menghapus dosa-dosa kecil, bukan dosa besar, kecuali dengan taubat nasuha.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa makna hadits ini sangat erat kaitannya dengan firman Allah dalam QS. Hud [11]: 114, "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk."
Pertama, hadits ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah yang dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk memiliki keutamaan yang sangat besar. Laki-laki dalam hadits ini datang mengaku telah berbuat dosa yang pantas dihukum, namun karena ia sempat shalat berjamaah bersama Nabi ﷺ, beliau menyatakan dosanya telah diampuni. Ini bukan berarti hukuman had menjadi gugur secara mutlak, tetapi ini adalah kasus khusus di mana Nabi ﷺ mengetahui dari keadaan laki-laki tersebut bahwa ia telah bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan shalatnya menjadi tanda keimanan dan taubatnya.
Kedua, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa amal-amal shalih menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka ia tidak terhapus kecuali dengan taubat nasuha, atau dengan rahmat Allah yang luas. Beliau bersandar pada hadits Abu Hurairah yang menyebutkan "selama dosa-dosa besar dijauhi."
Ketiga, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa shalat adalah sebaik-baik amal dan ia memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membersihkan hati dan menghapus dosa. Shalat yang dilakukan dengan menghadirkan hati, khusyuk, dan memahami maknanya akan menjadi cahaya bagi pelakunya di dunia dan akhirat.
Keempat, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Setiap kali seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapus keburukan yang telah ia lakukan sebelumnya. Ini adalah rahmat Allah yang sangat luas.
Kelima, perlu dipahami bahwa pengampunan dalam hadits ini tidak serta-merta menggugurkan hukuman had jika seseorang benar-benar terbukti melakukan pelanggaran yang mengharuskan had. Namun, dalam kasus ini, Nabi ﷺ melihat bahwa laki-laki tersebut telah bertaubat dan shalatnya adalah bukti keimanannya. Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang disertai amal shalih dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa, dan ini adalah karunia Allah.
Keenam, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa shalat adalah tiang agama dan amal yang paling utama. Barangsiapa menjaga shalatnya, maka ia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa melalaikannya, maka ia akan lebih melalaikan amal-amal lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi ﷺ dengan perasaan gelisah dan menyesal. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa yang mengharuskan aku dihukum, maka tegakkanlah hukuman itu atasku."
Nabi ﷺ tidak langsung menjawab, karena saat itu waktu shalat telah tiba. Maka beliau shalat berjamaah bersama para sahabat, dan laki-laki itu ikut shalat di belakang beliau. Setelah shalat selesai, laki-laki itu kembali mengulangi permintaannya, "Wahai Rasulullah, aku telah berbuat dosa, maka tegakkanlah hukuman Kitab Allah atasku."
Maka Nabi ﷺ bertanya kepadanya, "Apakah engkau tadi ikut shalat bersama kami?"
Ia menjawab, "Ya, wahai Rasulullah."
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, dosamu telah diampuni."
Lihatlah, saudaraku. Laki-laki itu datang dengan hati yang menyesal, lalu ia mengikuti shalat berjamaah. Dan Allah mengampuni dosanya karena kehadirannya dalam shalat dan kejujuran taubatnya. Ini adalah pelajaran bahwa pintu taubat selalu terbuka, dan shalat adalah sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah serta menghapus dosa-dosa.
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat lima waktu, terutama shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki, karena ia adalah amal yang paling utama dan penghapus dosa.
- Segera bertaubat ketika melakukan dosa, jangan menunda-nunda, karena taubat yang jujur akan menghapus dosa dengan izin Allah.
- Perbanyak amal shalih setelah melakukan kesalahan, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
- Jangan meremehkan dosa kecil, tetapi juga jangan berputus asa dari rahmat Allah. Keduanya adalah dua hal yang harus dijaga keseimbangannya.
- Jauhi dosa-dosa besar, karena dosa besar tidak terhapus hanya dengan amal shalih biasa, melainkan harus dengan taubat nasuha yang tulus.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.