Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan larangan Nabi ﷺ untuk berdoa meminta kematian, meskipun seseorang sedang tertimpa musibah atau sakit yang sangat berat. Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia, sedang merasakan sakit yang luar biasa hingga ia diobati dengan cara dikauter (dibakar dengan besi panas) sebanyak tujuh kali di perutnya. Namun, karena ingat larangan Rasulullah ﷺ, ia menahan diri dan tidak berdoa meminta kematian. Ini adalah pelajaran tentang kesabaran dan adab seorang muslim dalam menghadapi ujian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah bagian dari riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ad-Du'a wa At-Taubah wa Al-Istighfar (Doa, Taubat, dan Istighfar), Bab Karāhah Tamannī Al-Maut li Dhurrin Nazala bih (Bab Kebencian Menginginkan Kematian Karena Musibah yang Menimpanya). Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan, dan Allah memerintahkan kita untuk bersabar serta tidak berputus asa.
Hadits Pendukung Lainnya:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
"Janganlah salah seorang dari kalian berharap mati karena musibah yang menimpanya. Jika ia terpaksa (ingin berdoa), hendaklah ia mengucapkan: 'Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa larangan ini adalah larangan makruh (tidak disukai) bahkan bisa sampai haram jika disertai rasa tidak sabar dan benci terhadap takdir Allah. Mereka menekankan bahwa seorang mukmin harus ridha dengan ketentuan Allah dan memohon kebaikan dalam segala keadaan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Larangan Berdoa Meminta Kematian: Hadits ini dengan tegas menunjukkan larangan Nabi ﷺ untuk meminta kematian. Larangan ini bersifat umum, baik karena sakit, kemiskinan, atau musibah lainnya. Imam An-Nawawi berkata, "Adapun sebab larangan meminta mati adalah karena hal itu menunjukkan ketidaksabaran dalam menghadapi ujian dan tidak ridha dengan qadha Allah. Padahal, hidup adalah kesempatan untuk beribadah dan bertaubat."
- Hikmah Larangan Tersebut: Larangan ini bukan berarti kita tidak boleh merasa sakit atau sedih. Justru, Islam mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa meminta kematian adalah bentuk pelarian dari ujian, sedangkan seorang mukmin seharusnya menjadi pejuang yang tabah. Sakit dan ujian adalah cara Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya dan menghapus dosa-dosanya.
- Adab Berdoa Saat Tertimpa Musibah: Jika seseorang merasa sangat berat dengan ujiannya, ia tidak dilarang untuk mengeluh kepada Allah dalam doa. Namun, doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah meminta yang terbaik, yaitu dengan lafadz: "Allahumma ahini ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li" (Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku). Ini adalah doa yang penuh tawakal, menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Allah.
- Sikap Khabbab bin Al-Arat: Kisah Khabbab ini adalah bukti nyata bagaimana para sahabat sangat berpegang teguh pada ajaran Nabi ﷺ. Meskipun menderita sakit yang teramat sangat hingga harus dikauter tujuh kali, ia tetap menahan keinginan hatinya untuk berdoa meminta kematian. Ini menunjukkan ketaatan yang sempurna dan keyakinan yang kuat bahwa apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah yang terbaik.
Story Telling
Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam. Ia adalah seorang budak yang disiksa dengan sangat kejam oleh majikannya, Ummu Anmar, karena keislamannya. Mereka membakar punggungnya dengan besi panas hingga dagingnya gosong. Namun, ia tetap teguh pendirian.
Dalam riwayat lain, ketika sakit di akhir hayatnya, Khabbab berkata, "Sungguh, aku tidak mengetahui seorang pun di muka bumi ini yang lebih berat ujiannya daripada kami, para sahabat Rasulullah ﷺ. Kami tidak mendapati jalan keluar hingga datanglah pertolongan Allah." Ini menunjukkan bahwa ujian yang ia alami sepanjang hidupnya sangatlah berat. Namun, ia tetap sabar dan tidak pernah sekalipun berdoa meminta kematian karena ingat larangan Nabi ﷺ.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian adalah ciri keimanan yang kuat. Khabbab tidak hanya sabar saat disiksa di jalan dakwah, tetapi juga saat sakit yang mendekati ajalnya. Ia menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Berdoa Meminta Kematian: Hindari berdoa atau berharap mati karena kesulitan hidup, sakit, atau musibah. Ini adalah perbuatan yang dilarang.
- Perbanyak Doa Kebaikan: Gantilah keinginan tersebut dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu meminta hidup atau mati dalam keadaan yang terbaik menurut Allah.
- Yakinilah Hikmah Ujian: Sadarilah bahwa setiap ujian dari Allah pasti memiliki hikmah, baik untuk menghapus dosa, mengangkat derajat, atau sebagai ujian kesabaran.
- Teladani Kesabaran Sahabat: Jadikan kisah Khabbab dan para sahabat lainnya sebagai teladan dalam menghadapi cobaan. Mereka adalah generasi terbaik yang paling berat ujiannya, namun paling sabar dan tawakalnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.