Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan betapa besar rahmat dan karunia Allah kepada hamba-Nya. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali bahkan lebih, sedangkan keburukan hanya dibalas setimpal atau diampuni. Selain itu, Allah begitu dekat dengan hamba yang mendekat kepada-Nya, bahkan jika seorang hamba datang kepada-Nya dengan penuh dosa sepenuh bumi namun tidak menyekutukan-Nya, Allah akan menyambutnya dengan ampunan yang seluas itu. Ini semua menunjukkan betapa Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
- QS. Al-An'am [6]: 160
مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ
“Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya; dan barangsiapa datang dengan (membawa) kejahatan, maka ia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”
- QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلۡ يَـٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Az-Zikir, Ad-Du’a, at-Taubah, wal-Istighfar, bab Keutamaan Zikir, Doa, dan Mendekat kepada Allah Ta’ala (no. 2687), dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.
Ulama yang menjelaskan hadits ini antara lain:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menyebutkan bahwa makna “Aku mendatanginya dengan berlari” adalah bentuk kemurahan dan kecepatan Allah dalam menyambut hamba yang datang kepada-Nya dengan ketaatan dan keikhlasan.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya rahmat Allah, di mana Dia membalas kebaikan dengan berlipat ganda, dan jika hamba mendekat kepada-Nya, Allah lebih mendekat lagi.
- Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (dalam tafsirnya) mengaitkan hadits ini dengan ayat-ayat tentang pengampunan dan pahala berlipat, menegaskan bahwa keutamaan ini tergantung pada iman dan tauhid.
Penjelasan Rinci
Hadits qudsi ini berisi beberapa kabar gembira bagi setiap muslim. Pertama, tentang balasan kebaikan: satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat bahkan lebih, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-An’am [6]: 160. Imam an-Nawawi menukil penjelasan dari ulama bahwa “lebih” itu mencakup tambahan yang tidak terbatas, bisa sampai 700 kali lipat atau bahkan lebih, tergantung keikhlasan dan manfaat kebaikan tersebut.
Kedua, tentang balasan keburukan: hanya dibalas setimpal atau diampuni. Ini menunjukkan keadilan dan rahmat Allah. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan bahwa makna “atau Aku mengampuni” adalah jika Allah menghendaki, Dia bisa mengampuni tanpa adzab. Qatadah menjelaskan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, dan Dia Maha Pemurah.
Ketiga, tentang kedekatan Allah dengan hamba-Nya. Jika seorang hamba mendekat kepada Allah dengan ketaatan sejengkal, Allah mendekat kepadanya dengan rahmat dan pertolongan-Nya sehasta. Demikian seterusnya hingga jika hamba datang kepada-Nya berjalan, Allah akan mendatanginya dengan berlari. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan (tamtsil) untuk menggambarkan betapa cepat dan besarnya rahmat Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri.
Keempat, tentang pengampunan dosa yang besar. Siapa yang datang kepada Allah dengan dosa sepenuh bumi, namun ia tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan yang seluas itu. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari mengutip hadits ini untuk menunjukkan bahwa tauhid adalah syarat utama diterimanya amal dan pengampunan. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Barangsiapa yang bertauhid kepada Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.”
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang lelaki yang banyak berbuat dosa. Ketika hendak mati, ia berwasiat kepada keluarganya: “Jika aku mati, bakarlah jasadku, lalu taburkanlah abuku di tengah laut.” Ia melakukan itu karena takut kepada Allah dan mengira bahwa Allah tidak akan mengampuninya. Namun Allah Yang Maha Pengasih memerintahkan bumi dan laut untuk mengumpulkan kembali jasadnya, lalu mengampuni dosa-dosanya karena ia tidak menyekutukan Allah. Inilah contoh nyata dari sabda Nabi dalam hadits ini: “Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tetapi tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku akan menemuinya dengan ampunan yang seluas itu.”
(HR. Muslim no. 2756 – dalam kitab at-Taubah)
Kisah ini menunjukkan bahwa pintu taubat terbuka lebar selama seseorang belum mencabut nyawanya. Imam an-Nawawi berkata, “Hadits ini memotivasi untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan bahwa tauhid adalah kunci keselamatan.”
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak kebaikan walau kecil, karena Allah melipatgandakannya.
- Jangan remehkan dosa, tapi jangan putus asa dari rahmat Allah; segera bertaubat.
- Dekatlah kepada Allah dengan ibadah, zikir, dan doa; niscaya Allah akan lebih dekat lagi kepada kita.
- Jaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun; itulah jaminan ampunan.
- Jadilah hamba yang optimis terhadap rahmat dan kemurahan Allah, bukan malah berputus asa dari pengampunan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.