Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ beristinja (membersihkan diri setelah buang air) dengan menggunakan air. Ini adalah salah satu cara bersuci yang paling utama dan sempurna, sebagaimana dipraktikkan langsung oleh beliau. Hadits ini juga mengajarkan adab pelayanan kepada orang tua, guru, atau pemimpin, serta pentingnya menyiapkan sarana kebersihan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Thaharah, Bab Istinja dengan Air dari Buang Air, nomor 271. Teks haditsnya adalah sebagai berikut:
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَغُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ
Makna hadits: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ masuk ke tempat buang air (khala'), beliau membawa serta Anas dan seorang anak seusianya yang membawa idawah (wadah kecil dari kulit berisi air) dan 'anazah (tongkat yang ujungnya runcing/besi). Lalu beliau beristinja dengan air tersebut.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Meskipun tidak ada ayat yang secara spesifik membahas tata cara istinja, Allah ﷻ berfirman tentang pentingnya kebersihan:
QS. Al-Baqarah [2]: 222
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya beristinja dengan air, dan bahwa air adalah alat bersuci yang paling utama.
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (saat mensyarah hadits-hadits thaharah) menjelaskan bahwa penggunaan air untuk istinja adalah praktik yang paling sempurna dan bersih, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Disyariatkannya Istinja dengan Air
Hadits ini adalah dalil utama bahwa beristinja dengan air adalah perkara yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ. Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam madzhab sepakat bahwa istinja dengan air adalah sah dan merupakan cara yang paling utama. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa air adalah alat istinja yang paling sempurna karena membersihkan secara menyeluruh.
- Bolehnya Menggunakan Batu atau Sejenisnya, Namun Air Lebih Utama
Para ulama menjelaskan bahwa istinja boleh dengan tiga batu atau sejenisnya (seperti tisu), sebagaimana hadits-hadits lain. Namun, menggunakan air adalah yang paling utama karena menghilangkan najis secara sempurna. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang beristinja dengan batu, dan terkadang dengan air, tetapi yang paling sering dan paling sempurna adalah dengan air.
- Adab Pelayanan dan Tolong-Menolong dalam Kebaikan
Hadits ini juga menunjukkan adab mulia dari Anas bin Malik yang dengan senang hati melayani kebutuhan Nabi ﷺ. Ini mengajarkan bahwa melayani orang tua, guru, atau pemimpin dalam hal yang mubah adalah perbuatan terpuji, selama tidak melanggar syariat.
- Kebersihan adalah Bagian dari Iman
Perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan diri, bahkan dalam hal yang dianggap remeh oleh sebagian orang, menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan kebersihan. Imam Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah menegaskan bahwa mengikuti sunnah dalam perkara kecil sekalipun adalah tanda kesempurnaan iman.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang paling lama melayani Nabi ﷺ, yaitu selama sepuluh tahun. Beliau selalu siap sedia memenuhi kebutuhan Rasulullah ﷺ, termasuk dalam hal yang sangat sederhana seperti menyiapkan air untuk istinja.
Dalam riwayat lain, Anas berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata 'ah' (tanda tidak suka) kepadaku atas sesuatu yang kulakukan, dan tidak pernah berkata 'kenapa kamu lakukan ini?' atau 'kenapa kamu tidak lakukan itu?'" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa melayani dengan ikhlas dan penuh kesabaran akan melahirkan keberkahan. Anas bin Malik mendapatkan kedudukan mulia karena pengabdiannya yang tulus kepada Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Bersuci dengan air adalah cara istinja yang paling utama dan sempurna, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Jika tidak ada air, boleh menggunakan batu, tisu, atau sejenisnya yang suci dan dapat membersihkan, dengan syarat minimal tiga kali usapan.
- Melayani orang tua, guru, atau pemimpin dalam hal yang baik adalah perbuatan mulia dan dicontohkan oleh para sahabat.
- Menjaga kebersihan dalam segala hal, sekecil apa pun, adalah bagian dari keimanan dan kecintaan kepada Allah ﷻ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.