Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2676 tentang Keutamaan banyak berzikir kepada Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa mereka yang selalu mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan, akan "mendahului" yang lain. Para ulama menjelaskan bahwa mereka mendahului dalam meraih derajat tinggi di sisi Allah, kebaikan, dan pahala, meskipun secara fisik mereka bisa saja berada di belakang. Ini adalah dorongan agar kita memperbanyak dzikir dalam setiap keadaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan berharakat. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Adz-Dzikr wa ad-Du'a wa at-Taubah wa al-Istighfar, Bab "Anjuran untuk Mengingat Allah Ta'ala" (no. 2676), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (dzikir) yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab [33]: 41)

Ayat ini memerintahkan secara langsung untuk memperbanyak dzikir, yang sejalan dengan makna hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna al-mufarridun (المفردون) dan keutamaan orang yang berdzikir. Beliau menukil beberapa pendapat ulama tentang makna kata tersebut. Ini menunjukkan perhatian ulama dalam menjelaskan hadits ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat tentang makna kata al-mufarridun (المُفَرِّدُونَ) dalam hadits ini. Namun, Nabi ﷺ sendiri yang memberikan tafsirnya dalam lanjutan hadits, yaitu "orang-orang yang banyak mengingat Allah, laki-laki maupun perempuan." Ini adalah penafsiran paling otoritatif.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna al-mufarridun:

  1. Pendapat pertama (yang dipilih oleh Imam an-Nawawi dan kebanyakan ulama): Mereka adalah orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah. Ini adalah makna yang disebutkan langsung oleh Nabi ﷺ dalam hadits.
  2. Pendapat lain yang dinukil: Ada yang mengatakan mereka adalah orang-orang yang "menyendiri" (tafarrada) dalam beribadah, atau orang-orang yang zuhud dari dunia. Namun, penafsiran Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah yang paling tepat dan menjadi pegangan utama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir adalah makanan hati dan ruh. Jika seorang hamba tidak berdzikir, ia bagaikan orang yang kelaparan. Beliau juga menekankan bahwa dzikir yang paling utama adalah yang dilakukan dengan hati dan lisan secara bersamaan, serta sesuai dengan tuntunan syariat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah berdzikir yang banyak dalam ayat di atas mencakup dzikir dengan hati (merenungkan kebesaran Allah), dzikir dengan lisan (bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir), dan dzikir dalam segala keadaan.

Makna "mendahului" dalam hadits ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, adalah mereka mendahului dalam meraih:

  • Derajat yang tinggi di sisi Allah
  • Ampunan dan rahmat
  • Ketenangan hati
  • Pahala yang berlipat ganda

Mereka bisa saja secara fisik berada di belakang, tetapi secara hakikat dan kedudukan, mereka telah jauh di depan. Ini seperti orang yang berjalan di dunia menuju akhirat; yang paling cepat sampai bukanlah yang paling cepat jalannya, tetapi yang paling banyak bekalnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian salaf sangat memperhatikan dzikir dalam keseharian mereka. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata kepada murid-muridnya, "Perbanyaklah dzikir kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah, karena sesungguhnya kalian tidak akan pernah merasa cukup berdzikir kepada-Nya."

Beliau juga sering menasihati, "Wahai anak Adam, janganlah engkau lalai dari mengingat Allah, karena sesungguhnya dzikir itu adalah penawar bagi hati, sedangkan lalai adalah penyakitnya."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para salaf sangat memahami pentingnya dzikir sebagai kebutuhan ruhani, bukan sekadar rutinitas. Mereka menjadikan dzikir sebagai teman dalam setiap langkah, sehingga hati mereka selalu terhubung dengan Allah ﷻ.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perbanyak dzikir dalam segala keadaan — saat berjalan, bekerja, duduk, maupun berbaring. Dzikir tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu, kecuali yang dilarang syariat seperti di kamar mandi.
  2. Gabungkan dzikir hati dan lisan — hati hadir merenungkan makna, lisan mengucapkan lafazhnya. Ini adalah dzikir yang paling sempurna.
  3. Jadikan dzikir sebagai kebutuhan, bukan beban — sebagaimana tubuh butuh makan, hati butuh dzikir. Semakin sering kita berdzikir, hati akan semakin tenang dan hidup.
  4. Mulai dengan dzikir-dzikir ringan — seperti subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar, dan istighfar. Perbanyak secara bertahap.
  5. Jaga dzikir pagi dan petang — karena ini adalah dzikir yang dicontohkan Nabi ﷺ dan memiliki keutamaan besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.