Penjelasan Hadits Muslim No. 2684 tentang Cinta dan benci bertemu Allah menentukan sikap Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa cinta atau benci kepada "pertemuan dengan Allah" bukan sekadar soal takut mati, tetapi tergantung keadaan hati saat menerima kabar dari Allah. Mukmin yang hatinya lapang ketika mendengar rahmat, keridhaan, dan surga akan mencintai pertemuan dengan Allah; sedangkan orang kafir yang hatinya sempit ketika mendengar azab dan kemurkaan akan membenci pertemuan itu. Jadi ukurannya adalah iman dan keadaan hati, bukan semata rasa takut mati yang dirasakan semua manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Zikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan), dari Zurarah, dari Sa'd bin Hisyam.

Teks hadits:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ». فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. فَقَالَ: «لَيْسَ كَذَلِكِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ».

Terjemahan ringkas: "Siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya; dan siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah membenci pertemuan dengannya." Aisyah bertanya: "Wahai Nabi Allah, apakah itu kebencian terhadap kematian? Kami semua membenci kematian." Beliau menjawab: "Bukan demikian. Akan tetapi seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridhaan-Nya, dan surga-Nya, ia mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir, apabila diberi kabar dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya, ia membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya."

Ayat yang berkaitan dengan tema ini, di antaranya firman Allah:

وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

QS. Ali 'Imran [3]: 143 — "Dan sungguh, kamu dahulu menginginkan kematian sebelum kamu menghadapinya; maka sungguh, kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya."

Juga firman Allah:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

QS. Ali 'Imran [3]: 185 — "Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyentuh satu hakikat iman yang sangat halus: hubungan antara keadaan hati seorang hamba dengan kecintaan atau kebencian Allah kepadanya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "pertemuan dengan Allah" di sini adalah pertemuan di akhirat, yaitu saat ruh berpisah dari jasad dan berjumpa dengan Rabb-nya, kemudian dibangkitkan untuk menerima balasan. Beliau juga menegaskan bahwa cinta dan benci di sini bukan sifat makhluk yang menyerupai Allah, melainkan kecintaan dan kebencian yang layak bagi Allah sesuai keagungan-Nya, sebagaimana dipahami Ahlus Sunnah.

Imam an-Nawawi juga menjelaskan bahwa pertanyaan Aisyah radhiyallahu 'anha menunjukkan pemahaman beliau yang cerdas: beliau mengira "benci bertemu Allah" berarti takut mati, karena semua manusia secara tabiat takut mati. Maka Nabi ﷺ mengoreksi pemahaman itu dengan penjelasan yang sangat penting: yang dimaksud bukan rasa takut mati yang alami, tetapi keadaan hati ketika menerima kabar dari Allah.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa tanda cinta kepada pertemuan dengan Allah adalah hati yang lapang, rindu, dan siap menghadap-Nya, disertai amal saleh dan taubat. Sedangkan tanda benci adalah hati yang berpaling, berat untuk beribadah, dan lebih condong kepada dunia. Beliau juga menukil bahwa sebagian salaf berkata: "Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka kematian adalah kekasihnya; dan barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka kematian adalah sesuatu yang dibencinya."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang hakikat kematian menjelaskan bahwa mukmin yang benar imannya akan merindukan pertemuan dengan Allah karena ia tahu bahwa di balik kematian ada rahmat, keridhaan, dan surga. Adapun orang kafir, ia membenci pertemuan itu karena ia tahu (atau diberi kabar) bahwa di baliknya ada azab dan kemurkaan. Jadi ukurannya adalah keadaan iman, bukan sekadar rasa takut mati.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kecintaan kepada pertemuan dengan Allah lahir dari kecintaan kepada Allah itu sendiri. Barangsiapa mencintai Allah, ia akan mencintai pertemuan dengan-Nya; dan barangsiapa berpaling dari Allah, ia akan membenci pertemuan dengan-Nya. Beliau juga menegaskan bahwa "kabar gembira" yang diterima mukmin saat menjelang kematian adalah kabar tentang rahmat dan surga, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

QS. Fussilat [41]: 30 — "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'"

Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, salah satu perawi hadits ini dan seorang tabi'in yang mulia, dikenal sebagai ahli tafsir yang mendalam. Beliau menjelaskan bahwa mukmin yang hatinya bersih akan merasa senang ketika mendengar kabar tentang surga, sehingga ia mencintai pertemuan dengan Allah. Adapun orang kafir, hatinya gelap dan penuh kedurhakaan, sehingga ketika mendengar azab, ia semakin membenci pertemuan itu.

Perlu dicatat: rasa takut mati yang alami (seperti yang dirasakan Aisyah dan semua manusia) bukanlah kebencian yang tercela. Bahkan Nabi ﷺ sendiri pernah merasa berat saat sakaratul maut, dan itu bukanlah bentuk kebencian kepada Allah. Yang tercela adalah kebencian yang lahir dari kekufuran dan berpaling dari Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang kematian, dan beliau menjawab dengan tenang bahwa kematian adalah pintu pertemuan dengan Allah. Beliau sendiri menghadapi ujian yang berat dalam hidupnya, namun hatinya tetap lapang dan rindu kepada Allah. Ketika beliau wafat, para ulama dan murid-muridnya menyaksikan bahwa beliau menghadapi kematian dengan ketenangan, karena beliau termasuk orang yang mencintai pertemuan dengan Allah.

Kisah lain dari Fudail bin 'Iyadh, seorang ulama besar yang dahulu pernah menjadi perampok, kemudian bertaubat dan menjadi ahli ibadah. Beliau berkata bahwa setelah taubatnya, hatinya selalu rindu kepada Allah dan tidak takut menghadapi kematian, karena ia yakin bahwa di balik kematian ada rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa cinta kepada pertemuan dengan Allah lahir dari hati yang bersih dan iman yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki hati, bukan hanya amal lahir. Cinta kepada pertemuan dengan Allah lahir dari hati yang bersih, iman yang benar, dan kecintaan kepada Allah.
  2. Jangan salah paham tentang takut mati. Rasa takut mati yang alami bukanlah kebencian yang tercela. Yang tercela adalah kebencian yang lahir dari kekufuran dan berpaling dari Allah.
  3. Rindu kepada surga dan rahmat Allah. Perbanyak mengingat akhirat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa agar Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai pertemuan dengan-Nya.
  4. Bertaubat dan beramal saleh. Tanda cinta kepada pertemuan dengan Allah adalah taubat yang sungguh-sungguh dan amal saleh yang istiqamah.
  5. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Mukmin yang berdosa tetap dianjurkan berharap kepada rahmat Allah, karena kabar gembira itu datang bagi orang-orang yang beriman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?