Penjelasan Hadits Muslim No. 2685 tentang Cinta atau benci pertemuan dengan Allah saat kematian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa cinta atau benci kepada "pertemuan dengan Allah" (yakni kematian yang membawa kepada perjumpaan dengan-Nya) adalah tanda keadaan hati seorang hamba. Namun Ummul Mukminin 'Aisyah رضي الله عنها menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar rasa takut mati yang ada pada setiap manusia, melainkan keadaan saat ruh dicabut: ketika seseorang lebih memilih perjumpaan dengan Allah daripada dunia, atau sebaliknya lebih membenci perjumpaan itu karena terlalu cinta dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab az-Zikir wad-Du'a wat-Taubah wal-Istighfar, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, dan disampaikan pula penjelasan 'Aisyah رضي الله عنها.

Teks hadits (potongan pokok):

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

"Siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuannya; dan siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah pun membenci pertemuannya."

Penjelasan 'Aisyah رضي الله عنها:

وَلَكِنْ إِذَا شَخَصَ الْبَصَرُ، وَحَشْرَجَ الصَّدْرُ، وَاقْشَعَرَّ الْجِلْدُ، وَتَشَنَّجَتِ الأَصَابِعُ، فَعِنْدَ ذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

"Akan tetapi apabila mata telah terbelalak (menatap kosong), dada telah berbunyi (nafas tersengal), kulit telah menggigil, dan jari-jemari telah mengkerut — maka pada saat itulah siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuannya; dan siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah membenci pertemuannya."

Ayat yang berkaitan dengan tema ini, di antaranya firman Allah:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

QS. Ali 'Imran [3]: 185

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."

Penjelasan Rinci

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "liqâ' Allah" di sini adalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya, yaitu perjumpaan hamba dengan Rabb-nya pada hari Kiamat. Beliau menegaskan bahwa hadits ini bukan berarti setiap rasa takut mati dihukumi sebagai kebencian kepada Allah, karena rasa takut mati adalah tabiat manusia. Yang menjadi ukuran adalah keadaan hati pada saat ruh dicabut.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa "cinta kepada pertemuan dengan Allah" muncul pada orang yang hatinya tenang, ridha, dan rindu kepada pahala Allah, sedangkan "benci kepada pertemuan dengan Allah" muncul pada orang yang hatinya masih terikat kepada dunia, lalai dari akhirat, dan tidak siap menghadap Allah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa cinta dan benci di sini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi keadaan batin yang tampak pada saat-saat terakhir kehidupan. Orang yang semasa hidupnya beriman, beramal saleh, dan rindu kepada Allah, akan dikuatkan hatinya saat sakaratul maut sehingga ia mencintai perjumpaan itu. Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia dan lalai dari akhirat, akan merasa berat dan benci menghadapi kematian.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa kecintaan kepada perjumpaan dengan Allah adalah buah dari keimanan yang benar dan amal saleh, sedangkan kebencian kepadanya adalah tanda hati yang sakit dan terlalu condong kepada dunia.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami hadits ini secara zhahir sehingga menimbulkan kekhawatiran (seperti yang dialami Shuraih bin Hani'), namun penjelasan 'Aisyah رضي الله عنها — yang merupakan istri Nabi ﷺ dan lebih mengetahui maksud sabda beliau — menjadi penjelas yang paling kuat, yaitu bahwa yang dimaksud adalah keadaan saat sakaratul maut, bukan rasa takut mati yang wajar ada pada setiap manusia.

Story Telling

Kisah ini sendiri adalah pelajaran berharga. Shuraih bin Hani' رحمه الله, seorang tabi'in, ketika mendengar hadits ini dari Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau merasa gelisah dan berkata: "Jika demikian, kami akan binasa!" Karena beliau menyangka setiap orang yang takut mati berarti membenci pertemuan dengan Allah.

Maka beliau menemui Ummul Mukminin 'Aisyah رضي الله عنها dan menyampaikan kegelisahannya. 'Aisyah رضي الله عنها — yang dididik langsung oleh Nabi ﷺ dan dikenal sebagai wanita paling faqih di zamannya — menjawab dengan tenang: "Orang yang binasa adalah orang yang binasa karena perkataan Rasulullah ﷺ (yakni yang menyimpangkannya)." Lalu beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah keadaan saat ruh dicabut: mata terbelalak, dada tersengal, kulit menggigil, dan jari-jemari mengkerut. Pada saat itulah diketahui siapa yang hatinya benar-benar mencintai perjumpaan dengan Allah dan siapa yang membencinya.

Hikmahnya: ilmu harus diambil dari ahlinya, dan kegelisahan dalam memahami dalil hendaknya diselesaikan dengan bertanya kepada orang yang berilmu, bukan dengan menolak dalil atau menyimpangkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak mengingat akhirat dan jangan terlalu terikat kepada dunia, karena kecintaan kepada dunia adalah penghalang cinta kepada perjumpaan dengan Allah.
  2. Bertaubat dan beramal saleh agar hati menjadi tenang dan ridha ketika menghadapi kematian.
  3. Jangan berputus asa hanya karena merasa takut mati, karena rasa takut mati adalah tabiat manusia; yang penting adalah memperbaiki keadaan hati dan bersiap sejak sekarang.
  4. Belajarlah ilmu dari ahlinya dan jangan menyimpangkan dalil dengan pemahaman sendiri, sebagaimana kisah Shuraih bin Hani' dengan 'Aisyah رضي الله عنها.
  5. Berdoalah agar Allah menjadikan kita termasuk hamba yang rindu berjumpa dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?