Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa cinta atau benci kepada "pertemuan dengan Allah" (yakni kematian dan perjumpaan dengan-Nya di akhirat) adalah cerminan keadaan hati seorang hamba. Siapa yang hatinya rindu kepada Allah dan siap menghadap-Nya, maka Allah pun mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, siapa yang membenci dan takut menghadap Allah karena cinta dunia, maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ankabut [29]: 5
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Terjemahan: "Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Zikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه. Sanadnya: Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abu 'Amir al-Asy'ari, dan Abu Kuraib → Abu Usamah → Buraid → Abu Burdah → Abu Musa → Nabi ﷺ.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "pertemuan dengan Allah" adalah kematian dan kehidupan setelahnya, serta apa yang Allah siapkan bagi hamba-Nya berupa pahala atau siksa.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa cinta dan benci di sini berkaitan dengan kesiapan hati menghadap Allah, bukan semata takut mati secara tabiat manusia.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa orang yang hatinya terikat dunia akan berat menghadap Allah, sedangkan orang yang hatinya terikat akhirat akan rindu.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini berbicara tentang keadaan hati seorang hamba terhadap "liqa' Allah" (pertemuan dengan Allah). Para ulama dari daftar yang disebutkan memahami "liqa' Allah" dengan beberapa makna yang saling melengkapi:
- Kematian — karena dengan mati, seseorang berpindah dari dunia menuju kehidupan akhirat dan berjumpa dengan balasan Allah.
- Perjumpaan dengan Allah di akhirat — berupa hisab, pahala, dan bagi orang beriman, melihat Allah di surga.
- Kesiapan hati menghadap Allah — bukan sekadar takut mati secara naluri, tetapi keadaan hati yang rindu atau berat.
Penjelasan Imam an-Nawawi:
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini tidak berarti setiap orang yang secara tabiat takut mati dihukumi sebagai pembenci pertemuan dengan Allah. Sebab, Nabi ﷺ sendiri pernah bersabda bahwa beliau tidak suka jika harus memilih, namun beliau tetap mencintai pertemuan dengan Allah. Yang dimaksud "benci" di sini adalah:
- Tidak suka menghadap Allah karena terlalu cinta dunia.
- Tidak siap dengan amal saleh.
- Berpaling dari akhirat dan sibuk dengan dunia.
Sedangkan "cinta" adalah keadaan hati yang rindu kepada Allah, siap dengan amal, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:
Ibnu Hajar menambahkan bahwa cinta kepada pertemuan dengan Allah muncul dari keimanan yang kuat, mengenal Allah dengan benar, dan rindu kepada pahala-Nya. Adapun benci kepada pertemuan dengan Allah muncul dari kelalaian, cinta dunia, dan tidak adanya persiapan.
Penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali:
Ibn Rajab menjelaskan bahwa orang yang mencintai pertemuan dengan Allah akan dimudahkan saat sakaratul maut, karena hatinya sudah terikat kepada Allah. Sedangkan orang yang membenci pertemuan dengan Allah akan merasa berat dan gelisah saat menghadapi kematian.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama menjelaskan bahwa "cinta" dan "benci" di sini bersifat timbal balik: cinta hamba kepada Allah menyebabkan Allah mencintai perjumpaan dengannya, dan benci hamba menyebabkan Allah membenci perjumpaan dengannya. Ini bukan berarti Allah memiliki sifat benci yang sama seperti makhluk, tetapi ini adalah sifat yang layak bagi Allah sesuai keagungan-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa bahwa sifat-sifat Allah seperti cinta dan benci adalah sifat yang hakiki dan layak bagi-Nya, tidak menyerupai makhluk.
Yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini mendorong hamba untuk mempersiapkan diri menghadap Allah dengan amal saleh, memperbaiki hati, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Ini adalah pemahaman yang disepakati oleh Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Rajab.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang yang dikenal sangat rindu kepada Allah dan sering berdoa dengan doa yang penuh harap kepada-Nya. Beliau pernah berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku mencintai pertemuan dengan-Mu, maka cintailah pertemuan denganku."
Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang makna hadits ini. Beliau menjawab bahwa orang yang mencintai pertemuan dengan Allah adalah orang yang hatinya tidak terikat kepada dunia, dan siap menghadap Allah dengan amal saleh. Sedangkan orang yang membenci pertemuan dengan Allah adalah orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia dan lalai dari akhirat.
Hikmah: Cinta kepada Allah dan rindu kepada-Nya adalah tanda keimanan yang kuat. Sebaliknya, cinta dunia yang berlebihan akan membuat hati berat menghadap Allah.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki hati — jadikan cinta kepada Allah dan rindu kepada akhirat sebagai tujuan utama, bukan cinta dunia.
- Persiapkan diri — perbanyak amal saleh, istighfar, dan taubat sebagai bekal menghadap Allah.
- Jangan takut mati — bagi orang beriman, kematian adalah pintu menuju perjumpaan dengan Allah yang penuh rahmat.
- Hindari cinta dunia berlebihan — karena cinta dunia yang berlebihan akan membuat hati berat menghadap Allah.
- Berdoa kepada Allah — mintalah agar Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai pertemuan dengan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.