Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika memasuki waktu sore (petang). Isinya adalah pengakuan bahwa seluruh kerajaan dan kekuasaan hanyalah milik Allah, pujian hanya bagi-Nya, lalu permohonan kebaikan malam tersebut dan perlindungan dari kejahatannya, serta perlindungan dari kemalasan, keburukan masa tua, dan siksa neraka serta kubur. Ini adalah salah satu dzikir petang yang sangat lengkap, menggabungkan tauhid, pujian, dan permohonan perlindungan dari berbagai keburukan dunia dan akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan harakat sesuai periwayatan):
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُوَيْدٍ النَّخَعِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَمْسَى قَالَ: "أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ". قَالَ الْحَسَنُ فَحَدَّثَنِي الزُّبَيْدُ أَنَّهُ حَفِظَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ فِي هَذَا: "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ".
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Ad-Dzikr wa ad-Du'a wa at-Taubah wa al-Istighfar, Bab "Memohon Perlindungan dari Kejahatan Apa yang Telah Dilakukan dan dari Kejahatan Apa yang Belum Dilakukan" (no. 2723).
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Furqan [25]: 2
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
"Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini termasuk dzikir petang yang dianjurkan, dan beliau menyebutkan keutamaan memohon perlindungan dari kejahatan waktu yang akan datang.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (saat mensyarah hadits-hadits dzikir di Shahih al-Bukhari) menjelaskan makna "أمسى الملك لله" bahwa seluruh makhluk memasuki waktu sore dalam keadaan tunduk di bawah kekuasaan Allah.
- Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengakuan kerajaan hanya milik Allah adalah inti tauhid rububiyyah yang mengharuskan hamba hanya meminta dan berlindung kepada-Nya.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna "أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ"
Ucapan ini adalah pengakuan bahwa kita dan seluruh makhluk telah memasuki waktu sore dalam keadaan Allah-lah Pemilik kerajaan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ungkapan ini mengandung makna tadabbur bahwa seluruh alam semesta—langit, bumi, dan isinya—berada di bawah kekuasaan Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan hakiki. Ini adalah penguatan tauhid rububiyyah di hati seorang hamba setiap kali berganti waktu.
Kedua: "وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ"
Setelah mengakui kerajaan Allah, hamba memuji-Nya dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa pujian (al-hamd) adalah ungkapan cinta dan pengagungan kepada Allah atas segala nikmat-Nya, sedangkan "Laa ilaaha illallah" adalah kalimat tauhid yang menjadi kunci masuk surga. Menggabungkan keduanya dalam dzikir menunjukkan bahwa seorang hamba menggabungkan pengakuan atas nikmat Allah (yang melahirkan pujian) dan pengakuan keesaan Allah (yang melahirkan ibadah).
Ketiga: "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"
Kalimat ini (menurut riwayat tambahan dari Zubaid) menegaskan kembali bahwa milik Allah-lah kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kalimat ini adalah puncak pengakuan hamba akan kesempurnaan Allah: sempurna dalam kekuasaan-Nya (al-mulk), sempurna dalam pujian-Nya (al-hamd), dan sempurna dalam kemampuan-Nya (al-qudrah). Ketika seorang hamba mengucapkannya dengan keyakinan, hatinya menjadi tenang karena ia tahu siapa yang mengatur malamnya.
Keempat: "اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا"
Ini adalah permohonan kebaikan malam yang akan dijalani dan perlindungan dari keburukannya serta keburukan setelahnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab al-Mufrad bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa ini karena malam adalah waktu yang tidak diketahui apa yang terjadi di dalamnya—bencana, musibah, atau kebaikan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa memohon kebaikan waktu yang akan datang dan berlindung dari keburukannya adalah bentuk tawakkal kepada Allah, karena hamba tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok, maka ia menyerahkan urusannya kepada Allah.
Kelima: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ"
- Al-Kasal (kemalasan): Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kemalasan adalah penyakit hati yang menghalangi seseorang dari ketaatan dan usaha yang bermanfaat. Rasulullah ﷺ sering berlindung dari kemalasan karena ia pangkal dari ditinggalkannya berbagai kewajiban.
- Su' al-Kibar (keburukan masa tua): Ini mencakup pikun, lemah akal, atau kondisi tua yang membuat seseorang tidak mampu beribadah dengan baik atau bahkan terganggu agamanya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah memohon agar masa tua seseorang tidak menjadi buruk—misalnya menjadi pikun yang kehilangan kesadaran atau menjadi beban bagi orang lain tanpa kemampuan beribadah.
Keenam: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ"
Permohonan perlindungan dari siksa neraka dan siksa kubur. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan keduanya karena siksa kubur adalah awal dari siksa akhirat, dan keduanya adalah perkara gaib yang tidak bisa dihindari kecuali dengan perlindungan Allah. Ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus selalu takut akan akhirat dan memohon keselamatan darinya.
Perbedaan Riwayat:
Dalam hadits ini terdapat dua riwayat: riwayat Abdullah bin Mas'ud yang menyebutkan doa secara ringkas, dan tambahan dari Zubaid yang meriwayatkan dari Ibrahim—yang merupakan tambahan lafaz "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ" dan seterusnya. Imam Muslim sengaja meriwayatkan kedua versi ini untuk menunjukkan bahwa tambahan lafaz tersebut shahih. Para ulama sepakat bahwa tambahan dari perawi yang tsiqah (terpercaya) diterima selama tidak bertentangan dengan yang lebih kuat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud—sahabat yang meriwayatkan hadits ini—adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam dan sering menemani Nabi ﷺ di rumah dan perjalanan. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Engkau telah diizinkan untuk masuk menemuiku, dan engkau telah diizinkan untuk mendengar rahasia-rahasia dariku." (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena kedekatannya inilah, Ibnu Mas'ud hafal banyak doa dan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ dalam berbagai kesempatan—termasuk dzikir petang ini. Beliau meriwayatkannya dengan teliti kepada murid-muridnya seperti Abdurrahman bin Yazid dan Ibrahim an-Nakha'i, yang kemudian menyebarkannya hingga sampai kepada kita.
Hikmah dari kisah ini: para sahabat sangat menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang tampak sederhana seperti dzikir petang, karena mereka memahami bahwa keberkahan hidup ada pada mengikuti Nabi ﷺ dalam setiap keadaan. Al-Hasan al-Bashri—salah satu ulama tabi'in—pernah berkata: "Sungguh, aku lebih suka duduk bersama orang-orang yang mengingat Allah di waktu petang daripada berjuang di jalan Allah dengan senjata." Ini menunjukkan betapa agungnya dzikir di waktu-waktu tersebut di sisi para salaf.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca doa ini setiap petang (setelah Ashar hingga sebelum Maghrib atau setelah Maghrib), karena ini adalah tuntunan Nabi ﷺ yang shahih.
- Renungkan maknanya saat membacanya: bahwa seluruh kerajaan milik Allah, sehingga hati menjadi tenang dan tidak takut kepada selain-Nya.
- Gabungkan antara permohonan kebaikan dan perlindungan dari keburukan—ini mengajarkan kita untuk selalu meminta yang baik dan berlindung dari yang buruk dalam setiap waktu.
- Perbanyak berlindung dari kemalasan, karena ia adalah pangkal dari ditinggalkannya ketaatan dan berbagai kebaikan.
- Jangan lupa memohon keselamatan dari siksa kubur dan neraka, karena ini adalah tujuan akhir seorang mukmin.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.