Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2700 tentang Keutamaan majelis dzikir dan rahmat Allah padanya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi setiap muslim yang meluangkan waktunya untuk duduk berdzikir dan mengingat Allah. Hadits ini menjelaskan empat keutamaan agung yang akan diperoleh oleh orang-orang yang berkumpul untuk berdzikir: dikelilingi malaikat, diliputi rahmat Allah, turunnya ketenangan (sakinah), dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk mulia di sisi-Nya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian dan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, Bab Keutamaan Berkumpul untuk Membaca Al-Qur'an dan Berdzikir (no. 2700). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari jalur lain.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Ayat ini menunjukkan bahwa balasan bagi orang yang berdzikir kepada Allah adalah Allah akan menyebut-nyebutnya. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits di atas: "Allah menyebut mereka di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya."

Hadits terkait lainnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah kumpulan orang banyak, maka Aku mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik daripada mereka (yaitu para malaikat).'" (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar berkumpul untuk berdzikir, dan bahwa hal ini termasuk amalan yang dicintai Allah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir adalah makanan hati dan ruh, dan dengan dzikir seseorang akan mendapatkan ketenangan dan kedekatan dengan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat memotivasi untuk menghidupkan majelis-majelis dzikir. Mari kita bedah satu per satu keutamaannya:

  1. "حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ" (Mereka dikelilingi oleh para malaikat): Ini adalah kehormatan yang sangat besar. Para malaikat yang mulia turun dan mengelilingi majelis dzikir tersebut. Ini menunjukkan bahwa majelis dzikir adalah majelis yang dihadiri oleh makhluk-makhluk Allah yang paling taat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para malaikat ini turun karena cinta mereka kepada orang-orang yang berdzikir, dan mereka ikut hadir dalam majelis tersebut.
  2. "وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ" (Dan mereka diliputi oleh rahmat): Rahmat Allah yang luas dan agung akan menaungi dan menyelimuti mereka. Ini adalah kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang berkumpul karena-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa rahmat ini adalah rahmat yang bersifat khusus, bukan rahmat umum yang meliputi semua makhluk, melainkan rahmat yang memberikan taufik, ketenangan, dan ampunan.
  3. "وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ" (Dan ketenangan turun kepada mereka): Sakinah adalah ketenangan hati yang Allah tanamkan di dalam jiwa. Ketika seseorang berdzikir, hatinya menjadi tenang, tidak gelisah, dan tidak cemas. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd [13]: 28:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa sakinah yang turun ini adalah buah dari keimanan dan dzikir, yang menghilangkan kegelisahan dan menggantinya dengan ketentraman.

  1. "وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ" (Dan Allah menyebut mereka di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya): Ini adalah puncak kemuliaan. Allah 'Azza wa Jalla, Yang Maha Tinggi, menyebut-nyebut nama hamba-hamba-Nya yang berdzikir di hadapan para malaikat yang mulia. Ini adalah balasan yang setimpal, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 152 di atas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa penyebutan Allah terhadap hamba-Nya di hadapan malaikat adalah bentuk pemuliaan dan penghormatan yang agung, yang tidak diberikan kepada semua orang.

Penting untuk dipahami: Keutamaan ini tidak hanya terbatas pada majelis dzikir yang formal, tetapi mencakup setiap perkumpulan yang di dalamnya ada dzikir kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur'an, mempelajari ilmu agama, atau saling mengingatkan dalam kebaikan. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa bab ini mencakup semua majelis yang di dalamnya ada ketaatan kepada Allah.

Story Telling

Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah salah satu perawi hadits ini. Suatu hari, beliau berjalan melewati sebuah pasar di Madinah. Beliau melihat orang-orang sibuk berdagang dan bertransaksi. Beliau lalu berkata kepada mereka, "Wahai penduduk pasar, kalian sibuk di sini, sementara warisan Rasulullah ﷺ sedang dibagi-bagikan di masjid!"

Mereka pun terkejut dan bertanya, "Warisan apa yang sedang dibagi-bagikan?"

Abu Hurairah menjawab, "Orang-orang yang berdzikir dan mempelajari Al-Qur'an sedang berkumpul di masjid."

Mereka pun bergegas ke masjid dan mendapati para sahabat sedang duduk berdzikir dan mempelajari Al-Qur'an. Mereka menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu di pasar. Kisah ini menunjukkan bahwa majelis dzikir dan ilmu adalah majelis yang paling berharga, lebih berharga dari segala harta dunia. (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath dengan sanad yang hasan, dan disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib).

Hikmah: Janganlah kita sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan majelis-majelis dzikir dan ilmu yang merupakan warisan para Nabi. Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini adalah sesuatu yang sangat agung dan sayang jika kita lewatkan.

Kesimpulan Praktis

Berikut adalah beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Semangat menghadiri majelis dzikir dan ilmu: Carilah majelis-majelis yang di dalamnya ada bacaan Al-Qur'an, kajian ilmu, dan dzikir kepada Allah. Ini adalah majelis yang dihadiri malaikat dan diliputi rahmat.
  2. Menghidupkan dzikir di rumah: Jika tidak bisa keluar, kita bisa menghidupkan majelis dzikir di rumah bersama keluarga, misalnya dengan membaca Al-Qur'an bersama, atau kajian rutin.
  3. Menjaga hati agar selalu berdzikir: Dzikir tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati. Perbanyaklah mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat duduk, berdiri, maupun berbaring.
  4. Mengajak orang lain untuk berdzikir: Ajaklah keluarga, teman, atau tetangga untuk bersama-sama mengingat Allah. Karena dengan berkumpul, keutamaannya lebih besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.