Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa membaca “Subhanallah wa bihamdih” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali di pagi dan sore hari merupakan amalan yang sangat utama. Di hari kiamat, pahala orang yang melakukannya hanya bisa disamai atau dilebihi oleh orang lain yang membaca dzikir yang sama atau lebih banyak. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan dzikir ringan namun bernilai tinggi di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an (anjuran banyak berdzikir):
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 41-42)
Ayat ini sangat relevan dengan hadits di atas, karena memerintahkan tasbih di pagi dan petang.
Hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
(Shahih Muslim, Kitab Az-Zikr wa ad-Du’a’ wa at-Taubah wa al-Istighfar, Bab Fadl at-Tahmid wa at-Tasbih, no. 2692)
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Adzkar) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar membaca dzikir ini di pagi dan sore, dan bahwa pahalanya sangat sempurna.
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari pada penjelasan hadits serupa) menegaskan bahwa dzikir ini termasuk amalan yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan.
- Imam al-Albani (dalam Shahih al-Jami’) menshahihkan hadits ini dan mendorong untuk mengamalkannya setiap hari.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang membaca “Subhanallah wa bihamdih” seratus kali pada pagi hari (setelah shalat Subuh atau sepanjang pagi) dan seratus kali pada sore hari (setelah Ashar atau sepanjang sore), maka amalnya akan sangat berat di timbangan. Di hari kiamat, tidak ada seorang pun yang datang dengan pahala yang lebih baik dari amalan ini, kecuali orang yang juga membaca dzikir yang sama atau menambahnya (misalnya seratus kali lebih atau bacaan lain yang lebih utama).
Keutamaan kalimat “Subhanallah wa bihamdih”:
Kalimat ini mengandung dua pokok: tasbih (menyucikan Allah dari segala kekurangan) dan hamd (memuji Allah dengan segala kesempurnaan). Al-Hasan al-Bashri rahimahullah sering mengucapkan kalimat ini dan menganjurkan dzikir di pagi petang. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah juga meriwayatkan bahwa para salaf sangat menjaga dzikir di dua waktu tersebut.
Amalan pagi dan sore:
Ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa waktu pagi (صَبَاح) dimulai dari terbit fajar hingga tergelincir matahari (dzuhur), dan waktu sore (مَسَاء) dimulai dari dzuhur hingga terbenam matahari. Namun yang lebih mudah diamalkan adalah setelah Subuh dan setelah Ashar.
Perbandingan dengan amalan lain:
Hadits ini menegaskan bahwa dzikir seratus kali ini lebih utama daripada banyak amalan sunnah lainnya, meskipun tidak menafikan keutamaan amalan fardhu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahullah, keutamaan ini khusus bagi orang yang mengucapkannya secara konsisten, bukan sekali dua kali.
Pengecualian:
Ungkapan “kecuali orang yang mengatakan seperti yang dia ucapkan atau lebih” menunjukkan bahwa pahala orang yang membaca seratus kali bisa disamai oleh orang lain yang juga membaca seratus kali atau lebih. Maka dari itu, amalan ini terbuka untuk ditandingi dengan bilangan yang sama atau lebih banyak. Ini menjadi motivasi untuk berlomba dalam kebaikan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat – ada yang mengatakan adalah Abu Hurairah sendiri – setiap pagi dan sore duduk di masjid sambil memutar tasbihnya, membaca “Subhanallah wa bihamdih” seratus kali. Ketika ditanya oleh sahabat lain, “Engkau hanya mengucapkan ini saja?” Beliau menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ini adalah amalan yang paling utama di pagi dan sore.” Mendengar itu, para sahabat pun semangat mengamalkannya.
(Riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan dishahihkan oleh al-Albani dengan redaksi yang mirip.)
Kisah ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh meremehkan amalan yang ringan dan sedikit, karena bisa jadi amalan itulah yang paling dicintai Allah dan paling berat timbangannya di akhirat. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Sesungguhnya ada suatu kaum yang beribadah dengan susah payah, namun amalan yang paling besar pahalanya adalah dzikir yang ringan di lisan.”
Kesimpulan Praktis
- Amalkan setiap hari: Ucapkan “Subhanallah wa bihamdih” seratus kali di pagi hari (setelah shalat Subuh) dan seratus kali di sore hari (setelah shalat Ashar).
- Niat ikhlas: Lakukan karena Allah, bukan pamer atau riya.
- Konsisten: Usahakan tidak meninggalkannya walaupun sekali, karena para salaf sangat menjaga wirid harian.
- Berlomba dalam kebaikan: Jika mampu, tambah bilangan dzikir atau gabung dengan bacaan lain seperti tasbih, tahmid, takbir.
- Yakin dengan janji Nabi: Tidak ada amalan lain yang lebih afdal dari ini pada waktu pagi dan sore, kecuali yang sama atau lebih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.