Penjelasan Hadits Muslim No. 2683 tentang Cinta bertemu Allah tanda cinta Allah padanya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa cinta bertemu Allah adalah tanda keimanan dan akhir yang baik, sedangkan benci bertemu Allah adalah tanda kebencian kepada kematian yang hakikatnya adalah kebencian kepada akhirat. Makna "Allah membenci pertemuan dengan hamba-Nya" bukan berarti Allah membenci hamba tersebut secara mutlak, melainkan membenci amal buruknya yang menyebabkan ia tidak siap bertemu dengan-Nya. Hadits ini juga menjelaskan bahwa rasa sakitnya sakaratul maut tidak bertentangan dengan cinta bertemu Allah, karena hal itu adalah ujian terakhir yang akan dihapuskan dosa-dosa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits yang Anda berikan sudah lengkap dan benar. Berikut terjemahannya: Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Allah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya." (HR. Muslim no. 2683)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Penjelasan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah balasan yang setimpal. Barangsiapa yang senang bertemu Allah dalam arti senang beramal saleh dan siap menghadap-Nya, maka Allah akan senang memberinya pahala dan kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang benci bertemu Allah karena ia benci kepada kematian dan tidak menyiapkan bekal, maka Allah akan membenci pertemuannya itu dengan tidak memberinya kebaikan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa makna penting:

Pertama, cinta bertemu Allah adalah cinta kepada kematian yang membawa kepada perjumpaan dengan-Nya. Namun perlu dipahami, cinta ini bukan berarti seseorang tidak merasakan sakitnya sakaratul maut. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa rasa sakit saat pencabutan nyawa tidak bertentangan dengan cinta bertemu Allah, karena hal itu adalah ujian terakhir yang akan menghapus dosa-dosa.

Kedua, makna "Allah membenci pertemuan dengannya" perlu dipahami dengan benar. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa Allah tidak membenci hamba-Nya yang mukmin secara mutlak, tetapi Allah membenci amal buruk dan keadaan hamba tersebut yang menyebabkan ia tidak siap bertemu dengan-Nya. Ini seperti firman Allah tentang orang-orang munafik yang tidak menyukai kematian karena takut akan azab.

Ketiga, hadits ini juga berkaitan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya, dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah membenci pertemuan dengannya." Maka Aisyah berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah ini berarti kami harus membenci kematian?" Beliau bersabda, "Bukan begitu, akan tetapi jika seorang mukmin diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridhaan-Nya, dan surga-Nya, maka ia mencintai pertemuan dengan Allah, dan Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Adapun orang kafir, jika diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia membenci pertemuan dengan Allah, dan Allah pun membenci pertemuan dengannya." (HR. Muslim)

Keempat, Syeikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa cinta bertemu Allah adalah buah dari iman yang benar dan amal saleh. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar kerinduannya kepada Allah. Sebaliknya, orang yang lalai dari mengingat Allah akan merasa berat dan takut menghadapi kematian karena ia tahu bekalnya sedikit.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (salah seorang khalifah yang dikenal kezuhudannya) menghadapi sakaratul maut, ia sedang duduk bersama anak-anaknya. Maslamah, putranya, berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak pernah berbuat zalim kepada seseorang, maka mengapa engkau menangis?" Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Wahai anakku, aku menangis karena aku akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh, bekal yang sedikit, dan aku tidak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka."

Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu ulama dan pemimpin yang sangat zuhud, ia tetap merasakan beratnya menghadapi kematian. Namun, karena imannya yang kuat dan amalnya yang saleh, ia termasuk orang yang mencintai pertemuan dengan Allah. Rasa takut dan harap yang seimbang adalah tanda keimanan yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak amal saleh dan persiapan bekal untuk menghadap Allah, karena itulah tanda cinta bertemu dengan-Nya.
  2. Jangan membenci kematian secara mutlak, karena kematian adalah pintu menuju pertemuan dengan Allah bagi orang beriman.
  3. Jika merasa berat menghadapi kematian, perbanyaklah taubat dan istighfar, serta perbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.
  4. Pahami bahwa rasa sakit saat sakaratul maut adalah ujian terakhir yang akan menghapus dosa-dosa orang mukmin.
  5. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?