Penjelasan Hadits Muslim No. 2716 tentang Doa berlindung dari keburukan yang dilakukan dan tidak dilakukan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa yang sangat agung, di mana Nabi ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dari dua hal: keburukan amal yang sudah dikerjakan (dosa yang telah dilakukan) dan keburukan amal yang belum dikerjakan (dosa yang mungkin akan dilakukan atau kebaikan yang ditinggalkan). Doa ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan menjadi teladan bagi kita untuk selalu merasa butuh perlindungan Allah, bukan merasa aman dari dosa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2716), dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Farwa' bin Naufal al-Asyja'i.

Teks doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Terjemahan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan dan dari keburukan apa yang tidak aku lakukan."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna doa ini:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

QS. Yusuf [12]: 53

Terjemahan: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Ayat ini menunjukkan bahwa jiwa manusia cenderung mengajak kepada keburukan, sehingga kita butuh perlindungan Allah, sebagaimana disebutkan oleh Qatadah bin Di'amah dan Mujahid bin Jabr dalam tafsir mereka bahwa "ammarah bis-su'" berarti nafsu yang selalu mendorong kepada dosa.

Penjelasan Rinci

Makna "keburukan apa yang aku lakukan" (شَرِّ مَا عَمِلْتُ):

Ini mencakup dosa-dosa yang telah dikerjakan, baik yang besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi. Nabi ﷺ — yang sudah dijamin ampunannya — tetap berlindung dari keburukan amal yang telah dilakukan. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa aman dari dosa dan harus terus bertaubat.

Makna "keburukan apa yang tidak aku lakukan" (شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ):

Para ulama memberikan beberapa penafsiran:

  1. Dosa yang belum dikerjakan tetapi mungkin akan dikerjakan di masa depan. Kita berlindung agar tidak jatuh ke dalamnya.
  2. Keburukan akibat meninggalkan kewajiban atau kebaikan. Sebagaimana disebutkan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, ini mencakup keburukan dari amal yang tidak dikerjakan, yaitu dosa karena meninggalkan perintah Allah.
  3. Keburukan dari amal yang tidak dilakukan karena riya' atau ujub. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa seorang hamba bisa binasa bukan hanya karena dosa yang dikerjakan, tetapi juga karena kebaikan yang ditinggalkan atau karena sifat ujub (bangga diri) terhadap amal yang sudah dilakukan.

Pemahaman para ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan perlindungan dari segala bentuk keburukan, baik yang sudah terjadi maupun yang belum, baik dari amal maupun dari dampak amal.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa doa ini termasuk doa yang paling komprehensif (jawami' al-kalim), karena mencakup perlindungan dari keburukan yang telah lalu dan yang akan datang.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat tentang taubat dan istighfar menegaskan bahwa seorang mukmin harus selalu memohon perlindungan dari keburukan amalnya, karena ia tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa doa ini mengajarkan seorang hamba untuk tidak merasa aman dari makar Allah dan selalu tunduk kepada-Nya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak memaknai "keburukan apa yang tidak aku lakukan" sebagai keburukan dari amal yang tidak dikerjakan karena malas atau lalai, sehingga menjadi dosa. Sementara Al-Hasan al-Bashri memaknainya sebagai perlindungan dari sifat riya' dan ujub yang bisa merusak amal yang sudah dikerjakan. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibn Rajab dan Ibn Qayyim — adalah bahwa doa ini mencakup keduanya: perlindungan dari dosa yang belum dikerjakan dan dari sifat-sifat buruk yang bisa merusak amal.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang doa ini, lalu beliau berkata: "Seorang hamba tidak akan selamat dari keburukan amalnya kecuali jika Allah melindunginya. Dan tidak akan selamat dari keburukan amal yang tidak dikerjakannya kecuali jika Allah menjaganya dari sifat ujub dan riya'." (Disebutkan secara makna dalam kitab-kitab zuhud dan nasihat salaf).

Kisah lain dari Fudail bin 'Iyadh, beliau berkata: "Aku heran kepada orang yang merasa aman dari dosa, padahal Nabi ﷺ saja berlindung dari keburukan amal yang telah dan belum dilakukan." Ini menunjukkan betapa para salaf sangat takut kepada Allah dan tidak pernah merasa aman dari dosa.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaklah kita menghafal dan mengamalkan doa ini dalam dzikir pagi dan petang, serta setelah shalat, karena doa ini mencakup perlindungan dari segala keburukan.
  2. Jangan merasa aman dari dosa — baik dosa yang sudah lalu maupun yang akan datang. Selalu bertaubat dan beristighfar.
  3. Berlindunglah dari sifat ujub dan riya' yang bisa merusak amal kebaikan yang sudah dikerjakan.
  4. Sadari bahwa nafsu kita cenderung kepada keburukan (QS. Yusuf: 53), sehingga kita butuh pertolongan Allah setiap saat.
  5. Teladani kerendahan hati Nabi ﷺ yang meskipun ma'shum (terjaga dari dosa) tetap berlindung kepada Allah dari keburukan amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?