Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama (asmaul husna), dan siapa yang "menghafalnya" — yakni menghafal, memahami maknanya, dan mengamalkannya — akan masuk surga. Allah itu ganjil (witrun) dan mencintai yang ganjil. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar hafal lafazhnya, tetapi juga memahami maknanya dan beribadah kepada Allah dengannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Shahih Muslim, no. 2677, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ:
لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
"Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan Dia mencintai yang ganjil."
Dalam riwayat Ibnu Abi Umar: مَنْ أَحْصَاهَا ("siapa yang menghitungnya").
Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-A'raf [7]: 180:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik (asmaul husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
Ayat lain — QS. Taha [20]: 8:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang terbaik."
Hadits terkait — Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu; siapa yang menghitungnya (menghafal dan mengamalkannya) akan masuk surga."
Kaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "menghafalnya", Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari merinci makna "ihsha'", Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna asmaul husna, dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Bada'i al-Fawa'id membahas hubungan antara mengenal nama Allah dan ibadah.
Penjelasan Rinci
Makna "menghafal" (حَفِظَهَا / أَحْصَاهَا):
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "menghafalnya", namun kesimpulan yang kuat adalah bahwa yang dimaksud bukan sekadar menghafal lafazhnya di luar kepala. Maknanya mencakup tiga hal:
- Menghafal lafazhnya — mengetahui dan mengingat nama-nama tersebut.
- Memahami maknanya — mengerti arti dan kandungan setiap nama.
- Beribadah kepada Allah dengannya — berdoa dengan nama-nama itu, serta menyesuaikan sikap dan ibadah dengan kandungan maknanya. Misalnya, karena Allah itu Rahman (Maha Pengasih), maka seorang hamba berharap rahmat-Nya; karena Allah itu Ghafur (Maha Pengampun), maka ia memohon ampunan; karena Allah itu Sami' (Maha Mendengar), maka ia menjaga lisannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa "ihsha'" (menghitung) mencakup: menghafal, memahami, mengamalkan, dan berdoa dengannya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah istiqamah dalam beribadah kepada Allah dengan konsekuensi nama-nama tersebut.
Makna "Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil":
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "witrun" berarti Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak berbilang, dan tidak terbagi. Allah mencintai "witrun" dalam amal, seperti shalat witir, dan dalam banyak ibadah lainnya yang berjumlah ganjil. Ini menunjukkan kesempurnaan keesaan Allah dan kecintaan-Nya kepada amal yang mencerminkan keesaan tersebut.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Bada'i al-Fawa'id menyebutkan bahwa kecintaan Allah kepada yang ganjil berkaitan dengan tauhid — karena bilangan ganjil tidak bisa dibagi dua, sebagaimana Allah itu satu dan tidak terbagi.
Jumlah sembilan puluh sembilan nama:
Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan "sembilan puluh sembilan" bukan berarti nama Allah hanya terbatas pada jumlah itu. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad dan lainnya, Nabi ﷺ menyebutkan doa:
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
"Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sembilan puluh sembah nama yang disebutkan adalah nama-nama yang khusus dikenal dan dihafal, sedangkan nama-nama Allah yang lain lebih banyak lagi. Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir menyebutkan bahwa penyebutan angka sembilan puluh sembilan adalah untuk memudahkan penghafalan, bukan pembatasan.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berpendapat bahwa "menghafal" berarti sekadar menghafal lafazhnya. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa yang dimaksud mencakup menghafal, memahami, mengamalkan, dan berdoa dengannya. Ini karena iman bukan sekadar hafalan, tetapi keyakinan yang membuahkan amal.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang salaf — disebutkan dalam kisah-kisah salafus shalih — pernah ditanya tentang bagaimana ia menghafal asmaul husna. Ia menjawab: "Aku tidak hanya menghafal lafazhnya, tetapi aku jadikan setiap nama sebagai pintu ibadah. Jika aku membaca Ar-Rahman, aku ingat kasih sayang Allah dan aku berbuat baik kepada sesama. Jika aku membaca Al-Ghaffar, aku segera bertaubat. Jika aku membaca Ar-Razzaq, aku tidak lagi khawatir tentang rezeki."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menukil bahwa sebagian ulama berkata: "Barangsiapa yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, maka ia akan mencintai-Nya; dan barangsiapa yang mencintai-Nya, maka ia akan taat kepada-Nya."
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan asmaul husna — usahakan menghafal sembilan puluh sembilan nama Allah yang disebutkan dalam hadits.
- Pahami maknanya — pelajari arti setiap nama agar ibadah kita lebih dalam dan bermakna.
- Amalkan kandungannya — jadikan setiap nama sebagai motivasi untuk beribadah dan berakhlak mulia.
- Berdoa dengannya — ketika berdoa, sebutkan nama Allah yang sesuai dengan kebutuhan kita.
- Jaga shalat witir dan amal ganjil — karena Allah mencintai yang ganjil, maka hidupkan shalat witir dan amalan-amalan yang berjumlah ganjil.
- Jangan hanya berhenti pada hafalan — iman yang benar adalah yang membuahkan amal dan akhlak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.