Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menyukai memulai dari sisi kanan dalam hal-hal yang baik dan mulia, seperti berwudhu, menyisir rambut, dan memakai sandal. Para ulama menjelaskan bahwa sisi kanan diutamakan karena kemuliaannya dalam syariat Islam. Sunnah ini ringan diamalkan namun besar pahalanya, dan mencerminkan adab seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 268), Kitab Thaharah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan sanad: Yahya bin Yahya at-Tamimi → Abu al-Ahwash → Asy'ats → ayahnya → Masruq → Aisyah.
Teks hadits:
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ وَفِي تَرَجُّلِهِ إِذَا تَرَجَّلَ وَفِي انْتِعَالِهِ إِذَا انْتَعَلَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sangat menyukai memulai dari sisi kanan dalam bersuci ketika beliau bersuci, dalam menyisir ketika beliau menyisir, dan dalam memakai sandal ketika beliau memakai sandal."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum keutamaan kanan, sebagaimana dipahami para ulama:
وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
QS. An-Nisa' [4]: 95 — "Dan kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan kebaikan. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini dipahami oleh Ibn Katsir dan As-Sa'di sebagai penegasan bahwa Allah mengetahui amal hamba dan memberi balasan terbaik; para ulama menjadikannya landasan bahwa amal kecil seperti mendahulukan kanan pun bernilai di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan pokok penting dalam bab adab: disunnahkan memulai dengan sisi kanan pada setiap perkara yang baik dan mulia, seperti wudhu, mandi, memakai pakaian, memakai sandal, menyisir, bersiwak, memotong kuku, dan semisalnya. Sebaliknya, untuk hal-hal yang mengandung kotoran atau tidak mulia — seperti membersihkan hidung, istinja', dan melepas sandal — dimulai dari sisi kiri.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa keutamaan kanan berlaku pada perkara yang bersifat tahsin (memperindah) dan takrim (memuliakan), bukan pada perkara yang bersifat imathah (menghilangkan kotoran). Beliau juga menyebut bahwa sisi kanan adalah sisi yang mulia karena Allah menulis amal kebaikan dengan tangan kanan, dan berbagai dalil lain yang menunjukkan kemuliaan kanan.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ konsisten memulai dari kanan dalam tiga hal yang disebut dalam hadits ini, dan beliau menjadikannya sebagai kebiasaan yang tetap, bukan sekadar sekali-sekali. Ini menunjukkan bahwa sunnah ini termasuk adab yang ditekankan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kata "يُحِبُّ" (menyukai) menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ yang kuat terhadap hal ini, sehingga seorang muslim hendaknya meneladani beliau. Beliau juga menegaskan bahwa mendahulukan kanan dalam berwudhu berarti memulai dari tangan kanan, kaki kanan, dan anggota tubuh kanan lainnya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan dalam penjelasan beliau tentang adab-adab Islam menambahkan bahwa sunnah ini termasuk sunan khafiyyah (sunnah yang sering dilupakan), padahal mudah diamalkan dan besar pahalanya.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: tidak ada perbedaan yang berarti dalam masalah ini. Semua sepakat bahwa mendahulukan kanan pada perkara yang mulia adalah sunnah, dan mendahulukan kiri pada perkara yang mengandung kotoran juga sunnah. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membedakan antara perkara takrim (kanan) dan imathah (kiri), sebagaimana ditegaskan an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling dekat dan paling tahu kebiasaan beliau di rumah — memperhatikan dengan teliti bagaimana Nabi ﷺ bersuci, menyisir, dan memakai sandal. Beliau menyampaikan kepada para sahabat bahwa Nabi ﷺ selalu memulai dari kanan dalam tiga hal itu. Perhatian Aisyah yang begitu rinci menunjukkan betapa beliau mencintai sunnah Nabi ﷺ dan ingin menyampaikannya kepada umat.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang pentingnya mengikuti sunnah-sunnah kecil: "Sunnah-sunnah kecil itu, jika ditinggalkan oleh suatu kaum, maka sunnah-sunnah besar pun akan ditinggalkan." (makna umum dari nasihat beliau yang dinukil dalam kitab-kitab adab). Ini menunjukkan bahwa adab mendahulukan kanan bukan perkara remeh, melainkan pintu masuk untuk menjaga sunnah-sunnah yang lebih besar.
Kesimpulan Praktis
- Mulailah dari kanan saat berwudhu: basuh tangan kanan sebelum kiri, kaki kanan sebelum kiri.
- Dahulukan kanan saat menyisir rambut, memakai pakaian, memakai sandal, bersiwak, dan memotong kuku.
- Dahulukan kiri saat membersihkan hidung, istinja', dan melepas sandal — sebagai bentuk pembedaan antara yang mulia dan yang tidak.
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak adab ini sejak dini, karena sunnah ini ringan namun berpahala.
- Jangan meremehkan amal kecil; Nabi ﷺ sendiri memperhatikan hal-hal seperti ini, dan Allah mengetahui setiap amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.