Penjelasan Hadits Muslim No. 2762 tentang Cemburu Allah terhadap perbuatan keji dan dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang sifat Allah yang Maha Cemburu (al-Ghayrah). Rasa cemburu Allah adalah sifat kesempurnaan-Nya, yang berarti Allah sangat membenci dan murka apabila hamba-Nya melanggar batas-batas-Nya, terutama dengan melakukan perbuatan keji dan zina. Ini adalah kabar gembira sekaligus peringatan keras agar kita senantiasa menjaga diri dan menjauhi segala hal yang Allah haramkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab at-Taubah, Bab "Ghayrah Allah dan Pengharaman Perbuatan Keji", nomor 2762. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab an-Nikah, Bab "Ghayrah", nomor 7416, dari jalur yang sama.

Teks Hadits (dengan harakat lengkap):

قَالَ يَحْيَى وَحَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ، أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "لَيْسَ شَيْءٌ أَغْيَرَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ"

Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih cemburu daripada Allah 'Azza wa Jalla."

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' [17]: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melarang hamba-Nya mendekati zina, karena itu adalah perbuatan keji yang sangat dibenci-Nya. Ini adalah wujud dari kecemburuan Allah terhadap kehormatan hamba-Nya.

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna ghayrah (cemburu) bagi Allah adalah kebencian-Nya yang sangat terhadap perbuatan keji dan larangan-Nya terhadap hal tersebut. Ini adalah sifat yang layak bagi Allah, bukan seperti cemburu makhluk yang didasari oleh kelemahan atau rasa tidak aman.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ghayrah (الغيرة) secara bahasa berarti kecemburuan atau perasaan tidak rela jika sesuatu yang menjadi haknya diganggu atau dilanggar. Namun, ketika sifat ini disandarkan kepada Allah, maka maknanya harus dipahami sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.

1. Makna Ghayrah Allah:

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa ghayrah Allah adalah kecemburuan-Nya yang suci terhadap hal-hal yang diharamkan-Nya. Allah cemburu apabila hamba-Nya melanggar batas-batas yang telah Dia tetapkan, seperti melakukan perbuatan zina, syirik, dan maksiat lainnya. Ini adalah sifat yang sempurna dan layak bagi Allah, karena Allah adalah Dzat yang Maha Suci dan tidak menyukai keburukan.

2. Hubungan dengan Pengharaman Perbuatan Keji:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ghayrah Allah inilah yang menjadi alasan diharamkannya perbuatan keji (fawahisy), terutama zina. Karena zina adalah pelanggaran terhadap kehormatan, maka Allah mengharamkannya dan mengharamkan pula segala hal yang dapat mengantarkan kepadanya, seperti melihat dengan syahwat, berdua-duaan dengan lawan jenis, dan lain sebagainya.

3. Perbedaan dengan Cemburu Makhluk:

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa cemburu makhluk terkadang muncul karena kelemahan, ketakutan kehilangan, atau ketidakmampuan. Sedangkan cemburu Allah adalah murni dari kesempurnaan-Nya, karena Allah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Cemburu Allah tidaklah mengurangi keadilan dan kasih sayang-Nya, justru ghayrah-Nya adalah bentuk kasih sayang agar hamba-Nya tidak terjerumus ke dalam kebinasaan.

4. Peringatan bagi Umat:

Hadits ini juga menjadi peringatan bahwa Allah akan murka kepada hamba-Nya yang berani melanggar larangan-Nya. Imam adz-Dzahabi dalam al-Kaba'ir menyebutkan bahwa dosa zina termasuk dosa besar yang paling dibenci Allah, karena ia merusak kehormatan, keturunan, dan tatanan masyarakat.

Story Telling

Diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih cemburu daripada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Muslim)

Kemudian dalam riwayat lain yang juga shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ

"Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan sesungguhnya orang mukmin itu juga cemburu. Dan kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin mengerjakan apa yang Allah haramkan atasnya." (HR. Muslim, no. 2761)

Para ulama menyebutkan bahwa rasa cemburu yang terpuji pada manusia adalah bagian dari iman. Sahabat Nabi yang terkenal dengan kecemburuannya adalah Sa'd bin Ubadah radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika ia berkata kepada Nabi ﷺ bahwa ia sangat cemburu terhadap istrinya, bahkan jika melihat istrinya bersama laki-laki lain, ia akan segera bertindak. Maka Nabi ﷺ bersabda:

أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي

"Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'd? Sungguh aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku." (HR. Muslim, no. 2760)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kecemburuan yang terpuji adalah ketika seseorang tidak rela melihat kemungkaran terjadi, baik pada dirinya maupun pada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ini adalah sifat yang dicintai Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini sifat ghayrah Allah sebagai sifat kesempurnaan-Nya yang menunjukkan kebencian-Nya terhadap perbuatan keji dan maksiat.
  2. Jauhi segala bentuk perbuatan keji, terutama zina dan segala hal yang mengantarkan kepadanya, seperti melihat tanpa menjaga pandangan, berdua-duaan, dan bergaul bebas.
  3. Tumbuhkan rasa cemburu yang terpuji dalam diri kita, yaitu tidak rela melihat kemungkaran terjadi di lingkungan kita, dan berusaha mencegahnya sesuai kemampuan.
  4. Jaga kehormatan diri dan keluarga dengan menanamkan nilai-nilai agama, karena ghayrah Allah adalah bukti bahwa Allah sangat menjaga hamba-Nya dari kebinasaan.
  5. Perbanyak taubat dan istighfar jika pernah terjerumus dalam maksiat, karena Allah Maha Pengampun dan mencintai hamba-Nya yang bertaubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?