Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2707 tentang Memohon perlindungan dari takdir buruk dan bencana berat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari empat perkara yang berat: keburukan takdir (qadha), kesengsaraan yang menimpa, kegembiraan musuh atas musibah kita, dan bencana yang sangat berat. Ini adalah bentuk tawadhu dan pengakuan bahwa segala urusan ada di tangan Allah, serta bukti bahwa doa adalah senjata seorang mukmin dalam menghadapi segala ketentuan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ad-Da'awat (Doa-Doa), Bab Ta'awwudz min Su'il Qadha' wa Darakisy Syaqa' (Bab Berlindung dari Keburukan Takdir dan Kesengsaraan), no. 2707.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina'." (QS. Ghafir [40]: 60)

Ayat ini menunjukkan keutamaan dan perintah berdoa, yang merupakan inti dari hadits ini—bahwa Nabi ﷺ sendiri senantiasa berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna setiap frasa dalam hadits ini secara rinci, sebagaimana akan kita bahas.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits-hadits senada tentang ta'awwudz (memohon perlindungan) dalam konteks syarah hadits-hadits doa.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung empat permohonan perlindungan yang sangat penting bagi seorang mukmin:

1. Dari keburukan qadha' (سُوءِ الْقَضَاءِ)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna su'il qadha' adalah keburukan yang telah ditakdirkan Allah menimpa hamba-Nya, seperti musibah, penyakit, dan berbagai ujian. Ini BUKAN berarti berlindung dari takdir Allah itu sendiri, karena takdir Allah tidak bisa ditolak. Akan tetapi, maknanya adalah berlindung dari dampak buruk takdir tersebut, atau dari keburukan yang ada di dalamnya. Beliau juga menyebutkan pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah berlindung dari qadha' yang buruk yaitu hukuman dan azab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa berdoa memohon perlindungan dari keburukan takdir tidaklah bertentangan dengan ridha terhadap takdir. Karena doa itu sendiri adalah bagian dari takdir. Allah telah menakdirkan bahwa hamba-Nya akan berdoa dan Allah akan mengabulkannya, sehingga musibah itu terangkat. Ini menunjukkan bahwa doa adalah sebab yang Allah tetapkan untuk menolak keburukan.

2. Dari kesengsaraan (دَرَكِ الشَّقَاءِ)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa darakisy syaqa' berarti turunnya seseorang ke dalam kesengsaraan dan kebinasaan. Ini mencakup kesengsaraan dunia seperti kemiskinan yang menyengsarakan, penyakit yang berkepanjangan, dan juga kesengsaraan akhirat yaitu masuk neraka. Nabi ﷺ berlindung dari segala bentuk kesengsaraan yang menghinakan.

3. Dari kegembiraan musuh (شَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ)

Syamatatul a'da' adalah kegembiraan musuh ketika melihat kita tertimpa musibah. Ini adalah ujian yang sangat berat bagi jiwa. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa ketika musuh bergembira atas musibah kita, itu menambah kepedihan dan kesedihan. Maka Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung dari hal ini, karena itu adalah bentuk kehinaan di hadapan musuh.

4. Dari bencana yang berat (جَهْدِ الْبَلاَءِ)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa jahdil bala' adalah bencana yang sangat berat yang menghabiskan kekuatan dan kemampuan seseorang, atau bencana yang menimpa pada jiwa, harta, dan keluarga secara bersamaan. Ini adalah ujian yang sangat berat yang bisa membuat seseorang kehilangan kesabaran dan keimanan.

Catatan Penting tentang Keraguan Sufyan bin 'Uyainah:

Dalam riwayat ini, Imam Sufyan bin 'Uyainah ragu apakah ia menambahkan satu frasa dari empat frasa tersebut. Namun Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari jalur lain yang lebih lengkap, dan para ulama hadits menetapkan bahwa keempat frasa tersebut semuanya shahih dari Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini shahih dengan seluruh lafazhnya.

Pelajaran dari Hadits:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya dan bahkan dianjurkannya memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, meskipun semuanya sudah ditakdirkan. Karena doa adalah ibadah dan juga sebab untuk menolak keburukan. Ini tidak bertentangan dengan sabar dan ridha terhadap takdir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits dari Rasulullah ﷺ. Beliau pernah berkata: "Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim)

Lihatlah bagaimana para sahabat dan ulama salaf senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari segala keburukan, meskipun mereka adalah orang-orang yang paling bertakwa. Ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata orang beriman di setiap keadaan, dan tidak ada seorang pun yang merasa aman dari keburukan kecuali dengan perlindungan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara ini, sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama di waktu-waktu mustajab.
  2. Jangan merasa aman dari ujian — karena ujian bisa datang kepada siapa saja, dan kita harus selalu bersandar kepada Allah.
  3. Doa tidak bertentangan dengan sabar dan ridha terhadap takdir — justru doa adalah bentuk ibadah dan pengakuan kelemahan kita di hadapan Allah.
  4. Berlindung dari syamatatul a'da' mengajarkan kita untuk tidak sombong saat menang dan tidak larut dalam kesedihan saat kalah, karena semua itu ada di tangan Allah.
  5. Amalkan doa ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi kesulitan atau sebelum tidur.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.