Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2747 tentang Kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya yang tulus

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits yang paling agung dan penuh harapan tentang luasnya rahmat Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ menggambarkan betapa besarnya kegembiraan Allah atas pertobatan seorang hamba, melebihi kegembiraan seseorang yang kehilangan untanya yang membawa seluruh bekal makanan dan minumannya di padang pasir yang tandus, lalu menemukannya kembali. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, dan bahwa pintu taubat selalu terbuka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab At-Taubah (Pertobatan), Bab "Dorongan untuk Bertobat dan Kegembiraan atasnya", nomor 2747, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan lafaz yang serupa.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Kaitan dengan ulama:

Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin, menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil terbesar tentang luasnya rahmat Allah dan besarnya kegembiraan-Nya atas taubat hamba-Nya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Makna "Kegembiraan" Allah ﷻ

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kegembiraan Allah di sini adalah kegembiraan yang layak bagi keagungan-Nya, bukan seperti kegembiraan makhluk. Kita mengimani bahwa Allah bersifat dengan sifat-sifat yang layak bagi-Nya, dan kita tidak menanyakan "bagaimana" caranya. Ini termasuk dalam bab Asma' wa Shifat (Nama dan Sifat Allah) yang wajib kita imani tanpa ta'thil (menolak makna), tamtsil (menyerupakan dengan makhluk), takyif (bertanya bagaimana), dan tahrif (mengubah makna).

2. Perumpamaan dalam Hadits

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa perumpamaan ini sangat jelas dan dekat dengan pemahaman manusia. Seseorang yang kehilangan untanya di padang pasir yang tandus, yang membawa seluruh makanan dan minumannya, pasti akan putus asa. Ia tahu bahwa tanpa unta itu, ia akan mati kehausan dan kelaparan. Ketika ia sudah benar-benar putus asa dan berbaring di bawah pohon menunggu kematian, tiba-tiba unta itu datang berdiri di hadapannya. Betapa luar biasa kegembiraannya! Bahkan karena sangat gembira, ia salah ucap: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu."

3. Pelajaran dari Kesalahan Ucapan Orang Tersebut

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa kesalahan ucapan orang itu disebutkan dalam hadits untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kegembiraan yang ia rasakan, sampai-sampai lidahnya tidak mampu mengucapkan kalimat yang benar. Ini bukan berarti ia benar dalam ucapannya, tetapi ini menunjukkan bahwa kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya jauh lebih besar dari kegembiraan orang tersebut.

4. Keutamaan Taubat

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa taubat adalah sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertobat, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

5. Syarat-syarat Taubat

Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang diterima harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  • Ikhlas karena Allah ﷻ
  • Menyesali dosa yang telah dilakukan
  • Meninggalkan dosa tersebut seketika itu juga
  • Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi
  • Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Sesungguhnya Allah ﷻ apabila menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia membukakan pintu taubat untuknya, lalu menghiasi dirinya dengan rasa takut, kemudian menanamkan dalam hatinya rasa sedih karena dosa-dosanya, sehingga ia menjadi orang yang merendahkan diri di hadapan Allah. Maka Allah mencintainya dan para malaikat pun mencintainya."

Al-Hasan Al-Bashri juga berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya taubat itu tidaklah sulit. Cukup engkau tinggalkan dosa-dosamu, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Maka Allah akan mengampunimu. Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seorang musafir yang kehilangan untanya lalu menemukannya kembali."

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, betapa pun besarnya dosa yang telah kita lakukan. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
  2. Segera bertobat ketika menyadari kesalahan, jangan menunda-nunda. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
  3. Perbanyak istighfar dan taubat setiap hari, karena Rasulullah ﷺ sendiri beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.
  4. Jadikan hadits ini sebagai penghibur hati ketika merasa berdosa dan berat dengan dosa-dosa masa lalu. Allah lebih gembira dengan taubat kita.
  5. Penuhi syarat-syarat taubat dengan sungguh-sungguh, terutama jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka selesaikanlah dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.