Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2721 tentang Doa memohon petunjuk, perlindungan, kesucian, dan kekayaan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa yang sangat ringkas namun mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk memohon empat perkara mulia: al-huda (petunjuk), at-tuqa (ketakwaan), al-'afaf (kesucian diri/kehormatan), dan al-ghina (kekayaan hati/kecukupan). Doa ini adalah permohonan agar kita selamat di dunia dengan akhlak yang baik dan selamat di akhirat dengan amal yang diterima.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai riwayat Shahih Muslim no. 2721):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي الأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى"

Terjemahan: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri (kehormatan), dan kekayaan (kecukupan)."

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Thaha [20]: 114

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan katakanlah (wahai Muhammad), 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'"

Ayat ini menunjukkan pentingnya memohon tambahan ilmu dan petunjuk, sebagaimana doa dalam hadits ini dimulai dengan permohonan al-huda (petunjuk).

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan kebaikan agama dan dunia. Beliau menukil bahwa al-huda adalah petunjuk yang bermanfaat, at-tuqa adalah menjauhi hal-hal yang dimurkai Allah, al-'afaf adalah menjaga diri dari hal-hal yang haram, dan al-ghina adalah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang sangat komprehensif karena menggabungkan kebaikan lahir (petunjuk) dan batin (ketakwaan), serta kebaikan diri (kesucian) dan harta (kecukupan).

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa doa ini adalah salah satu doa yang paling ringkas namun paling lengkap. Mari kita bedah satu per satu:

1. Al-Huda (الْهُدَى) - Petunjuk

Ini adalah permohonan agar Allah memberikan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa petunjuk yang paling utama adalah petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu memahami agama Allah dengan benar dan mengamalkannya dengan ikhlas. Petunjuk ini mencakup ilmu yang benar dan amal yang sesuai.

2. At-Tuqa (التُّقَى) - Ketakwaan

Ketakwaan adalah menjadikan perintah Allah sebagai perisai. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hakikat takwa, maka beliau menjawab dengan gambaran: "Engkau berjalan di jalan yang penuh duri, maka engkau akan berhati-hati dan menyingkirkan duri itu agar tidak melukaimu." Ini adalah permisalan yang sangat indah tentang bagaimana seorang mukmin harus berhati-hati dalam hidupnya agar tidak terjerumus dalam dosa.

3. Al-'Afaf (الْعَفَاف) - Kesucian Diri

Ini adalah permohonan agar Allah menjaga kehormatan kita dari perbuatan haram, baik yang berkaitan dengan perut maupun kemaluan. Imam asy-Syafi'i menjelaskan bahwa al-'afaf adalah menjaga diri dari perkara yang diharamkan dan merasa cukup dengan yang halal. Ini termasuk menjaga pandangan, lisan, dan seluruh anggota badan dari hal-hal yang dilarang.

4. Al-Ghina (الْغِنَى) - Kekayaan/Kecukupan

Yang dimaksud di sini bukan hanya kekayaan harta, tetapi yang lebih utama adalah kekayaan hati (ghina an-nafs). Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kekayaan yang hakiki adalah hati yang merasa cukup dengan Allah dan tidak tamak kepada apa yang ada di tangan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Urutan Doa Ini Sangat Bermakna:

Para ulama memperhatikan bahwa doa ini dimulai dengan al-huda (petunjuk), karena tanpa petunjuk, seseorang tidak akan bisa beramal dengan benar. Kemudian at-tuqa (ketakwaan), karena dengan petunjuk, seseorang akan takut kepada Allah. Lalu al-'afaf (kesucian diri), karena dengan ketakwaan, seseorang akan menjaga dirinya dari dosa. Dan terakhir al-ghina (kecukupan), karena dengan kesucian diri, Allah akan memberikan kecukupan di hati.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa doa ini menggabungkan permohonan untuk kebaikan agama (petunjuk dan ketakwaan) dan kebaikan dunia (kesucian diri dan kecukupan), sehingga siapa yang diberi empat perkara ini, maka ia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau adalah orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an dengan suara keras di hadapan kaum Quraisy. Suatu hari, para sahabat berkumpul dan membicarakan tentang doa yang paling sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ. Maka Abdullah bin Mas'ud berkata: "Rasulullah ﷺ biasa berdoa dengan doa ini: 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.'"

Para ulama menyebutkan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah orang yang sangat zuhud dan wara'. Beliau tidak pernah merasa iri kepada orang yang memiliki harta lebih banyak darinya, karena beliau telah memahami makna al-ghina (kekayaan hati). Beliau pernah berkata: "Sungguh aku lebih suka menjadi orang yang fakir namun sabar, daripada menjadi orang yang kaya namun lalai." Ini menunjukkan bahwa beliau telah menghayati doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah membaca doa ini setiap pagi dan petang, karena doa ini mencakup permohonan kebaikan dunia dan akhirat.
  2. Renungkan maknanya saat berdoa, jangan hanya sekadar mengucapkan tanpa memahami. Mohonlah petunjuk agar Allah membimbing kita di jalan yang lurus.
  3. Berusahalah untuk menjadi pribadi yang bertakwa, yaitu dengan menjaga diri dari segala hal yang dimurkai Allah dan menjalankan perintah-Nya.
  4. Jagalah kehormatan diri dengan menjauhi segala perbuatan haram, baik yang berkaitan dengan harta, pandangan, maupun pergaulan.
  5. Latihlah hati untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati, bukan banyaknya harta.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.