Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2717 tentang Doa berlindung dari kesesatan dan tawakal kepada Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ yang sangat agung. Isinya adalah pernyataan ketundukan total seorang hamba kepada Allah, permohonan perlindungan dari kesesatan, dan pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Hidup dan kekal, sementara seluruh makhluk-Nya (manusia dan jin) akan mati. Ini adalah doa yang menggabungkan puncak tauhid, tawakkal, dan rasa butuh seorang hamba kepada Rabbnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, Bab "Memohon Perlindungan dari Keburukan Apa yang Dilakukan dan Keburukan Apa yang Tidak Dilakukan" (no. 2717), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Makna doa ini sangat erat kaitannya dengan firman Allah tentang tawakkal dan ketundukan diri:

QS. Ali 'Imran [3]: 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

" (Yaitu) orang-orang yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.'"

Ayat ini menggambarkan sikap orang beriman yang bertawakkal penuh kepada Allah, sebagaimana doa Nabi ﷺ dalam hadits ini: "Wa 'alaika tawakkaltu" (dan kepada-Mu aku bertawakkal).

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mengandung permohonan perlindungan dari kesesatan, dan pengakuan bahwa Allah adalah Al-Hayy (Maha Hidup) yang kekal abadi, sementara semua makhluk akan mati.
  • Al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh Imam An-Nawawi) menyebutkan bahwa makna "wa bika khashamtu" adalah "dengan pertolongan-Mu dan kekuatan-Mu aku melawan musuhku dalam urusan agama dan dunia."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang sangat sarat makna, mencakup beberapa pilar keimanan:

  1. "Allahumma laka aslamtu" (Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri): Ini adalah pernyataan keislaman dan ketundukan total. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya dan menaati perintah-Nya.
  2. "Wa bika amantu" (dan aku beriman kepada-Mu): Ini adalah pernyataan iman yang mantap, tidak hanya di lisan tetapi juga di hati.
  3. "Wa 'alaika tawakkaltu" (dan kepada-Mu aku bertawakkal): Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah untuk meraih manfaat dan menolak mudharat, disertai keyakinan penuh bahwa Allah yang mengatur segala urusan.
  4. "Wa ilaika anabtu" (dan kepada-Mu aku bertaubat/kembali): Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa inabah adalah kembali kepada Allah dengan hati, menjauhi segala yang dibenci-Nya, dan menghadap sepenuhnya kepada-Nya.
  5. "Wa bika khashamtu" (dan dengan pertolongan-Mu aku melawan): Ini menunjukkan bahwa kekuatan untuk berdebat atau melawan musuh (baik musuh yang nyata maupun setan) hanyalah dengan pertolongan Allah semata.
  6. "Allahumma inni a'udzu bi'izzatika la ilaha illa anta an tudhillani" (Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku): Ini adalah puncak doa. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ berlindung dari kesesatan, karena kesesatan adalah pangkal segala keburukan. Berlindung dengan 'izzah (kemuliaan) Allah menunjukkan bahwa kita berlindung kepada Dzat Yang Maha Perkasa yang tidak terkalahkan.
  7. "Antal Hayyul ladzi la yamutu wal jinnu wal insu yamutun" (Engkau adalah Yang Maha Hidup yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati): Ini adalah pengakuan tauhid rububiyyah bahwa hanya Allah yang kekal. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah adalah Al-Hayy (Maha Hidup) dengan kehidupan yang sempurna, kekal, dan abadi, tidak seperti makhluk yang hidupnya akan berakhir dengan kematian.

Story Telling

Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau meriwayatkan doa ini. Ibnu Abbas adalah turjuman al-Qur'an (penerjemah Al-Qur'an) yang doanya sangat mustajab. Suatu ketika, Ibnu Abbas pernah ditanya tentang doa yang diajarkan Nabi ﷺ ini. Beliau menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk berlindung dari kesesatan hati.

Para ulama menyebutkan bahwa doa ini sering dibaca Nabi ﷺ di waktu-waktu genting, terutama ketika menghadapi musuh. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus selalu bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan, baik lapang maupun sempit. Hikmahnya, doa ini mengajarkan kita bahwa pertolongan yang hakiki hanya dari Allah, dan kita harus selalu merasa butuh kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perbanyak membaca doa ini, terutama di waktu pagi dan petang, atau saat menghadapi kesulitan.
  2. Renungkan maknanya: Setiap kali kita membacanya, kita sedang mengikrarkan keislaman, keimanan, tawakkal, dan taubat kita kepada Allah.
  3. Jadikan doa ini sebagai benteng perlindungan dari kesesatan hati dan pikiran, karena Nabi ﷺ sendiri berlindung darinya.
  4. Sadari kelemahan kita: Kita adalah makhluk yang lemah dan akan mati, hanya Allah yang Maha Hidup dan kekal. Ini akan menumbuhkan rasa tawadhu' dan tidak sombong.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.